Kamis, 09 Februari 2017

HMI Krisis Keberanian


( Kader HMI Kom. Ahmad Dahlan Unismuh Makassar)

Memang resah dengan posisi HMI saat ini, yang sudah bias dalam memandang dan melakukan gerakan perjuangan untuk keadilan. Justru anak-anak HMI membuat ekstasi bagi dirinya dengan diskusi melingkar lintas literasi tanpa ujung dari hasil bacaannya dibuku-buku. 

Kebiasaan yang seperti itu di anggap wajar dan biasa-biasa saja, tanpa disadari ternyata putaran waktu tidak akan menyisahkan sedikitpun angan-angan yang tidak diukir di kehidupan yang sesungguhnya. Gerakan pengabdian terhadap rasio sangat tidak layak jika berputar hanya pada soal benturan pemikiran, tanpa aktualisasi. 

Selanjutnya kecerobohan yang fatal adalah HMI sudah tidak lagi menjadi medium memperjuangkan rakyat kecil, melainkan lebih memilih gerakan berhati-hati sambil bergantung di ketiak penguasa ,yang posisinya mungkin lebih aman atau kurang beresiko dan mudah di akomodir. 

Bisa diamati beberapa tahun terakhir ini, HMI memang kurang getol dalam perjuangannya dan jarang menuai hasil kongkrit untuk kepentingan rakyat, yang kurang lebih perjuangan itu semacam model pencitraan belaka. Ketergantungan pada penguasa telah menyeret gerakan HMI hingga nampak sangat ke kanak-kanakan dan kehilangan jejak.

NDP Tergusur 
HMI terlalu sempit jika dikatakan salahsatu representatif modernis, sebab banyak juga kader yang sangat fundamental bahkan gerakan-gerakan HMI tidak jarang memicu anarkisme pada saat aksi. Lebih tepatnya mungkin HMI sedang kehilangan jejak dalam perjuangannya. Lalu, pertanyaan yang timbul adalah
NDP sebagai landasan metodologi perjuangan yang dirumuskan Nurcholis Madjid itu sudah di gusur oleh apa dan siapa?.
Hingga terdapat kader HMI yang bergerak ke timur dan ada juga ke barat, bergantung pada kepentingan gerbong. Yah, gerbong yang sering disebut Senior. Gerbong ini semacam sekawanan kader yang memiliki garis politik yang sama, dan bermunculan pada momentum pemilihan ketua umum untuk masing-masing memenangkan kandidatnya dan setiap gerbong akan saling menggasak dan menggilas bahkan terkadang berujung pada kekerasan demi memenangkan kandidat. Jadi slogan "karna di HMI kita lebih dari saudara" itu hanya nampak sebagai seremonial.

NDP sebenarnya belum di aktualisasikan dengan sunguh-sungguh tetapi justru yang di lakukan dengan sunguh-sungguh adalah menggusur NPD, dengan sekte-sekte kepentingan kelompok yang lebih diutamakan. Tidak lagi menempatkan NDP sebagai landasan perjuangan bersama tapi menempatkan gerbong lebih utama untuk diperjuangkan, meskipun harus berlindung di ketiak penguasa. Merasakan ketenangan dekat dengan penguasa, lalu hengkang dari perjuangan yang seharusnya yaitu berani bersuara di tengah rakyat yang di berangus oleh penguasa.

Pikiran dan Perjuangan Butuh Keberanian
Semalam saya membaca tulisan bung Kaisar yang sangat kritis dan tajam terhadap HMI. Beliau mencoba menelusuri pemikiran beberapa tokoh Islam pembaharu di indonesia seperti Nurcholis Madjid yang juga pentolan terbaik HMI. Bung Kaisar membuat kesimpulan bahwa penting HMI dan Islam  di Indonesia, merumuskan ulang cara berpikir dan gerakan baru yang lebih pro-rakyat kecil.

Menukil uraian Nurcholis Madjid tentang sekularisasi menurutnya adalah proses membumikan ajaran Islam. Agama yang dianggap domainnya hanya pada seputar urusan akhirat merupakan upaya penyempitan ruang gerak perjuangan, sementara jelas Islam di turunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam, demikianlah Islam sesungguhnya sangat kering seandainya diarahkan untuk menghindari persoalan-persoalan yang muncul di masyarakat dan juga penghianatan terhadap pesan Al-Qur'an. 

NDP HMI yang dirumuskan oleh cak Nur adalah ramuan keseluruhan dari hubungan ketauhidan dan kemanusiaan, sebagai alat bagi kader-kader HMI untuk melakukan penetrasi terhadap berbagai macam patologi sosial. Setiap Bab pada uraian NDP, bermuara pada ketauhidan sebagai pijakan dan kembalinya gerakan intelektual dan moral yang semestinya dilakoni oleh kader-kader, dengan komitmen yang utuh. NDP tidak membenarkan gerakan yang tidak memiliki pijakan tauhid, sebab pangkal dari gerakan seperti ini adalah ibaratnya
Ranting kering di lautan, kemana arah ombak, kesitulah arah ranting. 
Teringat dengan pesan beberapa tokoh terkemuka di indonesia seperti Pramoedia Ananta Toer, Mochtar lubis, Buya Hamka, yang mangutuk perilaku intelektual yang menghamba pada ketakutan, Seorang intelek seharusnya berani menentukan pilihannya, termasuk pilihan politik untuk melakukan keberpihakan kepada rakyat, jika penguasa mulai dzalim. 

Kaitan dengan kegelisahan bung Kaisar, yang dituangkan lewat tulisaannya dengan tema "Bangkrutnya Wacana Keislaman di HMI", saya justru melihat HMI belum mengalami kemunduran dalam berpikir tetapi kader-kader HMI sebenarnya masih memelihara ketakutannya terhadap kedzaliman sehingga wajar jika dimana-mana rakyat merintih karna ditindas sementara kader-kader HMI asik ngopi dengan penguasa. 

Berani,, berani yang di tempatkan pada kebenaran dan keadilan. Sungguh kader-kader HMI sangat krisis keberanian dalam mengambil sikap, bahkan yang paling miris ketika kader HMI lebih memilih bersama penguasa dan hengkang dari rakyat kecil, lantaran penguasa telah memberikan jaminan kenyang berkepanjangan
Mulai dari keberanian dan komitmen ketauhidan dalam perjuangan, untuk memetakan ulang alur perjuangan.               

BAGIKAN

Like dan Ikuti Fans Page:

0 komentar: