banner here

70 Tahun HMI: Jangan Lunturkan Warnanya

advertise here

Oleh: Ksatriawan Zaenuddin
(Kader HMI Kom. Ahmad Dahlan)

Tentu saja seluruh masyarakat tak asing lagi mendengar nama organisasi Himpunan Mahasiswa Islam atau yang disingkat dengan nama HMI. Berdiri pada  14 Rabiul Awal 1366 H atau 5 Februari 1947 M hingga sampai sekarang masih tetap eksis. Kini organisasi tersebut, tengah melangsungkan perayaan ulang tahunnya yang tak lagi muda yang tengah berumur 70 Tahun. Jarak perbedaan berdirinya Negara Republik Indonesia hanya terpaut 2 tahun saja. Ibaratnya HMI adalah adik kandung negara Indonesia. 

Inisiatif yang sangat heroik dan superior untuk mendirikan organisasi Islam, didasari atas problematika bangsa dan negara Indonesia. Saat itu, Bangsa sedang mengalami wabah penyakit alienasi akan jati diri dan semangat bangsa, baik dari para mahasiswa, bangsa dan ummat yang membawa kelumpuhan bangsa yang begitu mendalam. Atas dasar ini, sesosok manusia yang masih belia untuk gagasan dan pergerakan revolusioner, memberanikan diri meletupkan memprakarsai berdirinya HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) pada tanggal 5 Februari 1947. Menciptakan wadah bagi generasi muda Islam, untuk mempertahankan dan berkontribusi untuk membangun Indonesia di awal kemerdekaan bangsa Indonesia. 

Sesosok manusia tersebut adalah ayahanda Lafrane Pane. Lafrane Pane juga tak sendirian dalam membentuk organisasi HMI. Bersama dengan ke-14 rekannya sesama mahasiswa di Yogyakarta saat itu. Berbagai tantangan kerap kali mengisi internal dan eksternal HMI saat itu. Mulai dari mengokohkan struktur organisasi hingga bersatu padu ikut terlibat dalam pertempuran fisik melawan kolonialisasi yang ingin merenggut kemerdekaan Indonesia. Terlibat secara aktif dan massif diberbagai sekat-sekat bangsa saat itu. Walau demikian tetap tak mengubah pendirian HMI untuk corak pemikiran keislaman dan keindonesiaan. 

Hingga sampai ini, Himpunan Mahasiswa Islam tetap eksis dalam mengisi dan mengawal lintasan sejarah dan dinamika berbangsa dan bernegara Republik Indonesia. Berbagai tokoh-tokoh nasional lahir dari rahim HMI. Mengisi jajaran strategis struktural pemerintahan baik Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif. Tak hanya dalam jajaran pemerintahan, banyak dari jeblosan HMI menjadi akademisi dan pengusaha yang juga memiliki peran strategis dalam mengembangkan dan memajukan pendidikan dan perekonomian bangsa dan negara Indonesia. Mengisi seluruh pelosok bangsa dan negara merupakan hal yang telah termaktup dalam tafsir Tujuan HMI untuk menciptakan kesejahteraan yang seadil-adilnya di Bumi Pertiwi. 

Membuka Mata: HMI Tak Segemilang Itu
Disisi lain, perlu kita membuka mata selebar-lebarnya atas kondisi yang terjadi di Negeri ini. Di perlintasan sejarah kegemilangannya, tak sedikit pula banyak kader atau alumni yang ikut memperparah dan merusak citra HMI dan bangsa Indonesia. Kompleksitas HMI tentu dapat menjadi sebuah emas, berliang dan juga dapat menjadi bumerang atas nasip HMI dan bangsa Indonesia. Kemarin, tentu kita masih berduka akan kibrah beberapa alumni dan kader yang diluar nalar, dan ajaran HMI dalam membangun dan mensejahterakan bangsa dan negara Indonesia. 

Terjerat berbagai masalah-masalah yang tentu, hal ini adalah sifatnya pribadi atau subjek. Akan tetapi dalam paradigma masyarakat, tidaklah berpikir demikan. Alhasil, ada banyak masyarakat yang mulai resah akan perbuatan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Kasus korupsi dan jeratan-jeratan lainnya, seringkali ternobatkan. 

Apalagi sampai saat ini, budaya Himpunan Mahasiswa Islam yakni membaca, menulis dan berdiskusi kini tak nampak disetiap sudut kampus dan di manapun. Berbagai wacana-wacana banyak tak terdengar lagi. Begitu pula gerakan-gerakan yang demikian statis dan kerap dekat dengan "86" suatu istilah jual beli gerakan atau  hal yang berlawanan dengan perjuangannya seutuhnya. 

Bukan lagi kader-kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang juga semakin memperparah dan memperkeruh masalah Internal dan Eksternal HMI. Tak ayal, pandangan masyarakat selalu berkata: 
HMI tidak beretika dan tidak patut dicontoh.
Kader HMI, cuma jago retorika tak ada aksi.
HMI tukang demo.
HMI licik.
HMI jarang sholat dan lain-lain.
Tentu saja, masalah-masalah ini akan merusak citra keseluruhan HMI dan seluruh pelosok sejarah gemilangan yang dilalui Himpunan Mahasiswa Islam akan tenggelam oleh gemuruh dan lebatnya berbagai cercaan masyarakat akibat ulah-ulah segelintir orang. Tentu masalah demikian, tak kita inginkan bersama, apalagi usia HMI tak lagi muda. Jika diibaratkan HMI sebagai manusia maka saat ini
HMI telah lansia.
Refleksi untuk Proyeksi di Usianya
Ditengah kegemilangan dan kegelapan baik sepanjang sejarah hingga saat ini yang diperankan oleh kader dan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), tentu harapan besar kita di hari ulang tahun kebesarannya, kita dapat berbenah diri. Segala masa-masa kelam dan kegemilangannya, dapat kita bersama-sama jadikan acuan atau batu loncatan kedepannya untuk memperbaiki dan memotivasi diri kita, seluruh kader dan alumni untuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) saat ini dan kedepannya. Berlandaskan sebagaimana kata perkata yang tertera dalam tujuan HMI (Pasal 4 AD HMI) yakni: 
Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengapdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil-makmur yang diridhoi Allah SWT. 
Walaupun banyak dari kita termasuk penulis sendiri, masih terkatung-katung dan menggantung untum mewujudkannya. Akan tetapi, tentu inilah kompleksitas Himpunan Mahasiswa Islam yang membuat kita terus berdialektika dan berdinamika dalam meraih dan mewujudkan tujuan HMI.

Sebagaimana kita ketahui, memajukan HMI adalah memajukan bangsa dan negara Indonesia, seperti yang terdapat dalam tafsir tujuan HMI. Latar belakang berdirinya HMI adalah untuk Indonesia semata-mata. Begitupula NDP yang sedimikian kompleksnya, disarikan pada tiga point utama yakni Iman, Ilmu dan Amal.  

Menekankan sikap independen etis HMI yang ditegaskan dalam pasal 6 Anggaran Dasar HMI mengemukakan secara tersurat bahwa HMI adalah organisasi yang bersifat independen baik sifat dan wataknya, sebagaik hak asasi yang pertama. Watak Independensi sebagai kepribadian kader HMI untuk selalu setia pada hati nuraninya. Memancarkan keinginan dan kebaikan, kesucian dan kebenaran untuk Allah SWT. Agar berbagai masalah primordial dan KKN yang juga banyak merasuki baik di tingkat PB, Badko, Cabang, Komisariat hingga diri kita, dapat di hapuskan secara bersama-sama. 

Meneguhkan kembali budaya HMI yang kian hari makin terperosok ke jurang degradasi. Budaya membaca, menulis dan berdiskusi harus segera digalangkan secara serentak baik di tingkat PB hingga ke ketingkat komisariat.  

Pengurus Besar HMI, harus mengambil sikap tegas, berbagai carut-marut terbengkalainya jajaran struktural baik di tingkat Pusat hingga cabang, yang banyak memakan waktu dan tentunya membuat berbagai kader terkatung-katung menunggu perintah. 

Mengaktifkan berbagai Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) yang kini di beragai cabang, sangat sulit di temukan aktivitas dari berbagai LPP tersebut. Padahal, lembaga-lembaga ini memiliki peran penting dalam menunjukkan citra HMI kepada Masyarakat. 

Menimbang kondisi zaman saat ini, perlu ada formulasi baru perkaderan HMI. Banyak kader-kader lepas, dan perilaku kita sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam. Memasukkan berbagai materi-materi sesuai dengan zaman ini. Misalnya materi kewirausahaan, TIK dan Jurnalistik mulai dari tingkat kader I. Insyallah, dapat bermanfaat bagi HMI kedepannya. Melahirkan berbagai pungusaha-pengusaha muda, berbagai ahli teknologi dan berbagai jurnalis. Akan tetapi, berbagai materi tersebut sesuai makna dari NDP itu sendiri. Sebagaimana menurut Cak Nur yang dikutip Drs. Azhari Akmal Tarigan dalam karyanya Islam Mashab HMI bahwa "NDP dapat kita tafsirkan sesuai dengan perkembangan zaman." 

Dengan demikian, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di hari ulang tahun ke 70 tahun, dapat tetap eksis, berkontestasi dan bertransformasi sesuai zaman ini yang penuh dengan dilema dan ke-ambigu-an. Apalagi kondisi bangsa yang sedang memanas, diperlukan peran vital dari kita semua sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) untuk mengawal dan menjalankan bangsa dan negara kita tercinta.  Di hari ulang tahunnya jangan biarkan ayahanda melakukan tindakan yang membuat kita malu (termasuk penulis):
Jangan biarkan Prof. Drs. Lafrane Pane menangis, melihat kondisi kita. 
Penulis juga demikian. Mari kita berikan kadoh terindah untuk ayahanda Lafrane Pane yang telah menyediakan wadah bagi kita untuk berdialektika dan berdinamika di bangsa Indonesia. Kado tersebut adalah
Segera mengokohkan pahlawan Nasional bagi ayahanda tercinta, dan memberikan diri kita bagi HMI untuk bertranformasi, berevolusi demi menjaga dan memajukan bangsa Indonesia. 
Penulis mengakhiri dengan kutipan: 
"Di hari ulang tahun HMI, jangan kita biarkan ini hanya seremonial belaka. Di telan waktu, senyuman, dan tepuk tangan busuk yang kita nodai (atau sebagian dari kita).