Selasa, 16 Mei 2017

Menolak Lupa


(Mahasiswa Pasca Sarjana Unm)

Proses  pengkaderan Basic Training Latihan Kader I (LK-I), sebagai prasyarat untuk menjadi anggota di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang di adakan oleh  komisariat dalam setiap periode kepengurusan dengan menurunkan 21 materi, di materi terakhir adalah tafsir tujuan HMI yang di bawakan langsung oleh ketua bidang atau ketua umum Hmi di setiap cabang, sekaligus pembacaan ikrar sebagai anggota baru. Salah satu bunyi ikrar yang ikut didengar oleh panitia pelaksana kegiatan dan pengurus komisariat: 

Kami anggota HMI, dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, berjanji dan berikrar;
1.Bahwa kami, dengan kesungguhan hati, akan selalu menjalankan ketetapan-ketetapan serta keputusan-keputusan Himpunan.
2. Bahwa kami dengan kesungguhan hati, akan senantiasa menjaga nama baik Himpunan, dengan selalu tunduk dan patuh kepada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), dan pedoman-pedoman pokok, beserta ketentuan-ketentuan HMI lainnya.
3. Bahwa apa yang kami kerjakan dalam, keanggotaan ini adalah untuk mencapai tujuan HMI, dalam rangka mengabdi kepada Allah, demi tercapainya kebahagiaan ummat dan bangsa di dunia dan akhirat.

Para anggota baru jelas masih ‘’hormat’’ pada ikrar mereka yang berisi berjanji dan berikrar untuk menaati dan mengikuti seluruh peraturan yang berlaku di HMI. Boleh jadi itu hanya akan berlaku pada pengujung bulan pertama. Ketika sudah masuk pada bulan kedua atau ketiga, setelah anggota baru hmi angkatan selanjutnya ikut bergabung, mereka akan mulai bertingkah.

Saya sangat sedih melihat sekelompok anggota Hmi yang krisis referensi buku yang ditawarkan oleh pemateri di forum pengkaderan, sehingga hal demikian membuat mereka berapologi untuk mempertahankan argumentasi ketika berdiskusi. Juga, dalam proses kepanitiaan menjalankan agenda program kerja yang di amanahkan oleh pengurus komisariat, yang sudah ditetapkan lewat SK itu hanya formalitas yang dijadikan pegangan oleh setiap anggota panitia.

Realitas yang terjadi hanya ketua panitia beserta beberapa anggota yang ikut bekerja, dan kadang kala anggota komisariat yang tidak tercantum namanya di SK yang di tekan oleh pengurus komiariat untuk membantu ini bertanda krisisnya proses pencerahan untuk mengabdi terhadap lembaga yang dilakukan oleh sesama kader.

Mereka sudah lupa bahwa ketika pertama menginjakkan kakinya di forum pengkaderan ini sudah berikrar. Inilah bentuk perlunya kita menolak lupa. Menolak lupa atau pura-pura lupa terhadap apa yang telah di ikrarka bersama di forum pengkaderan LK-I yang formal dan sakral.  “Kalian yang  menolak untuk berikrar silahkan ambil tasnya dan tinggalkan forum pengkaderan,’’ kata Master Of Training sebagai pengelolah forum di Basic Training Hmi Komisariat FKIP Unismuh Makassar.

Saya kira, upaya ‘menolak lupa’ ini perlu disosialisasikan di Organisasi Hmi. sebab rentetan protes terhadap berbagai peraturan dan tradisi yang ditetapkan organisasi terasa mencerminkan bahwa para generasi kita perlu sadar dan ingat akan ikrar sendiri. Ketika masih berstatus anggota HMI sudah lupa akan ‘sumpah’ atau ikrar, kelak setelah menjadi pejabat boleh jadi akan ikut lupa dengan tanggungjawabnya. Hal ini perlu diingatkan kembali kepada anggota HMI, maupun para pejabat legislatif yang suka “kentut di atas seng” agar jangan lupa mengingat ikrar yang pernah mereka ikrarkan, karena itu akan menjadi virus yang sagat berbahaya bagi generasi.

BAGIKAN

Like dan Ikuti Fans Page:

0 komentar: