Selasa, 17 Oktober 2017

DEWASA



Kemarin Anis-sandi Resmi dilantik. Apa artinya buat kita, yang bukan warga DKI?
Saya teringat sepotong sajak Subagio sastrowardoyo:

"Hanya lewat dosa kita jadi dewasa"

Dari segala dinamika yang terjadi terbuka peluang untuk lebih dewasa. Dewasa bukan perkara umur, tapi kebijaksanaan dalam bersikap.

Kita akhirnya bisa belajar bahwa suhu kehidupan memanas, peneguhan identitas menuai ketegangan, terjadi hanya di saat-saat rawan: ketika pertarungan berlangsung dan dan pada tahap-tahap  konsolidasi.

Setelah itu sepi. Dan ibarat pertandingan sepakbola yang telah usai, orang orang membubarkan diri.
Apakah sudah selasai?

Belum. Atu lebih baik, tidak.

Seseorang sebagai korban kini mendekam dalam penjara.

Dan apa yang lebih penting dari itu semua ialah luka akibat pertarungan politik yang mengeksploitasi agama. Efek sosiologis akibat polarisasi politik sulit dihilangkan.  Saat ini mungkin hubungan kita dengan kawan yang tak sekeyakinan tampak baik-baik saja. Tapi kebencian, permusahan karna agama akan tetap tumbuh dan berakar jauh dalam bawah sadar. Ia ibarat bom. Bisa meledak kapan saja, bila suatu saat picunya ditarik lagi.

Ketika bung karno, mengingatkan untuk tidak sekali-sekali melupakan sejarah, seolah-olah ia berkata bahwa sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu bisa belajar dari pengalam masa silamnya. Pahit atau pun manis. Sebaliknya, bangsa yang tidak mau belajar dari sejarah, adalah bangsa yang tengah menuju kehancuran.

Oleh: Indra Jaya
(Kader HMI Kom. Ahmad Dahlan Unismuh Makassar)



BAGIKAN

Like dan Ikuti Fans Page:

0 komentar: