Senin, 13 Februari 2017

APOLOGI


Ketua PPPA HMI Kom. Ekonomi 
Unismuh Makassar Cabang Gowa Raya

Suatu ketika DR.Zakir Naik dimintai pendapat tentang orang-orang yang melakukan kekerasan atas nama agama (Islam). Beliau menjawab bahwa Islam adalah Damai. Artinya jika ada orang yang melakukan kekerasan atas nama Islam maka dia bukan Islam.

Ini Apologi

Dua minggu yang lalu, seorang Guru Besar di salahsatu Universitas Islam di kota Makassar berbicara di hadapan jama'ah sholat jumat. Dalam khutbahnya beliau mengajak kaum muda untuk menanggalkan konsep HAM ala barat. Menurutnya, jauh sebelum barat memperkenalkan Emansipasi Wanita, Islam ditangan Nabi Muhammad telah lebih dahulu mengangkat derajat perempuan. Memberikan hak waris, hak untuk menggugat suami dan lain sebagainya.

Ini Apologi

Dua hari yang lalu, dalam sebuah debat kusir yang menjurus ke adu caci maki. Salah seorang teman yang tidak sepakat dengan metode yang saya gunakan - alih-alih menunjukkan kelemahan pada metodeku - menuduh bahwa saya sebagai dogmatis, penghapal teori dan tukang copy paste.

Ini Apologi

Pada hari yang sama, dalam debat kusir yang sama. Seorang kawan yang lain yang juga tidak bersepakat dengan metode yang kugunakan - alih-alih melontarkan argumen kontra dan menunjukkan kesalahan metodeku- menyerang dengan anggapan bahwa saya tidak berani dan abai terhadap moralitas.

Ini juga Apologi

Ah, tapi Apologi itu apa sih?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Apologi /apo.lo.gi/ n = tulisan atau pembicaraan formal yang digunakan untuk mempertahankan gagasan, keyakinan, dan sebagainya ; pembelaan.

Secara Etimologi, Apologi berasal dari bahasa Yunani kuno Apologia. Apologia digunakan untuk menjawab tuntutan atau untuk membela diri. Inilah yang dimaksud oleh Plato ketika menulis "Apologia Socrates" yang bercerita tentang pembelaan gurunya atas tuduhan dari hakim yang menyebutnya menyesatkan anak muda untuk tidak menyembah Tuhan dan dewa-dewa Yunani.

Dalam tradisi Kristiani sendiri Apologi/ Apologetika berarti cabang dari Teologi yang bertujuan untuk mendidik orang kristen membela dan mempertahankan keyakinannya. Dalam perkembangannya Apologi ini menjadi ilmu pembuktian bahwa ajaran Kristen lebih unggul dan mulia dibanding ajaran sesat / kafir.

Apologi inilah yang sering kita jumpai ketika berdebat atau adu gagasan dengan orang lain. Tentunya sejauh Apologi berarti mempertahankan argumen itu bukanlah sebuah masalah. Namun sebagaimana Diskusi yang memiliki tujuan yakni kesepahaman yang darinya kita bisa menarik kesimpulan dan menentukan langkah- langkah apa yang akan diambil kedepannya sudah semestinya argumen yang dibangun juga seturut kaidah logis yang bisa dipertanggung jawabkan rasionalitasnya. 

Nah ketika Argumen telah keluar dari batas-batas logisnya, dan debat sepertinya akan berdampak pada renggangnya tali silaturahmi. Pada saat itulah, menghentikan debat lalu membuat tulisan klarifikasi ini hukumnya wajib.

Dalam sebuah tulisan tertanggal 6 Februari 1970, Sejarah Pergolakan Pemikiran Islam, Ahmad Wahib dengan nada setengah bertanya yang lalu dijawabnya sendiri mengatakan apakah ciri-ciri apologia? 
1. Kalau merasa diserang, yang bersangkutan akan menangkis tau membela diri.
2. Kalau merasa diserang, yang bersangkutan akan bikin "excuse" lebih dahulu.
3. Ada kecenderungan membangkitkan hal-hal yang lama
4. Tidak jarang mengangung agungkan masa lalu
5. Normatif
Demikianlah, dengan melihat contoh-contoh yang diperlihatkan di muka, tidak sulit bagi kita melihat jejak-jejak apologia di sana-sini. Mulai dari romantisme masa lalu versi pak Khotib (seolah solusi 14 abad yang lalu tanpa pertimbangan perubahan kondisi dan sejarah bisa digunakan siap pakai pada hari ini). kritik  Ad Hominem (Tidak menyerang argumen, yang di serang justru pribadi) hingga sikap yang melenceng jauh dari tema diskusi dengan mengajukan statement-statemen normatif. 

Inilah alasan kenapa Apologi begitu dekat dengan "Kesalahan Berpikir" sehingga kita mesti waspada dan mengenali setiap argumen yang bisa saja nampak terkesan ilmiah. Zakir naik misalnya, yang dalam beberapa negara muslim punya banyak fans dari balita hingga manula karena kemampuannya membuktikan bahwa Islam sebagai ajaran yang lebih unggul daripada agama Kristen ternyata tak lebih dari seorang Apologet kelas wahid. 

Dalam kasus diatas bisa dengan  mudahnya kita tahu bahwa Zakir Naik terjebak dalam kesalahan berpikir "False By Defenition" dimana dia menganggap telah menjawab pertanyaan hanya dengan menyodorkan defenisi saja. Namun, bukankah dalam kenyataannya ISIS, FPI dan organisasi Fundamental lainnya yang membawa nama Islam terbukti melakukan praktik kekerasan? Beliau lagi-lagi akan kembali ke defenisi bahwa Islam ya Damai. Kita harus puas tidak dapat jawaban apa-apa.

Lalu apa hubungannya ini dengan HMI?

Saya punya sedikit cerita dari Nurcholis Madjid. Konon, setelah pulangnya dari keliling negara-negara muslim di Timteng sana, Cak Nur bercerita tentang perkenalannya dengan tulisan-tulisan ulama semacam Hasan Al-Banna dari Ikhwanul Muslimin, berdiskusi dengan sejumlah Ulama besar di Arab namun akhirnya kembali dengan ketidakpuasan. 

Kenapa demikian? Menurut Cak Nur, Islam yang berada di sono tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang dianggapnya menjadi representasi masalah ummat Islam hari ini. Cak Nur melihat Islam kita sesungguhnya sedang terperosok dalam kejumudan dan hanya bertahan dengan argumen-argumen Apologetik. Nah, apologi sodara-sodara. 

Cak Nur mengatai Islamnya mereka sebagai Apologi. Singkat cerita, karena ketidak puasannya itu sekembalinya ke Indonesia terlintas di pikiran Cak Nur untuk merumuskan sebuah blueprint bagi konstruksi Islam yang berwajah Indonesia dan tidak Apologetik. Lalu lahirlah Nilai Dasar Perjuangan (NDP) sodara-sodara sekalian.

Bagi Cak Nur, Apologi ini lahir sebagai respon terhadap tidak berdayanya Ummat Islam di hadapan peradaban barat, lalu kita menghadapi serangan itu dengan memposisikan diri sebagai pihak yang lemah. Gejala ini akhirnya membawa kita ke rasa rendah diri. Memang untuk sementara Apologi bisa memberikan sedikit kepuasan dan itu membangkitkan kembali kekuatan untuk bertahan melawan invasi peradaban asing, namun karena hanya sebatas Apologi karenanya kemampuannya juga terbatas.

Begitulah kira-kira, atas alasan apa saya melakukan klarifikasi ini mungkin saja karena faktor keprihatinan. Tradisi intelektual yang harusnya tumbuh di lingkungan kita dengan diskusi, debat cerdas dan rasional belakangan ini tergusur oleh Apologi dan cacat-cacat logika yang mengikut padanya. 

Cak Nur telah berjuang untuk merumuskan sebuah sikap. Nilai Dasar Perjuangannya sodara-sodara sekalian. Harapannya, kita bisa membaca konteks lahirnya NDP dan dari sana kita bisa membangun sebuah peradaban yang tiang penyangganya adalah intelektualitas yang bertumpu pada fondasi Ilmiah dan Rasional. Namun apa daya, kini 46 tahun sejak di sahkannya sebagai pedoman kader, NDP seakan dilupakan, dibaca tanpa mengerti konteks dan diperlakukan oleh kita semua sebagai APOLOGI. Orang bilang 
"Jiwa yang sehat karena persahabatan yang terpelihara dengan baik lebih menyenangkan sekalipun nabi berteriak-teriak menyuruh kita menyampaikan apa yang benar"

BAGIKAN

Like dan Ikuti Fans Page:

0 komentar: