Sabtu, 04 Februari 2017

Pecandu Hoax

http://lapmiad.blogspot.co.id/
Oleh: Kaisar DM 
Mengapa banyak orang menyukai Hoax?
Semacam pandangan kalo bumi datar misalnya?

Pecandu Hoax, mungkin inilah kata yang tepat untuk gejala yang semakin marak tejadi. Gejala Seperti ini banyak berada di sekitar kita. Misalnya di Gramedia. buku sensasional yang ditulis oleh Eric Dubay, seorang Amerika yang kerjaanya melatih Yoga di Thailand yang notebene tidak punya reputasi sebagai ilmuwan, nyatanya laris manis. Buku yang mengusung pandangan Flat earth dengan tulisan disampulnya “fakta yang disembunyikan selama 500 tahun” alias konspirasi ini mencoba membantahkan kebenaran sains yang tidak bisa lagi diperdebatkan bahwa, Bumi itu Bulat.

Hoax bisa menyerang siapa saja. Beberapa hari lalu, dalam salah satu komunitas diskusi medsos sempat ribut-ribut soal ini. Awalnya saya cuma kasihan. Mereka ini kalangan terpelajar tapi mau saja membuang-buang waktu mempertanyakan kebenaran ilmiah yang sudah terbukti kebenarannya. Tapi setelah dengar dari satu kisah mengejutkan tentang Hoax dari luar negeri sana, tangan saya jadi gatal untuk membagikan kutipan panjang dari salahsatu penelitian ini. Begini bunyinya: 
“Delia Mocanu, dari Northeastern University, Boston telah memimpin penelitian mengenai hal ini. Penelitian yang dilakukan bagi mereka yang berselancar di Facebook, menunjukkan bahwa penikmat situs-situs hoax adalah mereka yang tidak percaya media mainstream. Lebih dari itu, penelitiannya juga menunjukkan bahwa sebagian besar penikmat hoax adalah juga orang-orang yang percaya Teori Konspirasi. 
Hasil yang disebut belakangan ini memiliki konsekuensi politik yang besar--karena tingkat kepercayaan orang pada Teori Konspirasi ternyata berhubungan erat dengan tingkat kemampuan seseorang untuk mengendalikan arah hidupnya sendiri. Orang yang mengadakan penyelidikan tentang hal ini adalah Jan-Willem van Prooijen, Associate Professor pada VU University, Amsterdam.

Dalam penelitian yang dirilis tahun 2015 setelah diadakan selama enam tahun, Van Prooijen menunjukkan bahwa Teori Konspirasi akan bermunculan dalam suasana yang dipenuhi ketidakpastian. Krisis atau banyaknya bencana alam. Orang yang berusaha menggapai kepastian lari pada Teori Konspirasi karena menyediakan pihak yang harus disalahkan atas ketidakpastian yang mereka alami. Namun dari sisi positifnya, penelitian van Prooijen juga menunjukkan bahwa orang-orang yang punya kepercayaan diri dalam mengendalikan arah hidupnya ternyata lebih kebal dari Teori Konspirasi”. (indosains.net.jaman-kiwari-hoax-lebih-dipercaya)

Begitulah, Hoax dan teori konspirasi itu bagai dua sisi mata uang yang sama. Hoax akan lebih mudah dipercayai oleh orang-orang yang tidak punya pegangan dalam hidupnya. Point pentingnya, teori konspiasi menyediakan pihak yang haus disalahkan atas ketidakpastian yang tejadi. Misalnya, saudara pasti tidak begitu asing dengan istilah "Ulah PKI", kaki tangan Cina Aseng, antek Syiah, atau konspirasi Wahyudi atau Remason gitu. Melihat kondisi Negara yang sedang ketidakpastian dan kerumitan, hoax dipastikan akan menemukan tempat yang subur untuk beranak pinak.

Terdapat suatu cerita di Kanada, seorang pria berusia 56 tahun harus berurusan dengan polisi gara-gara berdebat dengan seorang gadis, pacar anaknya, pada malam hari saat mereka berkemah. Si-gadis memiliki iman yang kukuh bahwa bumi itu datar, dan pendirian itu membuat si pria tidak tahan. Lelaki itu gagal mengubah keyakinan si gadis.

Ia kemudian mengamuk dan melemparkan apa saja, termasuk tabung gas ke api unggun sebelum meninggalkan lokasi perkemahan dengan rasa marah dan frustrasi.

Saya membagikan ini sebagai pengingat, bahwa lelucon ini hampir-hampir saja bikin saya hapus pertemanaan dengan teman-teman yang suka debat soal teori datar atau juga perdebatan tentang simbol palu arit di uang kertas. Sungguh bikin jengkel, tapi setidaknya tidak sampai bakar tabung gas kayak kakek di Kanada sana.

Sebagai pelengkap lelucon ini saya kasih link video http://m.news.viva.co.id/…/866349-video-komunitas-bumi-data…

BAGIKAN

Like dan Ikuti Fans Page:

0 komentar: