banner here

Perempuan dalam Balutan Hitam (Bag-2)

advertise here

Seperti biasanya Saripa tidurr pada pukul 20.00, sebab keterbatasan cahaya lampu. Malam hari saripa, tidak memiliki aktivitas apapun, selain berbaring di kamar sampai matanya terlelap dan bermimpi bagaimna nasibnya kedepan. 

Saripa tidak pernah merasakan bagaimna bahagianya saat bercanda duduk bersenda gurau dengan keluarga sambil nonton film. Ia hanya menikmati gelap dengan nyanyian bunyi-bunyian penghuni kegelapan pohon bambu yang berbaris di belakang dan samping rumahnya.

Saripa bagaikan robot yang pagi harinya bekerja dengan rutinitas yang sudah dijadwalkan oleh ibunya. dan malam harinya kembali untuk beristirahat. Ia bangun saat fajar, dikelilingi oleh bayang-bayang kamarnya. ia tetap berbaring memandangi langit-langit yang berhias itu sampai kokok ayam pertama terdengar, lalu ia pun bangun dengan membuka horden, dan membiarkan cahaya pagi yang lembut dan bunyi-bunyian hewan yang ada di sekeliling rumahnya. 

Saripa keluar rumah melihat pancaran sinar matahari, yang menghangatkan bumi dan menguapkan embun mnjadi busah putih halus. Saripa berjalan menuju sumur tua yang berada di pertengahan desa, sumur tua yang biasa disebut juga dengan sumur jodoh.

Langkah kakinya menginjak daun gugur dan dahan kering, menghasilkan bunyi gemerisik pelan. Satu-satunya bunyi dalam bentangan luas yang masih tertidur itu.