Perhatian Itu Karena Apa?

oleh
Idil Adhari
Sangat senang tentunya jika kita mendapat perhatian. Perhatian itu akan selalu kita ingat sampai-sampai jika perhatian itu dalam bentuk tulisan atau gambar virtual maka biasanya perhatian itu akan berulang-ulang kita buka, semisal perhatian dari pacar, gebetan, atasan, surprise dari suami,  voice Note dari istri atau dari aplikasi seperti Facebook.
Namanya juga manusia, serasional-rasionalnya manusia, kita juga punya sisi perasaan yang mendorong untuk menginginkan perhatian seperti Social Needs dalam Hirarki kebutuhan Abraham Maslow dan itu masih manusiawi.
Lantas apa yang mendorong orang memberikan perhatian pada kita?
Apakah semua murni karena rasa sayang atau ada faktor lainnya?
Semisal saat suami membantu menyiapkan makan malam, anda sebagai istri pasti akan merasa bahagia, tetapi apakah perasaan yang sama akan muncul jika hal itu dilakukannya bukan seperti biasanya?
Dalam hati kecil anda sebagai istri, Anda akan bertanya-tanya ada apa gerangan suami saya seperti ini? tentu bukan untuk mendapat jatah lebih di tempat tidur. Jawaban dari pertanyaan itu akan anda dapatkan saat sang suami melihat senyum manis anda, mungkin suami anda mau minta izin jika malam ini ia akan pulang larut malam karena ingin main gaplek atau main ludo dengan teman-teman di pos kamling, dan anda sebagai seorang perempuan yang punya rasa sayang yang besar tentu tidak ingin membuat suami kecewa setelah melakukan pengorbanan yang melelahkan tadi sehingga anda memberikan izin tersebut.
Dari ilustrasi diatas kita bisa melihat bagaimana perhatian muncul karena ada suatu kepentingan. 
Demikian halnya dengan perhatian yang bisa saja selama ini kamu dapatkan. Satu contoh lagi, Facebook sering memberikan perhatian kepada para membernya, paling sederhana tulisan pada dinding kita “apa yang anda pikirkan?” sampai perhatian dalam bentuk kaleidoskop yang berisi slide aktivitas unggahan kita beberapa waktu yang lalu.
Apakah Facebook memberikan perhatian murni karena rasa sayang?
Ternyata tidak karena setiap kita mengakses Facebook maka semakin banyak uang virtual yang mereka dapatkan, bayangkan jika dengan 1,4 milliyar pengguna, Facebook mendapatkan keuntungan 281 juta rupiah permenitnya (sumber: diari Indonesia, 13 Maret 2013).
Artinya Facebook memberikan perhatian pada membernya itu karena akumulasi kapital, makin banyak member yang mengaksesnya makin banyak juga laba yang diperoleh.
Dari sini kita bisa sedikit mendapat gambaran jika perhatian bisa didapatkan andai sesuatu yang diperhatikan itu mempunyai hal yang kita inginkan semisal kapital tadi. Dari kacamata itu wajarlah kiranya para petinggi bangsa kita tidak memperhatikan warga Kulon Progo yang digusur lantaran pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (Nyia). Sebab penolakan warga Kulon Progo tidak memberikan income kapital buat para petinggi bangsa.
Bandara Nyia di Kulon Progo dipandang lebih menjanjikan perputaran kapital untuk negeri ini sehingga support penuh diberikan pada PT. Angkasa Pura oleh petinggi bangsa kita.
Mereka tidak lagi melihat 400 hektar lahan pertanian produktif yang akan hilang, mereka tidak lagi memikirkan jika dalam 1 hektar lahan di Kulon Progo dapat menghasilkan 25 ton buah melon, dalam 1 hektar menghasilkan 50 ton cabai yang dalam setahun dapat melakukan panen 2 kali, atau 30 ton/hektar hasil dari menanam semangka, 13 ton/hektar hasil dari panen padi dan 7,5 ton/hektar hasil dari tanaman jagung (sumber: metrotv news.com, 30/08/2016).
Akhirnya mereka yang nanti lahannya tergusur oleh bandara Nyia hanya akan mampu menikmati kelap kelip lampu bandara dari kejauhan, hanya akan merasakan berisiknya suara pesawat yang datang dan pergi. Dan para pemudanya kelak jika telah memiliki anak cucu hanya akan mampu berkata, bandara itu dulu tanahnya adalah milik bapak.
BACA JUGA:   Embrio Westernisasi di Masyarakat Pedesaan