Selasa, 14 Februari 2017

Gaya Hidup dalam Perspektif "Valentine Day"


Oleh: Hariyanto Hadinata
Kader HMI Kom. Ekonomi Unismuh Makassar Cabang Gowa Raya

Gaya hidup oleh berbagai ahli sering disebut sebagai ciri dunia modern atau modernitas dimana diartikan bahwa siapun yang hidup dalam masyarakat modern akan menggunakan gagasan tentang tindakan dirinya sendiri maupun orang lain. 

Istilah gaya hidup baik dari sudut pandang individual maupun kolektif, mengandung pengertian bahwa sekumpulan kebiasaan, pandangan dan pola respons terhadap hidup. Gaya hidup bukan merupakan suatu yang alamiah, melainkan hal yang di tentukan, diadopsi, atau diciptakan, dikembangkan dan digunakan untuk menampilkan tindakan agar mencapai tujuan tertentu.

Tepat pada tanggal 14 Februari, dianggap sebagai hari "Valantine" atau biasa disebut dengan Hari Kasih Sayang. Hari merayakan cinta dan diidentikkan dengan memberikan sebuah bunga, coklat dan makan malam romantis berhias nyala lilin. Namun, jika ingin merunut lagi ke belakang, sebenarnya sejarah Hari Valentine tidak semanis perayaan yang dilakukan oleh banyak orang saat ini. 

Sedikit kita telusuri kisah hari Valentine diera Romawi Kuno. Pada tanggal 13-15 Februari warga Romawi Kuno merayakan upacara Lupercalia. Upacara yang memberikan pengorbanan dua ekor kambing jantan dan seekor kambing, kemudian pria setengah telanjang berlarian dijalan mencambuki para gadis muda dengan tali yang berlumuran darah yang terbuat dari kulit kambing yang baru dikorbankan. 

Ritual semacam ini, dilakukan orang-orang Romawi kuno yang berada tepat di kaki bukit Palatine sebagai ritus pemurnian dan kesuburan. Pendek cerita, ada tiga pria yang bernama Valentine semua tewas secara mengenaskan. Salah satunya adalah seorang imam di kekaisaran  Romawi yang membantu orang Kristen yang dianiaya pada masa pemerintahan Claudius II. Saat di penjara, ia mengembalikan penglihatan seorang gadis buta yang jatuh cinta padanya. 

Valentine yang kedua adalah uskup yang saleh dari terni, yang juga di siksa  dan dieksekusi selama pemerintahan Claudus II. Sementara yang ketiga adalah Valentine dari Genoa yang diam-diam menikahkan pasangan dan menentang aturan pernikahan yang dikeluarkan oleh Claudus II. Sebelum dieksekusi sadis, ia membuat surat cinta pada sang kekasih yang ditutup dengan kata “dari Valentine-mu”.

Pemandangan perayaan Valentine Day agaknya tidaklah telalu asing di Indonesia. Remaja putra dan putri, cewek cowok, walaupun masih ingusan sudah kenal yang namanya budaya ini. Mereka biasanya menghabiskan perayaan ini dengan mengadakan lomba saling merayu antara lawan jenis, saling memberikan bunga, permen kepada pacarnya, mengadakan pesta musik dan lain-lain.

Lucunya perayaan ini, rupanya dimonopoli oleh anak muda, para bapak-bapak dan Ibu-ibu, tante-tante pun tidak ketinggalan ‘bertaklid’ merayakan budaya ini, seolah-oleh merayakan hari kasih sayang. Mereka merayakan bersama-sama dengan mencontoh seperti apa yg dilakukan “anak-anaknya”.
Cinta adalah makna, makna ada didalam cinta, makna dan cinta menjadi satu, jadilah Valentine Day
Sampai saat ini, kita sadari atau tidak, saya menyebut perkembangan budaya populer ini sabagai “diluar batas kewajaran” karena berangkat dari cerita sejarah bahwa momen ini hanyalah tidak lebih bercorak kepercayaan atau animisme belaka yang berusaha merusak, mebawa berbagai malapetaka dan sekaligus memperkenalkan gaya hidup barat yang berkedok topeng percintaan, perjodohan dan kasih sayang. 

Sebagai kalangan ummat Islam, wajib menentang  hari ni, "Valentine Day". Salah satu hadist yang dapat kita jadikan sebagai perlawanan arus modernitas yang sarat irrasional, melawan gaya hidup yang jauh dari nilai-nilai agama, 
Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut ” (HR. At-Tirmidzi) .

BAGIKAN

Like dan Ikuti Fans Page:

0 komentar: