Sabtu, 04 Februari 2017

Bangkit dan Lawan

Oleh: Muhammad Ridwan 
(Demisioner Ketua Umum HMI Kom. Ekonomi Unismuh)

Selamat pagi kawan, semoga kita semua senantiasa berada dalam keberkahan dan lindungan yang Maha Kuasa...

Akhir-akhir ini, secara massif kita disuguhi berbagai informasi dan peristiwa destruktif yang terus menggelinding di tengah-tengah rakyat; eksploitasi, diskriminasi, perpecahan, pemiskinan terstruktur, dan berbagai terminologi-terminologi penghancur nilai-nilai kemanusian lainnya.

Hakekatnya keberadaan negara yang sejatinya sebagai medium perwujudan dalam mendistribusikan keadilan, keamanan/kenyamanan dan kesejahteraan secara merata bagi seluruh warga negara. Namun hal demikian, hanyalah dusta dan retorika formalitas penguasa sebagai penghibur harapan warga negara yang terus berharap. Teringat kata-kata dari seorang mantan presiden Amerika Serikat, John F Kennedy
Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu.
Apa yang diutarakan John F Kennedy dalam konteks dan fakta sejarah bernegara di Indonesia tidaklah relevan. Justru kita sebagai warga negara harus menolak budaya diam dan kepasrahan yang mengibiri kemanusian. Oleh karena itu, sudah semestinya dengan lantang kita katakan:
Jangan tanyakan apa yang engkau berikan kepada negara tapi tanyakanlah apa yang selama ini negara rampas darimu.
Saya pikir inilah yang lebih adil dan layak untuk dikatakan kepada penguasa yang selama ini menjadikan rakyat sebagai "sapi perah" semata tanpa belas kasih. Malapetaka yang terus di produksi oleh sebuah rezim yang tidak menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia), KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), kemiskinan dan jaminan kesejahteraan sudah sepatutnya kita memberikan kesimpulan negara telah dikuasai oligarkis yang tiran menuju pada totaliter.

Peristiwa-peristiwa destruktif tersebut tentunya tidak boleh terus didiamkan begitu saja. karena mendiamkan sebuah kezaliman sama halnya kita telah mengaminkan sebuah penindasan/ atau penderitaan dan sama halnya menggunting keadilan  ujar Iman Ali. Olehnya itu, perbedaan gagasan dan konsep tidaklah jadi soal atau penghambat dalam sebuah misi perubahan. Namun yang terpenting, kita satukan  tujuan yakni sebuah visi tatanan dunia yang manusiawi dan berkeadilan.


BAGIKAN

Like dan Ikuti Fans Page:

0 komentar: