banner here

Utopia Kota

advertise here

Kader HMI Kom. Ekonomi Unismuh Cabang Gowa Raya

Sebagai kota yang semakin ‘metropolitan’ di Indonesia, Makassar merupakan magnet bagi warga luar kota. Mereka merasa bahwa hidup di Makassar itu sangat nyaman, enak dan banyak uang! Sehingga, mereka berbondong-bondong pergi ke Makassar, walau mereka tidak tahu mau jadi apa disana. Mereka adalah orang-orang tanpa skill dan datang ke Makassar untuk mendapatkan sesuap nasi, yang “katanya” tidak ada di kampung halaman. Tingginya angan-angan dapat mengubah nasib yang lebih baik di benturkan dengan dinding kenyataan betapa berat menjalani hidup di desa.

Melihata kehidupan kota, saya ingin mengatakan bahwa kota adalah tempat pertarungan sekaligus penguasa dan pemenang dalam pertarungan tersebut. Di dalamnya, orang-orang bergelut, berkelahi dan bertempur melawan kehidupan, berusaha menguasai jalan kehidupan. Takkala orang desa berangkat ke kota di antara ada yang sudah siap menghadapi pertarungan tersebut, ada pun yang tidak memiliki persiapan apa-apa, yang telah siap akan keberhasilan, dan adapun juga yang gagal sehingga mereka merasa kehidupan kota justru lebih sadis dari tempat asalnya. 

Memang sama sekali saya tidak dapat kita pungkiri, adanya orang yang mampu bertahan, berkelit dan menghindari pengaruh dan akibat energi kota. Mereka yang sudah kadang kuat dan mantap untuk menerima segalah resiko kehidupan kota. Tapi bagaimana dengan mereka yang mendapat nasib buruk dan tidak bisa pulang, mereka hanya bisa berprofesi sebagai pengemis, sebagai pengamen, sabagai pencopet, sebagai penjahat, dan mereka  rela tinggal di kolong-kolong jembatan, di kanal-kanal, di gang-gang sempit, di dekat perkuburan, dan di tempat-tempat lapang. Hal seperti diatas itu bukan lagi pengandaian semata-mata, peristiwa ini sudah menjadi bagian dari kenyataan.
"Kami ini butuh hidup! Kami mencari makan! Kami juga warga Negara”
Walaupun kita sering mengaku sebagai kota berperdaban, toh nyatanya kondisi Kota saat ini mirip seperti apa yang menimpa Jazirah Arab masa lalu, dari segi kemasyarakan tak kalah runyamnya. Masa jahiliyah memang sudah lama berlalu berabad-abat lamanya namun tidak berarti bahwa sifat-sifat sudah benar-benar musnah, dengan kata lain Kota kita tengah dilanda kerusakan multidimensi yang sangat akut. Namun bersamaan dengan itu, ternyata kita tidak perna melakukan perenungan.

Setiap persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat semakin jauh mereka tempuh maka mereka akan surut dan tersesat dalam labarin jalan yang mereka tempuh. Bahkan orang tidak lagi berfikir apa akibat dari perbuatannya, melainkan tindakan apa yang harus ia lakukan untuk memuaskan emosinya. Coba bayangkan untuk apa hijrah ke kota dengan kemewaan dan kemetropolitannya, tetapi kenyaman dan keamanan serta kesehatan kita tidak terjaga.

Melihat kenyataan diatas, berapa lama kejenuhan kota menampung mereka. Bukannya aku menolak hijrah ke Makassar, tapi sungguh aku hanya berpikir tentang kebrutalan seakan kemanusiaan yang sedemikan rupa mengalami keterasingan dan di selimuti praktek-praktek ekspolitasi dan pembodohan. Dalam hal ini, kondisi ini tentu sangat ironis dan boomerang, sudah seharusnya setiap orang terlibat secara sinergis untuk bahu membahu mencegah dan memberangus praktek ini, dan meminjam kata Ebiet G.Ade; barangkali disana ada jawabnya dan coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang, Oh Oh ho hoo…
“Diam berarti mati” (Paul Virilio)