Selasa, 02 Mei 2017

Pendidikan Sebagai Alat Perlawanan


Oleh: Akbar

Sejatinya pesan subtansi dari pendidikan yang pernah diungkapkan oleh tokoh pendidikan adalah “Memanusiakan manusia agar menjadi manusia” yang juga sebagai pesan dari isi UUD 1945 alinea keempat yaitu Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Ikut Melaksanakan Ketertiban Dunia yang disusun rapi oleh Bapak Proklamator Ir. Soekarno sebagai cita-cita bangsa Indonesia.

Pembebasan hanya bisa dilakukan dalam artian yang sesungguhnya jika seseorang memang benar benar telah menyadari realitas dirinya sendiri dan dunia sekitarnya, tidak pernah mampu mengenali apa yang sesungguhnya ia ingin lakukan, tidak akan pernah dapat memahami apa yang sesungguhnya yang ia ingin capai. Jadi sangatlah mustahil memahamkan seseorang bahwa ia harus mampu, dan pada hakikatnya memang mampu, memahami realitas dirinya dan dunia sekitarnya sebelum ia sendiri benar-benar sadar bahwa kemampuan itu adalah fitrah kemanusiaan dan bahwa pemahaman itu sendiri adalah penting dan mungkin baginya.

Sedangkan dalam pandangan Freire, substansi pemikiran pendidikan terletak pada pandangannya kehidupan manusia yang ditransformasikan ke dalam dunia pendidikan dengan model pendidikan yang membebaskan. Pembebasan bermakna transformasi atas sebuah sistem realitas yang saling terkait dan kompleks, serta reformasi beberapa individu untuk mereduksi konsekuensi-konsekuensi negatif dari perilakunya. Langkah awal yang paling menentukan dalam upaya pendidikan pembebasannya adalah proses penyadaran yang inherent dan merupakan proses inti atau hakikat dalam keseluruhan proses pendidikan itu sendiri. Untuk mewujudkan hal tersebut, kebiasaan pendidikan deskriptif diharapkan digeser ke arah pendidikan dialogik-transformatif, agar pendidikan tidak dirasakan sebagai pendidikan yang membelenggu. Pendidikan diharapkan dapat menghasilkan perubahan terdiri siswa baik perubahan dalam kualitas berfikir, kualitas pribadi, kualitas sosial, kualitas kemandiriannya dan kualitas kemasyarakatannya.

Pendidikan sebagai Alat Perlawanan terhadap sistem dan struktur ketidakadilan dan penindasan sesuai dengan Amanat Pembukaan UUD 1945 yakni “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”. Maka dari itu, Pendidikan harus mampu melakukan perubahan struktur ekonomi-politik masyarakat secara fundamental dimana Pendidikan berada.

Pendidikan juga harus bisa melakukan “refleksi” kritis terhadap dominasi atau exploitation de l’homme par l’homme maupun exploitation de nation par nation kata Bung Karno. Arah Pendidikan tidak hanya berkisar pada Student Movement melainkan sebuah gerakan Social Movement, ke arah transformasi sosial menuju sistem sosial baru yang lebih adil yang memihak rakyat kecil dan yang tertindas. Dengan kata lain, tugas utama Pendidikan adalah memanusiakan kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak adil.

Proses Pendidikan harus mampu memberikan kemampuan analisis, kaitan antara sistem dan struktur terhadap satu permasalahan masyarakat. Murid tidak boleh secara dogmatik menerima kebenaran dari guru, tanpa ada mekanisme untuk memahami makna ideologi dari setiap konsepsi atas kehidupan masyarakat. Proses Pendidikan harus melatih murid untuk mampu mengidentifikasi ketidakadilan dalam sistem dan struktur yang ada, kemudian mampu melakukan analisis bagaimana sistem dan struktur itu bekerja, serta bagaimana mentransformasikannya. Sehingga Murid terlibat dalam suatu proses penciptaan struktur yang secara fundamental baru dan lebih baik. Proses Pendidikan harus memberi ruang untuk menyingkirkan segenap “tabu” serta untuk mempertanyakan secara kritis sistem dan struktur yang ada serta hukum yang berlaku.

Pendidikan juga harus mampu menyelesaikan persoalan struktur ketidakadilan didalam dunia pendidikan itu sendiri yakni antara murid dan guru. Artinya Pendidikan harus mampu pula mentransformasikan dirinya sendiri, yakni mentransformasikan relasi “knowledge/power” dan dominasi hubungan yang “mendidik” dan “yang dididik” didalam diri pendidikan itu sendiri. Sehingga Pendidikan bisa menjadi institusi kritis menuju pada perubahan sosial yang lebih adil dan memihak kepada yang lemah.

Disinilah kita harus memahami posisi Pendidikan sesuai dengan Filosofi Pancasila dalam menyelesaikan permasalahan ketidakadilan dan penindasan yang terjadi. Memahami Pendidikan sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa bukan sekedar dipahami berdasarkan orientasi kognitif saja melainkan lebih meluas yakni sebagai “arena perjuangan politik”.

BAGIKAN

Like dan Ikuti Fans Page:

0 komentar: