banner here

Apa Peran HMI dalam Pendidikan Bangsa Indonesia?

advertise here
Faisal Sa'ban
(HMI Kom. Ekonomi Unismuh)

Pendidikan merupakan sebuah proses dalam memanusian manusia atau proses humanisasi. Bagi bangsa Indonesia, pendidikan merupakan proses yang bertujuan mencerdaskan anak bangsa demi meningkatkan kualitas hidupnya dan kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia. Pentingnya pendidikan bagi Bangsa Indonesia, juga ditekankan dalam UUD Amandemen ke-4 Pasal 31 tentang bahwa “setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”. 

Peran pemerintah dalam pendidikan juga telah disikapi serius, dengan memberikan Pendidikan Dasar gratis. Namun, kebijakan tersebut belumlah cukup yang dapat kita buktikan di permukaan. Salah satu contohnya di sekitar kita khususnya di  kota Makassar, terlebih yang terjadi di kampung saya. Banyak dari masyarakat di kampung saya tidak dapat mengikuti Pendidikan Dasar. Banyak anak-anak yang menjadi tukang parkir, pemulung, pengemis bahkan harus mendaki gunung dan memanjat pohon kelapa. 

Semua itu mereka lakukan secara terpaksa dan tiadanya pilihan lain untuk bertahan hidup. Sehingga pendidikan bagi mereka sangat susah untuk mereka dapatkan dan mereka raih, karena masih terdapat kendala yang mereka harus penuhi, yakni untuk mencari nafkah atau makanan. Sehingga tidak ada pilihan lain bagi mereka untuk membantu orang tua dalam mencari nafkah dibandingkan dengan bersekolah. 

Sedangkan dalam perguruan tinggi atau biasa disebut kampus, menurut saya adalah tempat untuk memproduksi intelektual yang akan memajukan kehidupan seluruh ummat manusia, dan terdapat banyak mengikut sertakan banyak orang, seperti mahasiswa dan juga orantua akan ikut didalamnya karena harapan, biaya dan kondisi yang terjadi pada mahasiswa juga tidak terlepas akan peran orang tua. 

Namun, ada banyak problem yang saya alami pada saat di Kampus atau ketika mengikuti perkuliahan yang konon katanya merupakan "Pendidikan". Padahal, kampus saat ini telah menjadi ladang bagi para Investor (penanam modal). Setiap tahunnya SPP selalu naik dan dimanakah peran kampus sebagai tempat pendidikan?. Terlihat tidak ada. Kampus hanya peduli dengan dirinya, tanpa memperhatikan kondisi mahasiswanya. 

Sedangkan berbicara mengenai kualitas pendidik atau dosen. Umumnya yang terjadi saat ini seperti dosen yang membatasi gerak mahasiswa dengan memberi tugas. Penilain dalam pemberian tugas juga tidak ubahnya. Katanya untuk memberikan pemahaman bagi para mahasiswa atau kita, asal  tidak dikerjakan dengan Copy Paste. 

Namun, hasil penilaiannya tidak berdasarkan kemampuan mahasiswa dalam memahami tugas yang diberikannya, hanya dituntut menyelesaikan tugas tersebut, tanpa konseptual terhadap tugas yang diberikannya. Sehingga jangan heran, kita telah membudayakan kegiatan menyontek. Tidak hanya itu, banyaknya tugas-tugas yang diberikan tidak tersebut, merupakan ajang bagi mahasiswa untuk jarang membaca buku, aktif dalam organisasi dan melakukan kegiatan bermanfat di sekitar kita yang merupakan tempat dari sebenarnya ilmu pengetahuan itu. 

Berbagai problem dalam pendidikan di Indonesia, terlihat peran pemerintah belumlah cukup dalam memanusian masyarakat Indonesia. Ketika demikian adanya, pemerintah juga wajib bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi bangsa kita, bangsa Indonesia dan bukankah UUD amandemen ke-4 mengatakan “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari APBN serta dari APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional”. 

Anggaran pendidikan tersebut mampu didistribusikan secara efektif, dan peran pendidikan dalam pembangunan bangsa Indonesia, terkesan dana anggaran pendidikan sangat kurang dengan menimbang ketertinggalan bangsa Indonesia. 

Peran HMI 
HMI sebenarnya memiliki peran penting dalam hal ini, bahkan HMI sudah merupakan bagian dari sistem ini tapi apa daya tidak ada perubahan yang dilakukan, HMI dalam tujuannya yakni insan akademis pencipta pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi allah swt. 
Apakah itu hanya sekedar ucapan dan syarat pengkaderan?
Banyak sekali alumni HMI yang menjadi dosen, dan dapat dengan mudah menjalankan tujuan HMI karena mereka langsung berhadapan dengan mahasiswa. Mereka memiliki peluang untuk mengajarkan nilai-nilai kebenaran. Mereka bisa mengajarkan atas namanya keadilan dan kemakmuran atau mengajarkan nilai keislaman. Banyak dosen yang dengan bangga mempekenalkan dirinya adalah alumni HMI, tapi prakteknya sama saja dengan yang lainnya, sama-sama membodohi mahasiswa. 
Mungkinkah ilmu yang kita miliki kita gunakan untuk keuntungan kita? bahkan dengan membodohi orang lain? ataukah ini adalah siklus kehidupan dimana mahasiswa mengkritik dosen, sementara dosen membodohi mahasiswanya. kemudian setelah mahasiswa ini jadi dosen sama saja dia juga membodohi lagi mahasiswanya dan terus-terus begitu selamanya?.
Kenapa bisa seperti demikian, saat mahasiswa adalah seorang pejuang kebenaran, setelah bekerja dialah yg memanfaatkan situasi dengan menyembunyikan kebenaran. Mengatakan kebebasan dan sebagainya, namun setelah jadi pemimpin dan dosen dia membatasi gerakan kebenaran. Memaksakan mahasiswa untuk mengikuti sistem mereka walaupun salah dan tidak berguna, 
atau mungkinkah kader HMI yang masih mahasiswa sekarang ini juga akan seperti itu nantinya? 
Termasuk saya pribadi, jangan sampai seperti itu. Kader HMI disinilah tempat kita untuk berperan aktif, kita tidak harus takut pada sistem yang ada. Kita harus sampaikan kebenaran dan meyadarkan para penguasa negeri ini dan juga para dosen-dosen  tidak luput bagi alumni HMI sendiri. Sebagaimana yang dikatakan oleh jendral sudirman, HMI bukan hanya Himpunan Mahasiswa Islam tetapi HMI juga Harapan Masyarakat Indonesia” 

Semua ini, hanyalah kepedulian saya terhadap kondisi pendidikan bangsa dan beberapa kader HMI. Semoga kita bisa menyadari apa yang terbaik untuk umat manusia, dan kita bisa berjuang dan bernafas islam. Mungkin juga tulisan saya ini terlalu sepihak, karena ini adalah bentuk protes saya atas apa yang saya perhatikan dan yang masih tetap saya genggam dalam diri saya adalah "kebenaran akan tetap benar”. Demikian, mohon maaf jika ada pihak yang saya singgung. YAKUSA.