banner here

Shaw dari Shutton, Badan Besar yang Menggeludak

advertise here


Oleh: Kaisar DM


Usianya tidak lagi muda. 45 tahun. Badannya tambun, dan sekilas tidak ada potongan atlet pada penampilannya. Setelah berhasil mengalahkan Leeds United dan melaju ke babak ke 5 piala FA, dia bersama timnya tiba-tiba menjadi perbincangan di Inggris, bahkan dunia.

Namanya adalah Wayne Shaw. Ia bermain untuk klub lokal Sutton United. Menjadi kejutan karena klub ini tidak berasal dari kompetisi profesional manapun dan hanya berkutat pada sekitaran kompetisi Non-liga. Klub yang berdiri sejak 118 tahun yang lalu ini juga punya cerita tentang kesederhanaan dan suka duka hingga bisa mencapai tahapan sejauh ini.

Sutton United adalah sebuah klub kecil yang berasal dari selatan kota London. Klub ini berdiri 5 Maret 1898, ketika dua klub lokal Sutton Guild Rover F.C dan Sutton Association F.C bertemu di sebuah hotel dan bersepakat untuk melakukan merger. Berstatus semi profesional membuat klub ini serba kekurangan.

Gaji pemainya tak seberapa, sebagaimana para pemain ini juga tidak menjadikan sepakbola sebagai profesi utama mereka, konon mereka hanya bermain ketika akhir pekan atau libur. Klub ini juga hanya di sponsori oleh perusaan pajak setempat dan perusahaan karpet setempat. M&S Carpets. Kesulitan keuangan ini membuat mereka kewalahan memperbaiki atap stadionnya yang bocor sana-sini.

Tapi itulah sepakbola, selalu punya kejutan-kejutan tersendiri.

Setelah mengalahkan Leeds United, sebuah klub professional yang punya pengalaman di divisi utama liga inggris. Shutton akan kembali berhadapan klub Raksasa lainnya seperti Arsenal. Tapi dalam sepakbola tidak ada yang tidak mungkin. Apalagi bila berbicara tentang Inggris. Piala FA pula, tempat dimana klub-klub kecil membantai klub besar adalah hal yang wajar.

Saya sendiri bukan seorang fanatik bola. Kekecualian bagi liga Inggris dan piala FA. Saya tiba-tiba teringat sebuah berita olahraga waktu itu, di kompetisi yang sama ketika Manchester United tumbang ditangan klub lokal yang pemainnya berisikan tukang daging, pekerja bengkel, dan koki. Saya tidak ingat tahun kapan jelasnya.

Hal demikian ketika saya masih SMA dulu, kini peluang untuk kejutan itu kembali terbuka. Menurut desas desus yang beredar, Wayne Shaw akan dipasang menggantikan kiper utama mereka Ross Worner. Orang boleh tertawa dan berkomentar bahwa ini hanya sensasi. Dan hampir pasti mereka akan habis di tangan Arsenal. Tapi dari sudut pandang lain, jika kita bicara soal moral cerita. Apa yang sebenarnya lahir dari pencapaian ini?

Ketika sepakbola telah menjadi ajang bisnis besar. Adu tarung modal para sponsor. Tentang transfer bermilyar-milyar para megabintang. Skandal dan korupsi. Singkatnya Narasi besar tentang sebuah bisnis dan adu prestasi yang kini dengan mudahnya dibeli asal ada uang. Kita melihat sebuah cerita kecil. Narasi yang coba disingkirkan namun memberontak untuk muncul ke permukaan.

Narasi kecil tentang manajer sebuah stadion yang kebingungan mencari dana buat memugar pintu masuk stadion mereka. Tentang seorang pelatih yang menyumbangkan uang pribadinya untuk klub bahkan ikhlas tak menerima bayaran melatih. Tentang Wayne Shaw yang menolak tunduk pada patokan umum tentang atlit. Dan tentang sebuah klub yang seabad lebih berjuang untuk membuktikan bahwa sepakbola adalah perkara jatuh bangun mewujudkan cita-cita, bukan melulu uang dan pencapaian instan.

Salut untuk SHAW dari SUTTON.