Sabtu, 21 Oktober 2017

Pendidikan Nasional dan Refleksi Kerusuhan HUT PGRI KE-71 Kabupaten Jeneponto

Pendidikan Nasional dan Refleksi Kerusuhan HUT PGRI KE-71 Kabupaten Jeneponto
Idil Ashari


Pengantar
Pendidikan seyogyanya adalah proses memanusiakan manusia kurang lebih demikian menurut Paulo Freire. Dalam dunia pendidikan kita mengenal sistem persekolahan.

Indonesia mengenal sistem persekolahan sejak pemerintahan kolonial Belanda melakukan ekspansi ke Nusantara sebagai bagian dari politik etis terhadap para Bangsawan Indonesia.

Seiring perkembangan sejarah, Indonesia mereduksi sistem persekolahan ini menjadi pendidikan formal untuk dijadikan tolak ukur  keberhasilan pembangunan manusia. Jika pada zaman kolonialisme Belanda, persekolahan dijadikan politik etis, maka pasca kemerdekaan tujuan pendidikan dirancang dalam UUD 1945 yang dituangkan dalam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003. Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”
[next]
Untuk menunjang terlaksananya tujuan pendidikan nasional maka diangkatlah tenaga pendidik, Tenaga pendidik adalah individu yang mampu melaksanakan tindakan mendidik dalam satu situasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Mendidik tentunya bukan hanya membuat peserta didik memiliki kecerdasan IQ tetap juga ada fungsi untuk menanamkan nilai-nilai moral anak bangsa.

Analisis
[next]
Mari kita merefleksi tenaga pendidik kita, saya mengambil sampel pada HUT PGRI KE 71 Kabupaten Jeneponto, tentu bukan untuk melakukan generalisasi tapi hanya sekadar refleksi. Pada hajatan para guru ini, tepatnya pada cabang olahraga Futsal yang mempertemukan dua kecamatan di babak 8 besar terjadi inseden yang memilukan, oknum guru saling bertikai, saling dorong dan mempertontonkan karakter paling primitif di muka bumi, keberingasan ini diperlihatkan di hadapan beberapa peserta didik, yah ada adik-adik pelajar yang menyaksikan bagaimana gurunya bertikai, beradu kata-kata penuh kebencian dan saling kontak fisik.  Akankah kita mengharapkan perbaikan moralitas anak bangsa sementara tenaga pendidik kita bermental preman?

Sekarang Patutkah kita menyalahkan jika adik-adik pelajar  terlibat tawuran dan pembegalan?

Kita sering mendengar ungkapan "guru kencing berdiri, murid kencing berlari". Jika guru melakukan hal-hal tidak terpuji maka tentu sang murid akan terinspirasi dengan hal-hal demikian.

Mereka yang bertikai pada hajatan tersebut tentulah tidak dapat kita maklumi, apalagi dalih manusia biasa, seorang pendidik mesti harus selesai dengan soal-soal demikian, mereka telah melewati jenjang-jenjang pendidikan formal yang mutu dan kualitasnya dijamin oleh negara.

Aksi premanisme ini haruslah ditinggalkan di dunia kampus, seiring ditinggalkannya status kemahasiswaannya. Saat ini mereka adalah guru yang memegang amanah membentuk watak dan peradaban bangsa.

Mereka orang-orang pilihan yang mesti mengarahkan peserta didik menjadi manusia berakhlak mulia, berilmu, dan bertanggungjawab (tujuan pendidikan nasional).

Jika sang guru tidak lagi mampu mempertontonkan ahlak mulia, lantas bagaimana mungkin akan mampu mengajarkan pada peserta didik.Guru bukan hanya sekadar berilmu. Guru mesti berakhlak mulia.

Mungkin inilah contoh ego pengetahuan, makin banyak ilmu yang kau miliki makin besar ego yang kau bawa.

Orang-orang berpengetahuan ini dibutakan oleh ilmunya, klaim kebenaran mutlak menggiringnya melampaui batas kemanusiaannya, jauh meninggalkan eksistensi luhurnya menuju eksistensi dangkal.

Kasihan aku dengan adik-adik pelajar, mereka tidak layak dididik oleh guru yang model demikian. Guru yang tidak selesai dengan kemanusiaannya tidak layak jadi pendidik.

Kesimpulan
[next]
Tugas seorang guru adalah tanggungjawab besar, tidak hanya selesai pada ruang-ruang kelas. Guru memiliki tanggungjawab sosial atas perubahan mental dan kemajuan IPTEK Bangsa.

Guru yang baik ibarat lilin, membakar dirinya sendiri demi menerangi jalan orang lain. Guru harus membakar keakuannya demi peserta didik.

Yang paling hebat dari seorang guru adalah mendidik dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar (KH. Maimoen Zubair).

Kalau guru hanya ahli dan terampil mentransfer materi pembelajaran maka suatu saat peranan guru dapat diganti dengan media teknologi moderen (Sahertian).

Pustaka:
  • Author's Guide.2011.Merebut Kembali Kedaulatan Pendidikan Tinggi. P3i Press. Makassar.
  • Freire Paulo dan Illich Ivan. 2009. Menggugat Pendidikan. Pustaka Pelajar Yogyakarta
  • Tujuan Pendidikan Nasional http://belajarpsikologi.com/tujuan-pendidikan-nasional/. 21 September 2017

BAGIKAN

Like dan Ikuti Fans Page:

0 komentar: