banner here

Edisi Gender: Refleksi Problematika Perempuan di Indonesia

advertise here

Oleh: Asrul Gamajaya

Perempuan!..Perempuan adalah sosok feminim yang memiliki corak tersendiri, yang mampu mengubah dunia yang kaku menjadi sebuah potret indah. Perempuan klasik sedikit berbeda perannya untuk ukuran manusia perempuan skala modern. Pergeseran nilai-nilai ini berawal dari tuntutan perjuangan kelas sosial akan kesetaraan gender, antara apa yang diprofesikan oleh kaum maskulin pun tidak menutup kemungkinan akan dilakukan oleh kaum bijak feminim.

Dalam rentetan bersejarah tersebut, lahirlah perempuan-perempuan berbudaya. Lebih berperadaban dan berpendidikan. Ukuran budaya dan adab, bagi mereka adalah kesetaraan gender, termasuk dalam aspek dunia politik pun tak sedikit kita melihat deretan kaula hawa mewarnai jagat percaturan elit politik. Rangkaian ini terkulminasi pada sebuah pengharapan dan primbon utopis bahwasanya dimasa depan, perempuanlah yang akan menjayakan dunia termasuk dalam dunia trend sebagai kunci penggerak zaman.

Outputnya perempuan-perempun telah menghiasi metropolitan, baik secara media maupun dalam dunia yang kongkret yang sarat akan Iklan. Perempuan berperadaban masalalu telah bergradasi secara sistem nilai dari simbol baik dan suci menjadi pembawa petaka dunia bagi sebagian kecil manusia yang prihatin dengan kondisi yang ada.

Media sebagai salah satu instrumen perubahan sosial telah menghiasi kota-kota hingga pelosok telah mengantarkan mereka (perempuan) kearah yang berbeda berdsasarkan khodratnya. Iklan-iklan sebagai senjata mereka misalnya produk-produk dari perusahaan multi-nasional yang menawarkan produk berperadaban yang secara tidak langsung, ikut andil dalam pemusnahan nilai-nilai perempuan ketimuran menuju suatu klimaks westernisasi global.

Perempuan telah dihiasi dengan paradigma materialistis, yang mengantarkan mereka pada sebuah abstraksi pentas kehidupan duniawi yang tak berperadaban secara hakikat bertentangan dengan budaya ketimuran. Hal ini telah tercermin pada sebuah keadaan yang memandang dunia sebagai ajang euforia dan ajang mencari kecintaan manusia lain melalui suatu pencitraan, yang tidak sedikit menjual apa yang seharusnya tidak wajib untuk diekspos secara bulat dan massal.

Dunia percaturan politik, tidak sedikit perempuan dijadikan sebagai pelicin dan alat komersialisasi hidup dalam memaksimalkan sosialisasinya hingga sebagian masyarakat terjerumus dari perangkat "Jebakan Batman" mereka. Asumsi mereka, perempuan tetap seksi dimata publik dan akan tetap menjadi primadona masa depan dalam menjajakan menu politik mereka.

Problem kemudian adalah perempuan sebagi sentrum transformasi nilai-nilai kebaikan suci, telah mengalami degradsi fungsi sebagai ke-ibu-an dalam konteks yang lebih luas dan beradab telah mengantarkan mereka pada "pusaran politisasi korupsi". Hal tersebut diperparah oleh peran media yang fungsinya sebagai medium informasi, telah ikut memblow-up menjadi lebih besar, sehingga hal yang tidak semestinya besar, kini menggludak sebagai masalah yang lebih serius.

Perempuan pun menjadi bulan-bulan media dan akan dikaitkan dengan persoalan lain. Meski yang bermasalah pada intinya adalah kaula maskulin. Bagi media, perempuan masih memiliki nilai jual tinggi yang tidak pernah habis. Komersialisasi inilah yang tidak tersadari bagi mereka ataukah mereka sadar tapi pura-pura tidak tahu demi mempertahankan hidup ?

Intinya bagi mereka adalah harta, uang dan kedudukan di mata masyarakat adalah nomor satu dan merupakan realisasi utama. Satu hal yang pasti, terlibatnya perempuan dalam pusaran korupsi lebih karena mereka coba mengikuti pola maskulin yang selama ini diidentikkan dengan dunia politik.


Tulisan ini, bersumber dari Facebook Resmi Kakanda Asrul Gamajaya