Edukasi: Apa itu Literasi? Lihat Arti Literasi Berikut Ini

oleh

Lensapos.com – Secara sederhana, literasi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis. Yang dikenal dengan melek aksara atau keberaksaraan. Namun sekarang ini literasi memiliki arti luas, sehingga keberaksaraan bukan lagi bermakna tunggal melainkan mengandung beragam arti (multi literacies).

Ada bermacam-macam keberaksaraan atau literasi , misalnya literasi computer (computer literacy), literasi media (media literacy), literasi teknologi (technology literacy), literasi ekonomi (economy literacy), literasi informasi (information literacy), bahkan ada literasi moral (moral literacy) Jadi, keberaksaraan atau literasi dapat diartikan melekteknologi, melek informasi, berpikir kritis, peka terhadap lingkungan, bahkan juga peka terhadap politik (Permatasari 2015 :3).

Representasi budaya tekstual atau budaya literasi dalam aktivitas akademik berbentuk kegiatan membaca, menulis dan presentasi lisan berdasarkan teks merupakan rutinitas yang harus dilakukan oleh seluruh warga kampus, terutama oleh mahasiswa dan staf pengajar(Syahrani 2013 : 159 ).

Menurut Harras dalam Suwandi (2015 :6), menyatakan bahwa Literasi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis atau kadang disebut dengan istilah “melek aksara” atau keberaksaraan. Sedangkan menurut Wiedarti (2016: 2 ) Literasi tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana peserta didik dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatkannya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan peserta didik, baik di rumah maupun di lingkungan sekitarnya.

BACA JUGA:   Pramuka SMA Negeri 4 Bantaeng Gelar Baksos Santuni Korban Kebakaran di Bonto Lonrong

Berdasarkan beberapa defenisi diatas mengenai literasi, dapat diartikan bahwa literasi adalah kemampuan seseorang dalam membaca maupun menulis atau dapat disebut melek aksara. Namun seiring perkembangan zaman, pengertian literasi semakin meluas bahkan hampir mencakup seluruh bidang ilmu pengetahuan sehingga tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca dan menulis namun juga pada kemampuan analisis.Beragam macam kemampuan literasi disesuaikan dengan bidang yang berhubungan.

Adapun tahap-tahap pembentukan atau program dalam membangun Budaya literasi menurut (Permatasari 2015 :8) yakni sebagai berikut.

    1. Kita perlu memperbaiki kualitas dan pemerataan pendidikan agar bisa mendorong tingkat melek huruf yang lebih tinggi. Infrastruktur (fasilitas) dan suprastruktur (sumber daya manusia) perlu dikembangkan hingga menjangkau pelosok Tanah Air. Jangan sampai ada masyarakat di pedalaman Nusantara yang masih sulit belajar garagara tidak ada sekolah, kekurangan guru, atau minim fasilitas lain. Negara bertanggung jawab memenuhi fasilitas pendidikan bagi warganya.
    2. Kita bangun lebih banyak perpustakaan di semua daerah sebagai tempat yang nyaman untuk membaca, jumlah koleksi buku yang banyak, dan menawarkan kegiatan yang menarik.
    3. Dibutuhkan program-program berkelanjutan untuk lebih memperkenalkan buku dan mendorong minat baca buku ke sekolah dan masyarakat umum. Jangan terpaku pada seremoni, tetapi fokus pada terobosan yang lebih membumi dan memikat kaum muda untuk membaca.
    4. Dari sisi penerbit, kita dorong agar semakin banyak buku diterbitkan, terutama buku-buku yang berkualitas dari berbagai bidang. Kian banyak tawaran buku menarik, kian banyak alternatif bacaan bagi masyarakat.
    5. Kita dukung kekuatan masyarakat madani untuk bersama-sama pemerintah dan semua pihak membangun peradaban membaca buku. Bentuknya bisa berupa pendirian taman bacaan hingga ke pelosok Nusantara, program pendorong membaca, atau langkah-langkah lain yang mungkin diambil untuk memprovokasi kaum muda agar mencintai buku.
BACA JUGA:   Opini: Budaya Literasi Melalui Program Gls Untuk Perkembangan Minat Baca
BACA JUGA:   Liberal dan Senjatanya

Peraturan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Dalam Permendikbud tertera bahwa salah satu kegiatan wajib siswa dalam mengembangkan potensi diri peserta didik secara utuh yakni Menggunakan 15 menit waktu sebelum hari pembelajaran dimulai untuk membaca buku selain buku mata pelajaran (setiap hari).

Pada implementasinya, Pemerintah dalam upaya menumbuhkan gemar membaca pada masyarakat yakni melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS), Gerakan Literasi Masyarakat (GLM) serta Gerakan Literasi Bangsa (GLB).

Menurut Irsyad (2015 :96), menyatakan bahwa Untuk mendukung berkembangnya kondisi sekolah yang berbudaya literasi seperti yang diharapkan, sekurang-kurangnya kepala sekolah mampu (1) menentukan arah perubahan, (2) menyeleraskan hubungan kerja SDM di sekolah, dan (3) meningkatkan motivasi berprestasi. Ketiga indikator tersebut mencakup keseluruhan dari program pemerintah melalui Geakan Literasi Sekolah.

Oleh: Khairul Azwar

(Rl/Lensapos.com)