banner here

Opini: Represi Ingatan G30S

advertise here
Idil Ashari


Pendahuluan
Ketika film  besutan Arifin  C. Noer  tentang G30S yang sempat diberhentikan pemutarannya pada tahun 1998, yang tahun ini kembali di gemakan untuk  ditonton, serta merta menyedot perhatian masyarakat utamanya mereka yang lahir di era pasca reformasi yang memang sama sekali tidak pernah merasakan kewajiban untuk menonton film tersebut. Tentu tiap tahun wacana ini ramai digunjingkan oleh lapisan masyarakat kita, tidak bosan-bosan mereka membicarakan soal-soal tragedi kemanusian pada tahun-tahun 1965-1966. Hampir semua kelas masyarakat ikut berbicara, dari yang buta sejarah sampai pakar sejarah nasional.

Analisis
Ada represi  ingatan secara kolektif yang disemai kembali. Film ini membawa 2 (dua) keping kepentingan sekaligus yakni menunjukkan mahluk jahat yang bernama Komunis dengan segala kisah yang dianggap licik dan merusak. Sisi yang lain mengilustrasikan citra dan symbol kebijaksanaan yang ada dalam spirit nasionalisme Indonesia. Propaganda kebencian antara sesama manusia kembali diperbesar,propaganda ini kembali menjelama  menjadi senjata ampuh seperti agama dengan segala ritus dan ritualnya. Propoganda kebencian ini diganti dengan indoktrinasi dan pengabsahan kekerasan. Model ini sering dipraktekkan untuk mendesain hegemoni politik dari dominasi kelas. Bila gagasan kelas berkuasa diterima sebagai anggapan umum maka tujuan ideologisnya mudah untuk tercapai.

Begitu kuatnya media propaganda ini, memengaruhi cara berpikir masyarakat.  Ditambah lagi dengan peran media massa  yang begitu ampuh menjadi sarana politik dalam membentuk imajinasi seragam. Tentunya jika kita melihat dalam perspektif kritis, perang symbol semacam ini tidaklah  berdiri sendiri, dan bebas kepentingan. Dalam dirinya hidup berbagai relasi yang saling berkaitan. Pada level tertentu, relasi-relasi tersebut adalah manifestasi watak kekuasaan ideologis yakni berbicara tentang mendukung dan mempertahankan status quo kekuasaannya. Setiap teori ideologi selalu menekankan bahwa semua komunikasi dan makna tersebut tidak bisa di pahami diluar konteks sosialnya.

Penggiringan opini, penyeragaman interpretasi dapat membangun  represi  atas ingatan kolektif massa. Mereka yang distigma penjahat bahkan sampai pada keturunanya diposisikan sebagai Ras yang berbeda dengan mayoritas masyarakat. Begitu  kuatnya pesan kebencian yang terbangun dalam ingatan kolektif massa. Trauma 1965-1966 menorehkan ketakutan sekaligus  kekhawatiran dan gambaran sebuah masa panjang fasisme politik di Indonesia. Tidak hanya itu bagi mereka, generasi yang lahir bukan pada setting sejarah terjadinya peristiwa tersebut harus menanggung trauma kecemasan, terpaksa memikul beban sejarah dan dihantui oleh pikiran  serta stigma yang cukup memenjarahkan nalar kritisnya. Banyak yang  menyadari, tetapi tidak sedikit yang ikut mengutuk Orang-orang yang dianggap komunis (korban). 

Begitu kejam stigma itu terhadap kemanusiaan, mereka yang belum terbukti melanggar aturan negara dan  belum terbukti melakukan kejahatan kemanusiaan asalkan  telah di stigma komunis maka mereka jahat. Bagi para korban, ketidakmerdekaan membawa efek rentetan trauma dalam relasi keluarga mereka. Sebagian orang mampu melewati trauma , namun sebagian lainnya harus terpenjara dalam beban psikologis. Traumatik bisa membangun iklim kecurigaan kepada siapa saja, dan inilah efek terdalam dari trauma kolektif. Trauma juga mengkreasikan sejarah baru yang terkait dengan berbagai peristiwa kelam tersebut. Ia dapat menghancurkan dan melumpuhkan manusia dalam jangka panjang.

Kesimpulan
Klaus H Schreiner melakukan analisis pada film G30S, Schreiner menunjukkan bahwa narasi resmi dan represi atas ingatan kolektif telah dipahatkan kembali. Seperti halnya film G30S, film ini membawa kecenderungan yakni meletakkan komunis sebagai terdakwa. Di ujung analisisnya Scheirner menunjukkan bahwa sejarah harus kembali dihadirkan dengan benar melalui narasi-narasi korban. Yang pada akhirnya, perlahan tahapaan proses ini akan mampu menyembuhkan trauma korban. Untuk menguatkan gagasan Schreiner kita mesti mendudukan persitiwa masa lampau yang sudah menjadi Interpretasi sejarah sebagai peristiwa makna yang tidak terlepas dari struktur nilai yang ada dalam masyarakat masa lalu dan mungkin juga sampai saat ini. Nilai ini harus betul-betul diupayakan agar berpihak pada kemanusiaan sehingga keberpihakan nilai sekalipun tidak imanen tetap akan berpihak pada landasan kebenaran universal yakni kebenaran akan kemanusiaan.

Sumber:
Kluas. H. Schreiner. 2015.  Lubang Buaya: History of Trauma and Sites of Memory. Singapure. Singapure University Press.
Nirwaya Tri Guntur.2010. Kuasa Stigma dan Represi Ingatan. Yogyakarta. Resist Book.