Senin, 13 Februari 2017

Kita Menghinakan Rakyat

http://lapmiad.blogspot.co.id/

Sekretaris HMI Kom. Ekonomi Unismuh Cabang Gowa Raya

Akhir-akhir ini, saya selalu bertanya tentang siapa sebenarnya yang dibela oleh orang-orang yang mencover dirinya dengan isitilah intelegensia?. Kaum agamawan dan para penguasa, masing-masing dari kelompok-kelompok ini berseteru demi memperjuangkan kepentingan yang mereka sebut dengan “RAKYAT”.  Menurutku ada hal yang aneh dan kuanggap itu sebagai penghinaan pada yang mereka sebut rakyat. Ini juga merupakan bentuk kesombongan dari kelompok-kelompok tersebut.

Para penguasa dengan kesombongannya dalam wacana pembangunan, selalu saja rakyat jadikan pihak yang disebut harus dan sedang diberdayakan, dari persoalan ekonomi dan kemiskinan, sesungguhnya ini adalah cara pandang yang hina terhadap kenyataan bahwa pemilik kekayaan yang melimpah ruah ini adalah rakyat. Seharusnya bukan rakyat yang musti diberdayakan tetapi kenyataannya rakyatlah yang memberdayakan para penguasa tersebutm, memberikan upah tiap bulannya, memberikan lahan untuk mereka garap tapi sayang para penguasa itu tidak tahu diri selalu berlagak jadi pahlawan, menganggap dirinya hero walaupun pada dasarnya mereka zero.

Para kaum agamawan juga tidak kalah menyakitkannya memandang rakyat. Ada semacam tradisi kesombongan orang-orang saleh. Rakyat diberi pengajian tiap 3 kali dalam seminggu seakan-akan rakyatlah yang paling kotor hatinya dan paling busuk kehidupannya hingga perlu diberi pengajian rutin. Rakyat dibimbing agar beriman padahal bukankah semua manusia tidak ada yang tidak beriman?

Rakyat diajar metode mengelola kalbu agar senantiasa bersih dan tenang tapi bukankah selama ini rakyatlah yang paling bersih hatinya, walaupun engkau bodohi dengan menjual ayat-ayat tuhan,  mereka masih tetap menghargaimu sebagai manusia jika engkau bertandang ketempatnya.

Pada kaum intelegensia konteks penghinaan yang mereka lakukan dengan cara  mengasosiasikan rakyat dengan  golongan penyandang kebodohan, tiada golongan penyandang kebodohan melebihi rakyat. Hingga mereka dengan entengnya datang kepada petani memberikan penyuluhan masalah pertanian yang  mereka sendiri belum pernah untuk terjun langsung bertani, bergelut dengan panas, bersahabat dengan lumpur dan lintah. 

Mereka seolah ngerti dengan pertanian, ngajarin petani tehnik menanam, tekhnik memupuk yang sebenarnya bagi kalangan petani itu ilmu yang tidak perlu mereka dengarkan dari seminar-seminar pertanian kaum intelegensia. Tapi, karena petani adalah orang-orang yang bijak  dan arif menanggapi suatu keadaan, mereka iya-iya saja ditatar soal tekhnik-tekhnik bertani. Mereka tidak ingin mengecewakan para tamu yang jauh-jauh datang dari kota. 

Hampir setiap orang yang diam-diam menggolongkan dirinya sebagai intelegensia merancang dirinya untuk melakukan pemandaian atas rakyat, menyebar wacana-wacana pendobrakan atas kesempitan wawasan rakyat. Tapi tahukah kita, jjka puncak dari segala ilmu adalah kearifan dan kebijaksanaan. Lantas lebih bijaksana manakah rakyat atau mereka yang menggolongkan dirinya kelompok intelegensia?

Satu lagi keanehan dan ketidakbijaksanaan dari kaum intelegensia yaitu sesama mereka saling menjatuhkan demi mempertahankan persepsi/mempertahankan teori meraka terhadap suatu persoalan. Mereka lupa belajar dari rakyat, mungkin mereka sedang khilaf hingga betul-betul menganggap objektivitas itu adalah kebenaran sementara kritik tentang obejektivisme mereka telah konsumsi.

Saya teringat tulisan Fauz Noor, jika obejektivitas itu sebenarnya hanyalah kumpulan subjektivitas sejenis yang di gunakan untuk mendukung suatu tesis atau teori saja. Kaum intelegensia ini seakan mengklaim jika sudut pandangnyalah yang memiliki standart kebenaran mutlak terhadap suatu fenomena sosial, seakan-akan fenomena tesebut terjadi hanya disebabkan oleh satu faktor saja hingga melupakan faktor lain yang membentuk kompleksitas suatu fenomena sosial.

Masing-masing Kelompok intelegensia ini terkadang bersikap tertutup untuk mau mengerti dan memahami perspektif-perspektif lain diluar  pahaman kelompok-kelompoknya. Mereka hanya ingin sekedar mengetahui tanpa ingin memahami, misalnya kelompok yang satu member sitgma kelompok yang lain sebagai sesat, dan kelompok yang lainnyapun berbalik menyerang dengan mengatakan fundamentalis dan terlalu melangit. para kelompok intelegensia ini seakan melihat dunia hanya memiliki dua pilihan  A atau B, dimana setiap pilihan hanya dapat dilalui dengan satu jalur epistimologi saja.

Saya teringat kritik seorang Fillosof  Ibnu Arabi yang mengatakan bahwa, 
“Jangan kamu letakkan dirimu pada suatu kepercayaan secara sempit sehingga kamu jadi tidak mempercayai yang lainnya. Jika demikian, kamu akan kehilangan banyak kebajikan (khaeran). Bukan itu saja, kamu akan gagal mengenal kebenaran sejati segala sesuatu. …….. Setiap orang memuji apa yang dipercayainya dan dalam memuji itu dia memuji dirinya sendiri, akibatnya dia menyalahkan apa yang dipercayai orang lain, padahal  hal tersebut tidak akan dilakukannya jika dia bersikap adil. Kebencian didasarkan pada kekurang pahaman”

REFERENSI:
Nadjib Emha Ainun. 2016. Kiai Bejo Kiai Untung Kiai Hoki. Jakarta. PT Kompas Media Nusantara
Noor Fauz. 2005. Semesta Sabda. Yogyakarta. Pustaka Sastra LKIS

BAGIKAN

Like dan Ikuti Fans Page:

0 komentar: