Rabu, 08 Februari 2017

Lahirnya "Kata"


https://lapmiad.blogspot.com/

Karya: Iwan Mazkrib
Mahasiswa UIN Alauddin Makassar Jurusan Hukum Peradilan Agama dan
Sekum PPPA HMI Komisariat Syari'ah & Hukum, Cabang Gowa Raya


Sebuah pesan yang diceritakan dalam kisah perkawinan si PENA dan si KERTAS, melahirkan anak yang bernama KATA, beranalogikan pertemuan yang begitu mengherankan. 

Si PENA dan si KERTAS bertemu ketika si PENA mengalami peristiwa yang begitu rumit untuk menyampaikan sesuatu kepada dunia, akibat kebisuan yang dialaminya. Dengan beranikan diri si PENA yang dikenal dengan runcingnya memasuki sebuah ruang yang begitu luas (Semesta), ketika ia merenungi nasibnya yang malang, tiba-tiba datanglah angin yang berhembus membawa butiran debu laksana kabut beterbangan, lalu debu itu menghempas tubuh si PENA dan akhirnya si PENA tak mampu berbuat apa-apa, dikarenakan tubuhnya yang begitu kotor bertempel debu yang tak tau asalnya dari mana.

Angin berhembus lagi, bahkan hembusannya lebih dahsyat dari angin sebelumnya, akhirnya si PENA terhempas ke lautan tinta yang begitu hitam dan pekat dan membuat ia kerkoyak koyak menyelami samudera tinta yang begitu dalam. Dengan perjuangannya yang begitu kuat akhirnya iya mampu berenang hingga menemukan sebuah pulau kecil yang di penuhi dengan tumbuhan peristiwa dan ternyata tumbuhan peristiwa ini adalah tumbuhan peristiwa peristiwa pada hidup yang dialaminya.

Si PENA yang dilumuri tinta merasakan kaget yang di penuhi tanya beribu-ribu tanya.
"aku dimana? apa yang terjadi pada hidupku?" (Tanya dalam hati)
Si PENA merasakan takut akibat peristiwa yang menghantuinya, ia tak tahu mau ia kemanakan, hantu yang menjerat hidupnya. Ia pun termenung lalu ia bersandar pada sebuah tumpukan batu kapur yang rapuh. Ia bingung, sambil mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mematikan akalnya, akibat lelah yang dirasakannya ia pun akhirnya tertidur.

Kemudian ia bermimpi bertemu sesesok kenangan yang begitu indah dalam hidupnya, kenangan itu kemudian membawanya terbang ke angkasa, lalu ia menikmati perjalanannya sambil mengobati hati yang resah atas hujan tragedi yang menimpanya. Tak terasa ia pun tiba di istana senja, tempat kenangan itu menghabiskan waktunya dalam hari-harinya. Ia pun merasakan indah pada kesenjangan imajinasinya. Dengan rasa kecewa ia tak ingin lagi kembali pada dunia yang membuat dirinya merasakan siksa yang begitu berat. Bahkan ia sudah memutuskan bahwa selama hidupnya ia ingin abadi di istana itu.

Malam pun tiba, ia menikmati malam yang ditemani dengan secangkir ketenangan dan juga sepiring rindu yang dibalut dengan kehangatan. 

Tiba-tiba,  "traakkkk..." (Sesuatu terjatuh)

Penuh rasa penasaran ia pun menghampiri suara itu, mendekat, mendekik, mendesis dan meramu langkahnya dengan hati-hati. Dan ternyata... oh ternyata...Ia melihat serbuah cahaya yang begitu elegan, pertanda ia telah menemukan sebuah malaikat membawa pelangi dalam genggamannya.

"Astaga, ini kan... lampu Aladin, bukan malaikat" Ujarnya...
Hey kau siapa kau? (Tiba-tiba lembut suara mendayu memeluk tubuhnya dari belakang)
"Aku PENA" (menjawab sambil memalingkan tubuhnya)

Setelah tubuhnya berbalik dilihatnya sosok ratu dengan tubuh yang begitu bersih, rapi, putih dan begitu wangi. Rasa malu dan penuh tanya, terpaksa ia berucap

"Kau sendiri siapa?"  (Gugup)
"Aku KERTAS, akulah pemilik istana ini, kau darimana kenapa kau di sini? (Si KERTAS)
"Ee... A'a' aku .." (Tersendak)
"Apa yang kau cari?" (Potong ucapan si PENA)
"Aku mencarimu, ia aku mencarimu.. hehe.." (jawab berantakan)

Si KERTAS kaget sambil memikirkan bahwa ini adalah utusan para dewa yang dikirimkan kepadaku dan untuk mengujiku.

"Kenapa kau mencariku?" (tanya penasaran)
"Sebab takdir mengatakan bahwa kau adalah kekasihku, kau adalah jodohku" (langsung saja jawab si PENA)

Perbincangan yang begitu panjang dan akhirnya ia hanyut ke dunia romantisme. Si PENA dan si KERTAS akhirnya menikah. Namun satu hal ketika menjadi sepasang suami isteri, si PENA tak tahu bagaimana ia bersembunyi dari masa lalunya, sebab peristiwa semasa hidupnya masih mengganjal dalam ingatannya.

 Si PENA beranikan diri, ia pun bercerita kepada si KERTAS bahwa ia ingin menjadikan peristiwa yang dialaminya menjadi lebih indah dan bukan lagi beban untuk hidupnya. Si KERTAS tanpa spasi menjawab...

"Ayolah sayang setubuhilah aku, maka kau akan merasakan keindahan itu" 

Dirabalah tubuh si KERTAS, hingga kesuciannya pun seketika ubahnya menjelma surga dalam jiwanya. Seketika pula lahirlah si KATA dengan tangisan bahagia. Mereka akhirnya merasakan keabadian. Abadilah mereka dalam karya.

Jangan lupa abadi
Gowa, 08 Februari 2017


BAGIKAN

Like dan Ikuti Fans Page:

0 komentar: