Sabtu, 11 Februari 2017

Kelesuhan Keberagaman Kota


Kader HMI Kom. Ekonomi Unismuh Makassar Cabang Gowa Raya

Secara umum, pemahaman tentang kota itu merujuk pada pengertian formal yang ditandai dengan berbagai fenomena selera yang homogen seperti bangunan gedung-gedung megah dan tinggi, pusat-pusat perbelanjaan modern, mobil-mobil mewah, jalan-jalan yang mulus, cita rasa dan gaya hidup yang trendy mengikuti arus yang menjadi ciri khas kehidupan kota. Sungguh tidak ada manusia di dunia ini yang begitu perkasa dan berkuasa untuk menghentikan laju perubahan kehidupan kota.

Orang-orang kota yang tergambarkan sebagai ekonomi mapan, segalah kebutuhan hidupnya sudah lebih dari cukup, dewasa ini masyarakat sering terserang “penyakit-penyakit jiwa”  lantaran abai jagat spritualitasnya sebagai makhluk Allah (abullah). Jadilah mereka terserang kegelisahannya, ketakutaan, kengerian, kemarahan, kekecewaan, hingga kehampaan dan ke-tidak bermaknaan hidup akibat kekosongan jiwaanya. Hidup menjadi serba monoton, tanpa warna, tanpa refrensi spiritual, dan itulah yang menjadikan mereka mudah kalut, emosi, stress dan bahkan gila atau bunuh diri.

Dalam mencermati dari fakta dan kecenderungan yang ada, diakui atau tidak; realitas kehidupan masyarakat kota jauh berbeda dengan realitas kehidupan di desa, jika kita menggunakan pendekatan psikografi perbedaan realitas dalam keberagaman ini dapat dilihat dalam lima dimensi, yakni dimensi ideologis, ritual, ekspensial, intelektual dan konsekuensial. Penampakan seperti ini tidak bermaksud menggeneralisasi tragedi individual.

Tanggapan atas tanggapan-tanggapan, gaya hidup dan penyakit psikosomatik bukanlah sesuatu yang timbulkan oleh bakteri, virus, ataupun pertumbuhan tak normal jaringan tubuh, melaingkan sesuatu yang di sebabkan oleh kondisi kehidupan sehari-hari. Manakala seseorang terpenjara dalam bilik  dinding tebal tak tertembus,terperangkap dalam kecemasan dan masalah-masalah yang tidak bisa  keluar kedunia. Dengan itu, tindakan dan hasrat-hasrat  baik pada dirinya maupun orang lain melahirkan anonimitas, mobilitas, pragmatisme dan profanitas.

Ironisnya, dengan panorama kehidupan Kota carut-marut seperti ini, kegagalan demi kegagalan yang nampak nyaris kita hanya bisa memandang seolah-olah bahwa merupakan pilihan yang realistis. Memang sulit untuk “menalar” jutaan nalar kepribadian’. Nyatanya, bagaimana mungkin kita bisa menghadirkan optimisme pada orang-orang tak berdaya, sementara nyata-nyatanya di depan mereka dipertontonkan kemewaan para selebritis dan menghambur-hamburkan harta untuk tujuan popularitas individu, berita tentang korupsi merajalelah , kekerasan dan teror kemanusiaan yang berpindah-pindah tempat, dalam setuasi seperti ini yang “virtual mengambil ahli yang nyata”dengan kata lain yang absurd digantikan dengan kenyataan “palsu” berupa citra, gaya dan simbol.
“Malapetaka-malapetaka tersebut terus saja berlalu bersama angin”. (Dr. Schneider)
Pola pikir kita telah terkurung pada asumsi bahwa agar tidak kehilangan wibawa, seseorang harus memiliki yang mewah di sertai pola hidup yang serba eliteis. Jika hal itu tidak tidak dapat di capai bisa-bisa dirinya dinilai manusia yang bodoh dan tidak berhasil. Semakin kaya dan mewah kehidupan seseorang maka wibawa dan status sosialnya pasti akan meningkat dan tentu dirinya juga akan dianggap lebih pandai dan berhasil. Tidak tertutup kemungkinan nilai-nilai kearifan lokal hanya sekedar menjadi slogan yang dianggap oleh segelintir orang yang merasa  moderasi “at home”  agar lepas dari beban komersialisasi budaya.

Teringat pesan dari beberapa tokoh yang melansir bahwa “ballighu ‘anni walau ayah” artinya sampaikan tentang diriku (yaitu kebenaran) walaupun satu ayat, dengan kata lain melalui opini ini kita mendapat manfaat penyadaran dan keyakinan, bukan untuk tujuan apa-apa, melainkan untuk kemanusiaan agar terciptanya kepribadian yang beradab,bermoral, dan manusiawi.
Islam itu datang dari keterasingan dan dia akan menjadi asing. Maka, berbahagialah orang-orang yang di asingkan”. (Rasulullah Saw)

BAGIKAN

Like dan Ikuti Fans Page:

0 komentar: