banner here

Potret Kampusku: Batu Nisan untuk Pergerakan

advertise here


Kehidupan keseharian ku menjadi ladang dongeng seniorku. Menceritakan begituh indahnya kisahnya pada waktu itu, bukan soal majunya pembangunan dan bukan juga kisah asmarahnya.

Hal itu dia ceritakan banyaknya. Ladang diskusi di sudut kampus,dan banyak masyarakat ilmiah yang sadar bahwa baca buku dan diskusi adalah kegiatan sehari harinya. Tidak hanya itu,  masih bnyak mahasiswa yang betul peka melihat realitas sosial, sehinngga di jalan, bukanlah mobil dan motor yang menjadi penghuni dan raja yang lalu lalang di jalanan sana, melainkan banyaknya manusia yang berdiri dan berteriak dan menahan panasnya terik matahari. 

Hal ini, dilakukan bukan sebuah pencapaian nama atau mencari eksistensi diri. Ini dilakukan tidak hanya semata-mata hadir, melainkan untuk meluapkan semangat, sembari memuntahkan kepusingan kami terhadap pemerintah maupun dunia kampus. 

Apa yang dilakukannya bukan berarti itu berjalan mulus seperti yang di ceritakannya. Masih banyak manusia tertawa terbahak-bahak melihat suara kebenaran itu di sampaikan. Masih banyak spekulasi atau anggapan bahwa semua itu berdasarkan uang atau biasa di sebut gerakan 86. 

Seniorku mengambil rokok dan membakarnya dan melanjutkan ceritanya sambil tertawa. Kampus yang notabenya mengembangkan potensi seseorang atau memanusiakan manusia kini hanya sebatas cerita.

Semenjak masuk kampus dan beorganisasi, aku menjalani kuliah seperti mahasiswa pada umumnya. Kuliah, pulang. Kampus, kos. Buku, tugas. Begitu seterusnya. Semester demi semester telah terlampaui. Keganjilan kampus ini pun mulai meresahkanku ketika Bukan hanya saya pribadi yang merasakan keganjilan itu, kawan-kawan mahasiswa jurusan juga merasakany, Genap dua tahun sudah aku berkuliah di kampus tercinta ini. 

Sekarang aku sudah masuk semester lima. Dua tahun menjalani kuliah, banyak sekali hal yang kualami. Berganti – ganti organisasi telah membuka pikiranku untuk melihat mana yang baik dan buruk untuk diriku atau lingkunganku. Selain pengalaman organisasi, aku juga memiliki teman baru yang bisa kuajak berdiskusi. Mereka wawan,qadri,imran,dan rey gayus, Seperti mahasiswa lumrahnya di kampus ini. 

Kami ngobrol santai ditemani secangkir kopi dan beberapa batang rokok.  Berawal dari obrolan – obrolan ringan seperti inilah terbesit ide untuk melakukan suatu perubahan bagi kampus. Inilah yang membedakan kami dengan mahasiswa lain di kampus biru ini.

Ketika mahasiswa lain berbincang tentang baju baru dan gadget baru, kami membuat gerakan kecil untuk membuka paradigma baru sebagai mahasiswa yang tanggap akan posisinya.

Biasanya kami berdiskusi tentang mengenai isu isu kampus mahalnya pembayaran spp tiap tahunnya naik dan kami bercerita ini kampus atau ladang bisnis sambil tertawa. 

Tapi masih bnyak mahsisiwa yang tidak peduli akan hal itu. Mereka lebih memilih bermain game di  kampus, berpacaran, karaoke, ngobrol tanpa tujuan yang jelas. Benar – benar mencerminkan kehedonisan. Terkadang aku mengumpat dalam hati melihat kenyataan seperti ini. Dan, tak jarang pula kami berfikir, apakah iklim kampus seperti ini sengaja di bentuk? Ataukah memang ada suatu kesalahan tentang sistem pendidikan kita? Sehingga berdampak pada generasi yang lalai seperti ini.
 Beginilah potret mahasiswa di kampusku, kukirikan doa untuk pergerakan. 

Oleh: Asmin 
(Mahasiswa Manajemen Unismuh Makassar)