Selasa, 31 Oktober 2017

Opini: Absurditas Gerakan Mahasiswa


Saya hanya mencoba mengangkat kepala menyaksikan sisa perjuangan kita yang semakin mirip dengan Cheetah pincang. Ingin terus berlari tapi kaki sengaja kita dijerat hingga terluka.

Tapi itulah kenyataan kita, generasi tua sudah terlalu lelet untuk bergerak, hatinya tidak setegar dulu lagi, memang tidak boleh lagi kita bersandar pada mereka.

Sedang kita generasi muda begitu dungu untuk berpikir, era millinia  membuat kita semakin blo'on, kecanggihan gadget hanya kita gunakan untuk bigo live, live Facebook dan segala aplikasi narsis yang merusak jiwa.

Abraham Maslow memang mengatakan "kebutuhan dasar  tertinggi manusia adalah Aktualisasi diri". Yang kita lakukan dengan aplikasi narsis itu memang aktualisasi diri, tapi itu kontra produktif. Berjoged-joged ria sambil mempertontonkan pusaka andalan demi diamond dan super car, apa itu tidak gila?

Demi memenuhi hasrat pengakuan, kita bela-belain nongkrong di brand-brand papan atas semisal excelso, KFC, Pizza Hut, McD dll.

Fenomena ini juga terjadi pada mahasiswa yang dikenal sebagai aktivis kampus. Yah mereka acap kali meneriakkan tolak asing dan kapitalisme global tetapi tetap antusias jika diajak nongkrong di tempat seperti ini.

Apakah ini keliru?, Yah tentu saja, karena dengan jajan ditempat demikian kita membantu tumbuh suburnya praktik-praktik kapitalisme global.

Absurditas gerakan mahasiswa memang demikian adanya saat ini.

Kalau untuk internal Makassar Absurditas lain dalam gerakan mahasiswanya adalah istilah penggunaan kata "Jendral". Istilah Jendral adalah istilah dalam dunia kemiliteran, yang memiliki makna sebagai pangkat tertinggi yang dicapai seseorang dalam dunia militer. Dari sini bisa kita melihat mahasiswa yang biasanya getol meneriakkan kesetaraan diam-diam menyembunyikan hasrat hirarki.

Para demonstran mengalami disorientasi dalam gerakannya, hingga yang ditampilkan hanyalah berebut citra diri. Citra diri ini semakin menguat sejak banyaknya saluran-saluran media sosial, tak ayal mereka saling berebut berfoto dengan TOA untuk dijadikan  gambar profil akun medsos.

Contoh kekonyolan lain yang sering dilakukan yakni penolakan atas Dehumanisasi, sementara mereka juga pelaku konflik sesama mahasiswa dari adu jotos, bahkan sampai adu beceng (sejenis senjata rakitan) sering di pertontonkan di dunia kampus. Konflik rasis sesama mahasiswa mereka tidak menganggapnya sebagai Dehumanisasi. Pembenarannya adalah siri' na pacce' (suatu budaya pada suku Bugis-Makassar).

Soe Hok Gie pun pernah mengungkapkan tentang absurditas mahasiswa, dalam sebuah catatannya Gie menuliskan "Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa".

Saya yakin tulisan ini akan dianggap ngaco oleh aktivis kampus, memang susah menerima kritikan jika hati diselubungi oleh keangkuhan, Cak Nun berpesan "Jika dirimu dikritik maka segala kekuasaan, jabatan, gelar yang melekat padamu meski kau tanggalkan dahulu. Hatimu mesti tawadhu dan Arif dalam mendengarkan, setelah kau mendengarkannya maka embel-embel yang engkau lepaskan dapat engkau kenakan kembali untuk kau gunakan untuk memperbaiki keadaan".

Soe Hok Gie berpesan Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia".

Terakhir pesan saya bagi para aktivis mahasiswa "Bukan dengan menjadikan dirimu terdengar melainkan dengan mempertahankan kewarasan sendirilah engkau mengemban pusaka kemanusiaan".

Selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda.



Oleh: Idil Maronta Daeng Matua

BAGIKAN

Like dan Ikuti Fans Page:

0 komentar: