banner here

Gubuk Sarang Menstruasi, Nepal Siapkan Penjara

advertise here


Lensapos.com - Parlemen Nepal meresmikan Undang-undang yang akan mengkriminalisasi praktik Chhaupadi. Ritual ini merupakan pengusiran perempuan dari rumah mereka ke 'gubuk menstruasi' ketika datang bulan. Praktik ini memaksa perempuan yang sedang menstruasi untuk mengasingkan diri, bahkan sampai benar-benar tidak boleh bersentuhan dengan siapapun. Tradisi yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun ini pun beberapa kali menimbulkan korban jiwa.

Menurut Undang-undang yang baru, siapapun yang memaksa perempuan yang sedang menstruasi untuk mengasingkan diri, mereka akan mendapat hukuman tiga bulan penjara dan denda sebesar Rp 400 ribu. Aturan baru ini dilatarbelakangi oleh pemberitaan dalam skala masif terkait kematian seorang perempuan berusia 19 tahun pada Juli 2017 lalu. 

Gadis bernama Tulasi Shahi yang tinggal di Nepal bagian barat itu tewas saat dipaksa tinggal di kandang sapi ketika menstruasi. Di tempat tersebut ia digigit seekor ular. "Dua kali, di bagian kepala dan kaki," kata wali kota setempat.

Bagi banyak sekali perempuan — remaja atau dewasa — praktik chhaupadi adalah salah satu hal yang paling menakutkan dalam hidup mereka. Pasalnya, mereka tak bisa menolak menstruasi dan praktik tersebut mengakar kuat dalam tradisi Hindu di negara mereka.

Mereka dilarang bersentuhan dengan siapapun, seringkali tidak boleh makan, bahkan tidak diizinkan memakai toilet. Tak jarang 'gubuk menstruasi' yang harus mereka tinggali letaknya sangat jauh dari rumah atau desa, sehingga mereka harus berjalan hingga lelah.

Chhaupadi disebut berkaitan erat dengan kepercayaan dalam Hinduisme di mana darah perempuan yang sedang menstruasi itu tidak suci. Perempuan-perempuan ini pun dipercaya bisa membawa kesialan jika tak diasingkan dari rumah.

Mereka juga tak boleh masuk rumah ibadah karena akan membuat Tuhan murka. Perempuan juga tak mem
bicarakan tentang menstruasi dengan lawan jenis karena itu adalah hal tabu.

"Bahkan jika buku-buku menyebutkan informasi soal menstruasi, kami [baik perempuan maupun laki-laki tidak pernah merasa nyaman untuk mempelajarinya. Banyak dari kita yang menutup wajah dan menundukkan kepala untuk menahan rasa malu. Pokoknya kami malu," kata salah seorang perempuan.

Sebenarnya, praktik tersebut sudah ilegal pada 2005. Sayangnya, di beberapa daerah yang terlalu jauh dari jangkauan pemerintah, perempuan masih harus tersiksa di setiap bulan. Oleh karena itu, aktivis di Nepal mengharapkan bukan hanya aturan ditegakkan, tapi juga ada perubahan sudut pandang.


(Iwan)