Senin, 20 Maret 2017

Kampus dan Mahasiswa: Tidak Hanya Sekedar Peringkat


Oleh: Ksatriawan Zaenuddin
 
Peringkat merupakan indikator yang penting bagi pelajar. Peringkat menentukan sejauhmana usaha yang dilakukannya. Teringat semasa berstatus pelajar, peringkat seringkali saya tunggu saat pembagian Raport. Teriring bangga dan rasa syukur sesaat nama kita disebut di tempat terbuka, pada saat upacara dan di pengeras suara sekolah. Tentu menjadi buah bibir seluruh pengisi sekolah.  

Akan tetapi, ketika peringkat menjadi sebuah bentuk deifikasi atau mengkultuskannya, maka peringkat dapat mengubah paradigma pelajar hanya untuk mencari angka, mencari nilai hanya untuk sebuah eksistensi. Biasanya, akan membawa sebuah gejala baik melupakan lingkungan sosial, lingkungan berbagi dan menjadi sebuah makhluk individualis, dan egosentrisme.

Sedangkan dalam rana mahasiswa atau yang mengeyam pendidikan perguruan tinggi. Menurut saya, peringkat juga hal yang penting, dan di sisi lainnya peringkat juga bukanlah torehan mutlak mencapai kesuksesan. Sekarang ini, ada banyak peringkat yang tidak sesuai dengan kualitas akan status yang diembannya. Sering kali, mengejar peringkat juga memunculkan yang namanya KKN.

Kemudian bagi Kampus sendiri, sekali lagi merupakan sangat penting. Biasanya peringkat kampus menjadikan lumbung persaingan bagi para calon mahasiswa, karena peringkat itulah yang menjadi rujukan bagi para calon mahasiswa. Ada beberapa point yang mampu menaikkan peringkat kampus.

Menurut Kemristek Dikti, Moh Nasir, Pemeringkatan Perguruan Tinggi tersebut berdasarkan atas beberapa indikator penilaian yaitu Dosen (12 persen), Kualitas dosen (18 persen), Akreditasi (30 persen), Kualitas kegiatan kemahasiswaan (10 persen), dan kualitas kegiatan penelitian (30 persen) (Hasrul, 2017).

Melihat data tersebut, saya lebih tertuju pada kualitas dosen dan penelitian. Kualitas dosen merupakan "salah satu penentu" mahasiswa berhasil dalam perkuliahan dan kegagalan para mahasiswa. Saat ini, tidak sedikit gejala yang kita dapati, seperti kurang profesional dalam memberi dan menilai tugas,  metode pengajaran yang membosankan, dan kurang menguasai bidangnya. Mahasiswa yang dulunya penuh semangat dalam menggeluti ilmunya, malah merosot dan membiarkan hal tersebut, contohnya Copy Paste internet tanpa rujukan yang jelas.

Selanjutnya penelitian, baru-baru ini saya  mendapatkan ilmu tentang penelitian. Walaupun masih dalam tahap sederhana. Akan tetapi, apa yang saya pelajari, sungguh membuat kita tertantang untuk menggelutinya. Saya baru tahu, bagaimana penelitian itu yang sebenarnya, bukan yang berlaku di lingkungan kita.

Melihat syarat dari Moh. Nasir, ternyata penelitian yang terus dilakukan berbagai civitas akademik dapat meningkatkan peringkat kampus. Jika demikian, tentunya kampus perlu untuk memaksimalkan hal ini sebagai usaha dalam meningkatkan peringkat kampus, seperti memberikan bantuan dana, mempublikasi berbagai ajang penelitian dan menyediakan berbagai fasilitas penelitian yang berkualitas. Selain bertujuan meningkatkan peringkat kampus, juga meningkatkan semangat para mahasiswa untuk berkontestasi dalam dunia penelitian. Hal tersebut tentu dimulai dari kebijakan kampus itu sendiri, ingin maju atau ingin tercungkil dalam kebisan zaman.

Sumber:
Edunews.com


BAGIKAN

Like dan Ikuti Fans Page:

0 komentar: