Jumat, 17 Februari 2017

Embrio Westernisasi di Masyarakat Pedesaan

http://lapmiad.blogspot.co.id/
Oleh: Farid Amrullah 
Kader HMI Kom. Ahmad Dahlan Unismuh 
Cabang Gowa Raya

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, didalamnya terdapat berbagai macam kebudayaan yang unik. Namun seiring berjalannya waktu, Indonesia diterpa berbagai macam problematika keummatan yang tak berkesudahan,  salah satunya adalah menjamurnya praktik westernisasi, lebih gawatnya lagi embrio westernisasi mulai tumbuh di masyarakat pedesaan. Hal ini sangat disayangkan mengingat pedesaan merupakan aset negara yang sangat berharga untuk membangun suatu peradaban. 

Bangsa kita merupakan negara berkembang dengan segudang kendala menuju bangsa yang berkemajuan. Mungkin saja tercapai, jika Indonesia terus berbenah diri dimulai dari hal yang fundamental. Bangsa kita harus mempertahankan identitasnya yang dapat membuat kepercayaan diri meningkat dan jika itu  terjadi tentunya akan menjadi modal kita menuju kesejahteraan yang berkeadilan. Berbicara tentang identitas bangsa berarti kita berbicara tentang budaya, nah jika kita berbicara budaya,  yang  menjadi pertanyaan krusial adalah 
Budaya Indonesia apa?.
Sesungguhnya Indonesia tidak memiliki budaya, yang memiliki budaya adalah sekumpulan daerah yang ada di Indonesia,  lebih spesifik lagi bahwa wajah Indonesia yang sesungguhnya adalah masyarakat pedesaan bukan perkotaan atau yang diperkotakan. Namun seiring berjalannya arus globalisasi secara radikal hingga menyentuh kehidupan masyarakat pedesaan, mengakibatkan permasalahan baru, dimana jati diri (budaya)  masyarakat pedesaan tergerus hingga pada titik yang sangat mengkhawatirkan.  

Hal ini diakibatkan, oleh gagal pahamnya masyarakat pedesaan dalam memahami modernisasi. Kaula muda yang diharapkan sebagai generasi yang mampu memahami modernisasi dengan baik justru terperangkap dalam hegemoni westernisasi. Kecenderungan kaula muda masyarakat pedesaan yang menggandrungi praktik westernisasi dengan alasan trendi,  kekinian,  serta modern menambah rentetan kompleksitas problem identitas keindonesiaan. 

Masyarakat menganggap bahwa kemoderenan dan westernisasi merupakan suatu produk yang tak terpisahkan,  padahal hal tersebut tidak relevan jika kita memahami dengan tepat apa itu modernisasi. Cak Nur pernah berkata bahwa "islam kemoderenan adalah rasionalisasi,  bukan westernisasi",  namun penulis sedikit mengurangi statemen Cak Nur menjadi 
Kemoderenan adalah rasionalisasi,  bukan westernisasi.
Dengan demikian penulis menarik kesimpulan bahwa telah terjadi kekeliruan dalam memahami kemoderenan. Lebih lanjut lagi,  jika ini terus berlanjut maka,  westernisasi akan mengakibatkan kebiasaan baru berupa perilaku konsumtif, hedonis, hingga apatis,  yang tentunya berbenturan dengan budaya masyarakat pedesaan,  fenomena tersebut menggambarkan wujud westernisasi yang sangat menyeramkan jika didiamkan begitu saja. 

Dalam perspektif penulis,  bahwa pola westernisasi memang sengaja diciptakan oleh kaum kapitalis yang mendoktrin masyarakat khususnya para generasi muda,  melalui media, dll, yang bertujuan menggiring masyarakat secara perlahan menuju masyarakat konsumtif, hedonis,  serta apatis. Ditambah lagi masyarakat tidak sadar akan hal tersebut, bahkan mereka merasa aman dan nyaman berada dalam jaring kapitalisme yang mengeksploitasi manusia tanpa ampun. 

Sejarah membuktikan,  sejak melejitnya arus globalisasi yang kian gencar,  sangat memengaruhi sendi-sendi kehidupan bangsa. Arus globalisasi telah mengikis kearifan budaya lokal masyarakat pedesaan. Generasi muda telah diracuni oleh faham dari luar secara yang  radikal mengubah mainsed masyarakat.  

Dewasa ini, mulai terlihat sedikit demi sedikit pergeseran kebudayaan menuju budaya barat, dapat dilihat dari cara  berpakaian para remaja di yang tidak sopan seolah mengikuti gaya berpakaian barat yang berkedok modern,  hal tersebut mengingatkan penulis kepada Dedi Mulyadi yang mengatakan bahwa "kita tak akan pernah cocok memakai pakaian yang bukan pakaian kita sendiri"  Disini terlihat jelas perilaku yang kontradiksi dengan budaya leluhur kita. 

Masalah westernisasi merupakan tugas kita semua untuk saling bahu-membahu untuk melawan westernisasi,  agar budaya leluhur kita tetap terjaga,  sebab tanpa budaya, idealisme manusia akan hilang. 

BAGIKAN

Like dan Ikuti Fans Page:

0 komentar: