Kamis, 09 Februari 2017

Untukmu, Malaikat Nyataku


(Kader HMI Kom. Ahmad Dahlan)
Untukmu Malaikat Nyataku

Dengan apa kuharus berucap untuk kupersembahkan pada dua tangan kasar tapi dengan sangat lembut membelai bibir-bibir tak berdosaku.

Dengan apa kuharus membalas untuk usapan gemulai penuh cinta dan air mata di hari kelahiran dan di hari-hari selanjutnya sebagai balasan untuk malaikat nyataku.

Dengan apa ku harus berucap pada nyawa yang saat itu diambang pertaruhan hidup mati, ia rela pertaruhkan demi kami sang anak yang entah kelak dikemudian hari masih tanda tanya besar. Apakah akan rela mempertaruhkannya untuk beliau.

Dengan apa tuhan?.


Untaian tasbih tak mampu menandingi untaian doaku padanya. Disetiap sujudku ibu, namamu selalu terpanjatkan mengalunkan sepanjang matahari terbit dan sepanjang bulan memancarkan cahayanya.

Dengan apa ku harus berucap untuk semua pengorbananmu, tangisanmu, deritamu. Tanganmu yang kasar, matamu yang letih, parasmu yang tak seindah dulu. Aku hanya seorang anak yang dengan berucap tak cukup membalas jasamu.

Hanya seorang ibu, tak ada yang lebih kucintai darimu di dunia ini. Segumpal darahmu untuk seorang anak yang saat ini beranjak dewasa menisbihkan semua kemuliaanmu, semua cinta tulusmu.

Mungkin saaat ini, air mataku mengalir deras menuliskan sedikit catatanku tentangmu. Menyadari bahwa saat ini kamu berada jauh dariku, dan itu membuatmu semakin merasakan bahkan kau mahluk paling muliah dan berarti bagi diri yang hina ini.

Telah datang padaku sebuah kerinduan yang tak terbendung, rindu nasihatmu, rindu ocehanmu yang menginginkan kebaikanku dan rindu peluk hangatmu.

Dengan apa kuharus menghapus setiap tetes air matamu,jika telapak kaki adalah yang paling hina di antara yang terhina, jangan khawatir ibu. aku akan rebahkan keningku di bawah telapak kakimu dan membasahinya dengan air mata bahagia, jika masih diberi kesempatan melakukannya, untuk abdi dan syukur yang langitpun tak sanggup membahasakannya. Aku adalah bukti rahimmu yang menjadi tempatku tumbuh bersama dalam ragamu. Sebuah rumah pertama, bagi diri ini menyatu denganmu.

Dengan apa kuharus berucap, pada sepasang mata yang mulai letih memandangi cahaya dunia. Dengan apa kuharus berucap pada sepasang tangan yang telah menyuapkan makanan dengan lembut dan cekatan.

saat ini saat aku beranjak dewasa, ibu. Tanganku semakin tegar, sementara tanganmu semakin keriput. Rambutku semakin hitam, sementara rambutmu semakin pudar. Pandanganku semakin tajam, sementara pandanganmu semakin berair. Maafkan aku ibu.

Bunga-bunga menjadi saksi keindahan budi yang kau selipkan ke dalam dadaku. Menjadi mahkota, melebihi indahnya bunga-bunga itu sendiri, dan hari ini bahkan bunga untukmupun tak sempat ku berikan padamu karena kita diantara spasi jarak dan waktu .
Ibu aku mencintaimu setulus yang dinamakan tulus.
Aku mencintaimu sebagaimana aku tahu rasanya mencintai.
Aku menyayangimu sebagaimana sayangku yang tulus.
Ibu aku memanggilmu ibu sebagaimana ibu memanggilku anak.
Aku ingin mencium keningmu, dan berucap manis ditelingamu "TERIMAH KASIH MAMAH, ENGKAU MAMAH TERHEBAT", dan air mataku akan terus mengalir menilat tubuhku, sebagai bahagiaku memilikimu.
Tertanda anakmu, biji matamu yang sedang berjuang

BAGIKAN

Like dan Ikuti Fans Page:

0 komentar: