Sabtu, 11 Februari 2017

Sektarianisme Islam Merespon Kapitalisme di Indonesia

Kader HMI kom. Ekonomi Unismuh Makassar 
Cabang Gowa Raya

Islam merupakan agama rahmatal lil alamin(rahmat untuk seluruh alam) yang di turunkan dari langit oleh sang pencipta melalui malaikat dan para nabi sebagai representasi kebenaran melawan kemungkaran. Ketika islam di turunkan dalam konteks historis, masyarakat Arab mengalami pembusukan dan dehumanisasi dalam suatu sitem ke-jahiliya-an. islam pada dasarnya merupakan gerakan revolusioner, yang tidak kaku memandang persoalan.

Sebagaimana yang kita lihat gerakan kawan islam fundamentalisme dan fanatik yang sibuk menjalankan proses ritual di masjid, sedangkan masih banyak orang kelaparan diluar, belum lagi sesat mengkafirkan sesama. Itu artinya bahwa islam tidak hanya diartikan pada gerakan spritual saja, tetapi islam lebih merupakan system sosial, budaya, politik dan ekonomi.

“Ketika agama diturunkan dari langit dan tidak bisa menjawab problematika ummat lebih baik dipulangkan saja”
Berhubungan dengan defenisi tekstual diatas, tidak usahlah terlalu bernostalgia dan mengawan karena sangat naif ketika ajaran islam tidak mampu menjawab realitas yang berdiri diluar diri kita, tetapi kita harus mencoba membenturkan substansi ajaran islam sebagai “rahmatan lil alamin” di dalam pusaran kapitalisme. Sehingga pertanyaannya saat ini, 
Bagaimana merespon kapitalisme dalam konteks gerakan pembaharu islam di Indonesia?.
Pemikiran islam di indonesia dalam kenyataanya begitu banyak varian, doktrin, paradigma dan keyakinan yang kuat dalam merespon sistem kapitalisme saat ini, dan tentunya pasti memiliki analisis yang berbeda pula serta sikap idealogis.

Paradigma Tradisional: Kapitalisme dan Kemiskinan
Pemikiran tradisional percaya bahwa permasalahan kemiskinan yang dilakukan Kapitalisme hakikatnya adalah ketentuan dan rencana tuhan. Hanya tuhan yang maha tahu apa hikmah di balik ketentuan tersebut. Analisis yang seperti ini sangat tidak jelas akar permasalahn dan seringkali di tafsirkan bahwa itu ujian atas keimanan.

Akar teologi seperti ini, bersandarkan pada paradigma konsep “sunni” mengenai takdir. Dari teologi ini manusia memang tidak memiliki freewill  untuk menciptakan sejarahnya sendiri, meskipun manusia didorong untuk berusaha tetapi tuhan yang menentukan. Akibatnya, manusia semakin sulit melawan kapitalisme dan tidak kritis melihat penindasan dan pencurian secara struktural dalam pusaran kapitalisme.

Paradigm Modernis tentang Kapitalisme Liberal
Pemikiran kaum modernis dan muslim tentang kapitalisme dan kemiskinan mereka percaya bahwa akar permasalahan kesenjangan yang terjadi di masyarakat yaitu adanya yang salah dari sikap mental, budaya, ataupun teologi mereka. Permasalahan yang di hadapi ummat muslim tidak ada sangkut pautnya dengan paham kapitalisme neoliberalisme apalagi globalisasi.

Paradigma seperti ini manusia di jadikan sebagai objek permasalahan maka solusi yang diberikan kita harus siapkan ummat Islam menjadi liberal, agar dapat bersaing dalam globalisasi. Maka dari itu, diperlukan pembongkaran yaitu kaum miskin haruslah berani untuk mengganti konsep teologi yang cocok dengan developmentalisme yakni “teologi rasional dan kreatif”, melalui usaha pendidikan yang cocok dengan globalisasi. 

Mereka tidak mempersoalkan globalisasi dan pembangunan sepanjang pembangunan itu diterapkan melalui pendekatan metedologi yang benar dan di kelolah oleh pemerintahan bersih. Bagi mereka kemiskinan terjadi pada bangsa Indonesia karena tidak mampu berpartisifasi secara aktif dalam proses pembangunan.

Paradigma ini menyerang kaum sunni yang dianggap fatalilstik, memandang  akar permasalahan, dan menganggap bahwa pembangunan globalisasi kapitalisme itu tidak ada persoalan, hanya pada lebih cenderungnya menyalahkan korbannya.

Paradigma Revivalist terhadap Kapitalisme dan Globalisasi
Penganut paham revivalist melihat baik faktor dari dalam maupun  dari luar, sebagai akar penyebab kemiskinan dan kemunduran ummat islam. Mengapa ummat islam miskin?

Bagi mereka adalah lebih disebabkan karena semakin banyaknya ummat Islam yang justru memakai ideologi lain sebagai dasar pijakan ketimbang menggunakan Al-Qur’an sebagai acuan dasar. Pandangan ini berangkat berdasarkan keyakinan bahwa al-qur’an telah menyediakan petunjuk secara komplit, jelas dan sempurna sebagai pondasi masyarakat berbangsa dan bernegara.

Selain itu mereka juga menganggap ISME yang lain adalah ancaman. Globalisasi dan kapitalisme mereka tolak tanpa menggunakan analisis kelas karna kapitalisme baginya bukan proyek islam tetapi proyek barat yang dipaksakan ke ummat islam.

Tujuan tulisan ini untuk melihat bagaimana sektarianisme Islam dalam merepon kapitalisme di Indonesia dan itu tidak cukup ketika kita hanya menyandarkan bahwa penyebab kesenjangan yang terjadi baik secara sosial, politik, budaya dan agama didalam masyarakat itu karna manusia tidak kembali kepada Al-Qur’an, maupun pemerintahan yang bersih tanpa melihat pertentangan kelas dalam sisitem kapitalisme itu sendiri, maka betul apa yang dikatakan cak nur “apology”.

BAGIKAN

Like dan Ikuti Fans Page:

0 komentar: