Kamis, 09 Februari 2017

Bangkrutnya Wacana Keislaman di HMI

pmiad.blogspot.co.id

Ketua PPPA HMI Kom. Ekonomi 
Unismuh Makassar Cabang Gowa Raya

Sebagai organisasi mahasiswa yang berazaskan Islam, HMI nampaknya masih bingung dan belum mampu beranjak dari posisi teoritis yang selama ini digunakannya dalam memperkarakan realitas ummat.

Nyatanya peran wacana keislaman yang diharapkan menjadi spirit pendorong menuju masyarakat "adil makmur yang diridhoi Allah SWT" telah bangkrut dihadapan kenyataan-kenyataan yang ada. Islam Rahmatan Lil Alamin, Masyarakat madani, Islam pembela kaum Mustad'afhin kini berakhir hanya sebatas slogan siap comot yang dipakai untuk memanas-manasi anak baru pada malam-malam yang melelahkan di bangku perkaderan.

Walhasil, wacana itu hanya melayang-layang di tataran abstrak. Dioper dari satu mulut ke mulut yang lain, diulang-ulang lalu menguap setelah debat-debat panjang semalaman. Kebingungan ini berakibat pada kesenjangan antara wacana dan praktik, semakin jauhnya ideal-ideal Islam dalam benak kader dengan kondisi rill (pergulatan hidup konkret dalam masyarakat). Pada titik inilah kita bisa mafhum mengapa sampai hari ini kader-kader HMI sering absen dalam agenda-agenda gerakan akar rumput,
Berapa banyak diantara kita yang mempersoalkan penggusuran lahan yang dilakukan negara pada para petani? Se-concern apa kader-kader HMI pada perampasan ruang-ruang hidup masyarakat miskin kota? Apa keterlibatan kita dalam protes supir angkot yang terancam oleh keberadaan smart car baru-baru ini? Dimana kita ketika kelas pekerja memperjuangkan upah layak? Apa kontribusi kita dalam mendukung penuntasan pelanggaran HAM dimasa lalu? Dan kita bisa tambah daftar pertanyaannya kalau mau.
Sementara pada sisi yang lain terdapat pemandangan kontras ketika kebanyakan kader HMI lebih tertarik "bermain" di seputar issue elit, menjadi bidak dalam praktek politik patron klien. Kanda dinda. Wacana keislaman di tangan HMI sesungguhnya telah impoten jauh-jauh hari. Hal ini semakin diperkeruh oleh tindak-tanduk dan keterlibatan para elitnya yang berada sekitar pusaran politik. Namun kita tidak bisa mengalamatkan sebabnya hanya dengan menunjuk hidung si ini atau si itu.

Apa yang sesungguhnya menjadi akar permasalahan terletak dalam wacana keislaman itu sendiri. Menunjuk terdakwa hanya mengantarakan kita pada kritik atas fenomena. Itu pekerjaan orang malas dan penulis pribadi tidak sepakat dengan cara ini. Tulisan ini mencoba untuk melakukan kritik Imanen atas wacana keberislaman kita di HMI. Wacana keislaman seperti apa yang dominan disekeliling kita (kader HMI) hari ini, asumsi-asumsi apa yang terkandung di dalamnya, serta apa implikasi dari wacana tersebut. Kesanalah tulisan ini mengarah.

HMI dan Wacana Liberalisme Islam
Wacana tentang Liberalisme Islam sebenarnya telah terwakili oleh gagasan Nurcholis Madjid atau Cak Nur. Sebagai salahseorang tokoh perumus "Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI" sekaligus sosok cendikiawan yang menjadi "referensi" bagi perspektif keislaman baik dalam hal wacana maupun praktik para kader.

Tidaklah sulit bagi kita untuk menemukan corak berpikir liberal dalam setiap tulisannya. Dalam Islam kemoderenan dan Keindonesiaan kita mendapati sebuah upaya serius dari Cak Nur untuk merekonstruksi sebuah Islam yang segar yang diperlawankannya dengan Islam Jumud dan Konservatif. Dua point pokok untuk masuk kedalam wawasan keislaman Cak nur ini ialah "Modernisasi dan sekularisasi".

Dalam modernisasi Cak Nur melihat bahwa agama semestinya besifat dinamis dalam merespon perubahan-perubahan sejarah. Kemoderenan dalam hal ini industrialisasi, berlawanan dengan pandangan sementara orang yang menganggapnya sebagai biang keladi merosotnya nilai-nilai agama, Cak Nur justru melihat nilai positif dari Industri yang justru semakin memurnikan Religiositas manusia.

Religiositas murni yang dimaksud ini adalah Religiositas yang berdimensi Cultural Consumatory sebagai lawan dari praktek beragama yang instrumental (Cultural Instrumental) yakni agama yang dihayati dan diperlakukan sebagai solusi atas setiap masalah praktik sehari-hari sebagaimana kebanyakan dianut oleh masyarakat pra- moderen atau tradisional. [1]

Asumsi modernisasi ini berkaitan dengan poin selanjutnya yakni Sekularisasi. Yang terjadi dalam sekularisasi tentu bukanlah pengertian kasar tentang dihapuskannya agama dari ruang publik. Sebagaimana pandangannya tentang modernisasi, Cak Nur melihat bahwa proyek modernisasi Islam mensyaratkan kesebangunan perubahan dalam dinamisasi gerak masyarakat itu sendiri. Dalam hal ini, Politik, Ekonomi dan Sosial Budaya (pengaturan kehidupan masyarakat) sebagai hal yang bersifat duniawi tidak boleh diangkat derajatnya ke tingkat yang sakral.

Mengambil contoh pada masa-masa awal kedatangan Islam di Nusantara, Cak Nur melihat bahwa nuansa Animisme dan Dinamisme yang menjadi kepercayaan masyarakat waktu itu lambat laun coba dikikis oleh Islam. Praktik mensakralkan pohon, bebatuan dan gunung coba dipisahkan dari dimensi sakralnya yang profan dikembalikan ke derajatnya sebagai benda.

Dalam pengertian ini Sekularisasi diartikan sebagai upaya menegakkan Tauhid dengan jalan menghapuskan segala bentuk pemujaan kepada benda-benda dan menggaungkan ketundukan hanya kepada Allah satu-satunya yang harus di sakralkan. Dengan demikian menurut Cak Nur sekularisasi adalah perwujudan nyata dari monoteisme Radikal.

Implikasi dari pernyataan ini tentu saja bersinggungan dengan klaim sebagian besar umat Islam yang menganut kepatuhan tekstual atas pandangan bahwa Islam mengatur segala sisi kehidupan manusia. Bahwa dibalik anjuran tentang ibadah, Islam juga mengatur persoalan Politik, ekonomi, dan sosial budaya Umatnya.

Dengan kata lain Islam dan segala bentuk manifestasinya baik ritual maupun simbol tidak boleh dijauhkan dari publik. Dalam hal ini, ulama konservatif dan fundamentalis Religus yang menganut doktrin Daulah Islam/ Negara Islam adalah eksponen utama gerakan tersebut.

Krisis Liberalisme Islam Hari Ini
Akhir-akhir ini kita dipertontonkan dengan menguatnya gelombang Islam Politik. Sejumlah aksi yang mengatasnamakan Umat Islam dimotori oleh sejumlah ulama-ulama Konservatif. Muncullah nama-nama seperti Habib Rizieq dari Front Pembela Islam (FPI), Bahtiar Nasir, Arifin Ilham bahkan ustad Seleb semisal AA Gym juga tiba-tiba melek politik.

Gelombang protes yang disusul oleh gelombang anti-Asing (Asing dalam hal ini China) menandai kembalinya sebuah situasi kerinduan akan purifikasi Islam. Dan monentum ini benar-benar menjadi ajang unjuk gigi oleh gerakan Islam Politik.

Terlepas dari issu Pilkada DKI Jakarta dan upaya menunggangi Umat Islam dengan memanfaatkan sentimen Anti-Aseng dalam kampanye, kita patut bertanya:
Mengapa Islam Liberal yang selama beberapa dekade menghembuskan optimisme kemajuan bagi umat Islam hari ini nampak kalah angin oleh kebangkitan gerakan Islam Politik. Dan pertanyaan selanjutnya, dalam lingkup kita (HMI) dimanakah posisi HMI sebagai lembaga pergerakan dalam kondisi seperti sekarang ini? Mengapa wacana keislaman kita hari ini telah kalah oleh munculnya Fasisme Religius yan campur aduk dengan sentimen nasionalisme sempit anti Asing? Dan terakhir, mengapa- sejauh pengamatan penulis- banyak diantara kader-kader HMI yang menyebrang dan mendukung penuh gerakan Islam Politik ini?

Jawaban atas semua fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari kebangkrutan Islam Liberal itu sendiri. Muhammad Al Fayyadl dari Islam Bergerak mengatakan setidaknya ada dua penyebab mengapa Islam Liberal gagal menjawab persoalan ummat hari ini,
"Pertama, liberalisme Islam adalah proyek elite, namun dengan dampak massif. Ia digerakkan oleh sejumlah kecil intelektual Muslim dari menara gading yang merasa perlu mengajarkan pencerahan kepada umat yang dianggap sedang terpuruk dalam “kegelapan intelektual”, namun tanpa mereka sendiri terlibat dalam kerja-kerja pencerahan itu secara langsung di akar rumput. Ini menjadikan gagasan mereka terputus dari massa dan kondisi-kondisi riil umat. Sementara itu, dampak yang dihasilkan dari reaksi atas proyek ini bersifat massif. Alih-alih tercerahkan, umat menjadi korban dari pertarungan intelektual elite, yang kosakatanya jauh dari kebutuhan mereka sehari-hari. Mereka, misalnya, merasakan dampak sektarianisme akibat kegagalan pluralisme; merasakan bisingnya retorika agama di media akibat kegagalan sekularisasi. 
Kedua, liberalisme Islam percaya bahwa ide semata dapat mendinamisasi kehidupan umat Islam. Ia tidak memperhitungkan faktor-faktor lain—struktur sosial, budaya, nilai, dan kekuatan-kekuatan sosial–ekonomi—sebagai hal yang penting dari kebangkitan umat Islam. Kerja liberalisme ini parsial dan fragmentaris. Ia terkesan ingin memajukan umat Islam, namun sebatas secara intelektual. Secara kultural, sosial dan ekonomi, umat Islam di Indonesia didorong masuk ke dalam sistem sosial, ekonomi, dan kultural yang sama sekali asing—kapitalisme neoliberal—yang justru memperpuruk umat Islam sendiri. 
Liberalisme Islam mengalami krisis, bukan karena mereka tak lagi memiliki Founding atau dukungan finansial, tetapi karena ranah dan infrastruktur gagasannya telah goyah. Krisis sosial, ekonomi, dan politik yang dihadapi umat Islam di Indonesia tak memungkinkan liberalisme ini menjadi satu-satunya acuan berislam yang tepat. Liberalisme ini menjadi bagian dari krisis itu sendiri".[2]
Kegagalan Islam Liberal untuk melakukan sekularisasi diruang publik disambut dengan kebangkitan dari fundamentalisme Islam. Kegagalan ini juga melahirkan satu wajah Islam yang lain, yakni Islam Moderat. Islam jenis ini mencoba mensintesiskan antara Islam tipe Fundamentalis dan Juga Islam Liberal dari beberapa segi. Dari kaum Liberal mereka mengambil prinsip-prinsip kemoderenannya namun tidak begitu tertarik dengan agenda politisnya. Yang dimaksud disini tentu saja pandangan dunia moderen dengan etos-etos turunannya seperti maksimalisasi profit, efisiensi, kebebasan berusaha. Dengan demikian mereka menolak penerapan Liberalisme Islam namun bersepakat dalam liberalisme dalam bidang ekonomi. Contoh paling telanjang atas fenomena ini adalah bangkitnya wirausahawan-wirausahawan muslim di kampus-kampus.

Di sisi lain mereka juga mengambil simbol dan identitas dari golongan Islam Fundamentalis seperti kesalehan, ritual dan gaya berpakaian. Namun mereka juga tidak begitu peduli dengan agenda politis semacam mendirikan Negara Islam. Dari perpaduan keduanya, muncullah Islam yang lebih lembut, Islam Pasar. Oleh karena itu tidak heran jika kesuksesan Aksi 212 dan sejumlah aksi bela Islam lainnya kemarin tidak hanya karena peran para Ulama dan petinggi agama saja, namun juga karena keterlibatan muslim dari golongan kelas menengah yang saling berlomba menampilkan identitas Islamnya.

Wacana Keislaman Kita di Masa Mendatang
Dari pembacaan diatas kita bisa melihat sebab-sebab krisis dari Islam Liberal dan konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan dari kondisi tersebut. Apa yang terjadi di internal HMI hari ini, merosotnya wacana keislaman yang semakin membuat kader-kader kita terpisah dari kehidupan Rill masyarakat ditambah dengan kebangkitan dari gerakan Fasisme Religius yang membuat disorientasi sebagian kader HMI dan memilih bergabung dengan Islam Politik menjadi bukti bahwa penting bagi kita untuk merumuskan sebuah langkah baru.

Di sini secara terus terang penulis menekankan pentingnya kita memperjelas posisi teoritis kita dalam wacana keislaman. Telah terbukti bahwa Liberalisme Islam yang menjadi wacana dominan di lingkungan Kader hari ini tengah krisis dan gagap terhadap perubahan-perubahan konkret yang terjadi di tubuh ummat. Dalam jangka panjang jika kita masih tetap menggunakan wacana yang sama sebagai metode pembacaan situasi maka ditakutkan kita justru semakin jauh dari permasalahan rakyat. Keadaan ini membuat kita harus rela berpuas menghapal mantra "Masyarakat adil Makmur" tanpa sedikitpun beranjak selangkah lebih dekat kepadanya.

Kita memang membutuhkan wacana baru. Sebuah wacana keislaman yang lebih berpihak kepada rakyat kecil, yang terbuang dan tergusur. Tugas kita sekarang adalah mulai kerja-kerja ini. Dalam beberapa tahun kedepan kita mungkin belum bisa berharap banyak. Namun jika kita melakukannya secara massif dan intens maka bukan tidak mungkin kita akan bisa membangun baru sebuah wacana yang emansipatoris. Kita tidak bisa lagi mengaharapkan wacana yang sama ketika satu, dua hingga lima generasi yang lalu digunakan hari ini.
"Kita harus berani melampaui wacana toleransi dan modernisasi Islam yang selama ini diajarkan dan berjalan bergerak lebih jauh untuk membicarakan tentang Islam yang membela kaum miskin, Islam yang hidup dalam kenyataan kenyataan masyarakat kita dan segala permasalahanya. Kondisi yang terus berubah mengharuskan kita meninjau kembali segala bentuk-bentuk pengetahuan yang selama ini di ajarkan di perkaderan. Jika tidak bisa-bisa, kita akan buta peta jalan. Sementara sejarah bergerak ke arah utara, kita sibuk mencari-cari jalan ke arah sebaliknya. Jalan sebuah kemunduran."

Daftar Pustaka:
........
[1] Madjid, Nurcholis. Islam kemoderenan dan Islam keindonesiaan. Mizan. Bandung. 2013
[2] http://islambergerak.com/2016/07/mengapa-islam-progresif/

BAGIKAN

Like dan Ikuti Fans Page:

0 komentar: