banner here

Hantu-Hantu Perpustakaan

advertise here

Pernahkah anda berkunjung ke Perpustakaan?

Bagi kita, perpustakaan merupakan gudang ilmu atau tumpukan-tumpukan buku yang kita Selami, kita daras. Perpustakaan bagai lautan atau alam semesta yang berisi bintang, planet, matahari dan berserta seluruh isinya. Jika Tuhan atau yang mewakilkan, mengatakan segalanya sesuatu akan didapatkan disurga, maka saya katakan Perpustakaan merupakan Surga, kita mendapatkan apapun disana.

Perpustakaan bukanlah apa yang sebelumnya kita persepsi. Perpustakaan kini jauh lebih modern dengan konsep ruangan yang baik dan luas serta menyuguhkan segala fasilitas, demi mengayomi dan melayani para pengunjung, untuk betah dan selalu datang ke Perpustakaan baik mencari literatur atau untuk membaca buku.

Tak perlu lagi susah payah mencari buku di perpustakaan, karena telah di bekali perangkat elektronik yang memudahkan kita, tanpa mondar mandir kesana kemari. Tinggal mengetik, lalu judul buku tersebut muncul dan siap kita cari. Perpustakaan juga di bekali fasilitas pendingin ruangan. Sekali lagi untuk membuat kita betah membaca buku dan duduk berjam-jam di perpustakaan. Kemudian yang terakhir, adalah jaringan internet gratis.

Fasilitas yang tak kalah pentingnya, "Internet Gratis". Suatu fasilitas yang membantu untuk mencari referensi di Internet atau segala macamnya. Membantu kita untuk "berlama-lama memanfaatkan internet gratis ini". Internet Gratis ini, juga memiliki peranan besar dalam mengundang berbagai pengunjung.

Perpustakaan, Tempat "Ngumpul"

Terkadang, Perpustakaan sebagai tempat ngumpul, bersama teman-teman. Tempat berkumpulnya para pecandu buku, diskusi dan yang suka menulis. Tak hanya itu, perpustakaan juga tempat berkumpulnya orang-orang yang sedang mengerjakan tugas, mencari jawaban di tumpukan buku di perpustakaan. 

Segala apa yang saya tuliskan di atas adalah yang harusnya terjadi. Akan tetapi, kalau kita melihat saat ini, banyak pengunjung hanya untuk memanfaatkan fasilitas sekunder atau bukan arti sebenarnya perpustakaan itu, yakni tumpukan buku yang harus kita baca, kita manfaatkan. Bukan malah, dijadikan tempat untuk menghabiskan waktu hanya bercerita kesana-kemari tanpa ujung yang jelas.

Mereka memanfaatkan segala fasilitas sebaik-baiknya. Menggunakan jaringan internet dengan sungguh-sungguh, menggunakan internet untuk mencari literatur, padahal di perpustakaan ini, sudah berisi ratusan, ribuan atau bahkan jutaan buku yang menunggu kita pegang dan kita baca.

Mereka mengibaratkan Perpustakaan sebagai Cafe, free WIFI, berAC, dan tempat duduk yang nyaman. Tempat ngumpul bersama-sama, bercerita sepanjang lebar hingga bunyi Bell  yang mengisyaratkan untuk mengakhiri kunjungannya ke perpustakaan.

Mereka bercerita hal-hal yang aneh, konyol dan lucu apalagi berisik. Ini yang pengunjung tak suka, khususnya saya. Bagi kita sendiri, mereka sangat mengganggu, bercerita dengan suara merdu nan alaynya serta Wajah nan lebay, diperdengarkan dan dipertontonkan kepada seluruh pengunjung terutama bagi pengunjung yang sedang bersungguh-sungguh memanfaatkan substansi perpustakaan itu.

Mereka seakan hantu, setan atau lebih kejamnya Iblis, menggangu, dan memengaruhi para pengunjung untuk melambaikan kata menyerah lalu pergi meninggalkan tempat, mungkin untuk mengurangi para pengguna yang memanfaatkan internet atau apalah. Mereka ibaratnya sedang kehausan, mencari para mangsa untuk memuaskan dahaganya. Menggangu siapa saja. Mereka itu adalah "Perempuan".

Patut kita apresiasi, pengunjung terbanyak adalah perempuan. Tapi konyolnya mereka malah memanfaatkan atau mempermainkan perpustakaan seperti mereka mempermainkan para lelaki. Memanfaatkan segalanya, termasuk fasilitasnya. Bercerita panjang lebar atau diistilahkan gosib, cerewet dan segala macam anak-anaknya.

Terkadang pula, ada juga kalangan kaum Adam yang terpengaruh dan hilang kesadaran hingga setelah perpustakaan tutup, baru sadar bahwa banyak waktunya yang sia-sia.

Sesepuh Mereka di Perpustakaan

Tak kalah parahnya, sesepuhnya juga ikut mengawal aksi mereka, dan bersatu padu mengawal para pengunjung yang dalam pandangannya ibarat pembajak hak-haknya. Hingga satu persatu mereka asingkan, keluarkan dan matikan dari perpustakaan. Mereka juga tak ubahnya perempuan itu. Hanya menghabiskan waktu untuk bergosip, dan jika ada yang membutuhkannya, untuk mengetahui letak dari buku atau bertanya sesuatu, sungguh sangat berat membuka mulut dan melangkahkan kakinya. 

Padahal, itu adalah tanggung jawabnya sebagai "pengurus" di perpustakaan baik dari kalangan perempuan atau laki-laki, sama saja bercerita panjang lebar. Sungguh sangat menggangu tingkah mereka.

Mereka juga diskriminasi, ketika terdapat berbeda "jenis", dikalahkan gosibnya atau keceriaannya membuka mulut dan mencucurkan air liur mereka berjam-jam. Mereka akan menyuruh diam, dan seolah-olah di arahkan untuk melaksanakan substansi dari perpustakaan. Padahal, ia hanya iri, iri karena kalah heboh dengan pengunjung lainnya. Saya sebut mereka Ibu Setan yakni Iblis.
  
Matikan Mereka  

Sangat disayangkan saat ini. Di tengah kemegahan perpustakaan, dan jutaan tumpukan buku yang harus kita Daras dan makan. Di selewengkan oleh berbagai setan-setan dan iblis tersebut. Fasilitas yang digunakan untuk memudahkan aktivitas kita di perpustakaan malah disalah artikan hingga membuat buku terbengkalai.

Jika kalian mendapati hal ini, katakan saja mereka Setan dan Iblis. Mereka adalah Seten dan Iblis, yang siap mempengaruhi anda diperpustakaan. Ada banyak yang dapat kita lakukan dalam hal ini, pertama menegur mereka, kedua menganiaya mereka dengan mempermalukannya. Ketiga, membasmi mereka secara tanpa belas kasian.

Sumber Ilustrasi: 
wartapmii.wp-content/uploads/2016/10/perpustakaan.jpg