Generasi Senyap dan Warung Kopi

oleh

Lensapos.com – Warung kopi tidak lagi terasing di telinga masyarakat kota Makassar, fenomena warung kopi banyak terdapat di sepanjang jalan dan lorong yang tidak sedikit jumlahnya. Dengan berbagai bentuk bangunan yang unik dan ketersediaan berbagai fitur seperti Free Wi-Fi, TV, live Karaoke dan layar lebar untuk menyaksikan pertandingan sepak bola menjadikan warung kopi sebagai tempat nongkrong yang menjadi rutinitas bagi beberapa kalangan muda maupun orang tua untuk dikunjungi.

Banyaknya jumlah warung kopi di kota Makassar dengan khas dan rasa kopinya  menjadi satu daya tarik tersendiri yang menjadikan warung kopi sebagai tempat ketiga setelah rumah dan tempat kerja.

Kenyamanan yang didapat selama berada di warung kopi menjadikannya sebagai tempat yang bukan hanya sekedar untuk menikmati secangkir kopi lalu pergi begitu saja, tetapi dengan ciri khas tersendiri menjadikannya sebagai tempat bagi masyarakat Makassar untuk melakukan berbagai macam kegiatan berbisnis, melakukan transaksi, berjumpa dengan sahabat, melakukan rapat, atau mengerjakan tugas kuliah bagi kalangan mahasiswa. Dalam konteks ini hal yang fundamental selain menikmati secangkir kopi adalah sebagai ajang untuk berdiskusi dan proses pertukaran informasi.

Banyaknya ide-ide kreatif yang berawal dari secangkir kopi dan isu-isu terhangat tentang lingkungan sekitar menjadi pembahasan yang tidak asing di warung kopi. Kebebasan yang terjadi secara leluasa menjadikannya sebagai wadah yang bebas membicarakan apa saja. Bebas berbicara mulai dari wacana ekonomi, budaya, hukum, sosial bahkan sampai ke isu-isu yang berbau politik.
Realitas dari warung kopi di kota Makassar merupakan sebuah tempat yang jarang tak berpengunjung, banyak kalangan muda maupun orang tua berdatangan dan pergi berlalu lalang keluar masuk. Dengan adanya fitur Free Wi-Fi sehingga banyak yang lupa waktu, ingin berlama-lama entah hanya sekadar untuk mem-browsing atau menyibukkan diri dengan berbagai media sosial. Media sosial sebagai sebuah alat untuk melakukan interaksi di dunia maya dengan orang yang mungkin atau bahkan tidak dikenal dari berbagai daerah yang ada di Indonesia.

BACA JUGA:   Jokowi Akui Agak Sedikit Repot Nikahkan Kahiyang Ayu, Kok Bisa?

“Aneh bin ajaib memang” ungkap teman saya di kantin Pasca Sarjana UNM.

Lucu dan tak dapat terbantahkan ketika kawan semeja asyik tertawa, senyum, memainkan jari-jari sambil menatap layar handphone atau laptop dan memainkan media sosial dengan orang yang jauh entah dimana, sedangkan kawan semeja tidak diperdulikan. Hal ini jadi sedikit aneh ketika orang yang jauh tidak diketahui alamatnya yang pasti menjadi begitu dekat karena sosial media, sedangkan kawan yang satu meja yang sangat dekat menjadi begitu jauh.
Memang ini sungguh sebuah fenomena sosial di warung kopi di jaman now yang di budayakan dari berbagai kalangan sehingga lama-kelamaan dapat menghilangkan esensi tersendiri di mana hakekat warung kopi dijadikan wadah untuk melakukan diskusi dan bertukar informasi, di mana sejatinya warung kopi sering melahirkan ide-ide kreatif untuk pembangunan sebuah wilayah namun kini menjadi tempat yang ramai tapi dalam artian sepi.
Tak dapat dipungkiri, kemajuan teknologi di era modern lewat proses akulturasi dan westernisasi secara negatif menjadikan kalangan muda sebagai generasi senyap yang ekslusif. Tidak melatih diri untuk saling bertemu, sehingga hal tersebut membuat susah dalam melakukan interaksi di dunia nyata. Sering kita melihat banyak orang yang aktif di media sosial tapi orang-orang seperti ini kurang kecakapan dalam berinteraksi secara langsung, cenderung orang-orang seperti ini lebih senang menyendiri dan memiliki teman yang sedikit di dunia nyata. Sulit bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Hal, ini juga akan berdampak terhadap sifat dan karakter kepada setiap individu.

BACA JUGA:   Resmikan Pojok Baca di Makassar, Najwa Shihab dan Gibran Rakabuming Buat Kecewa Penonton
BACA JUGA:   Sempat Jatuh Bangun, Pasangan Usia Dini di Bantaeng Akhirnya Menikah

Perkembangan elektronik dan teknologi yang berkembang secara pesat memang tidak dapat dihindari. Semakin hari semakin banyak hal-hal baru ditemukan untuk mempermudah manusia dalam melakukan berbagai kegiatan. Dalam hal ini, sebagai orang yang terdidik sudah sewajarnya mampu memilih dan memilah tindakan yang sebaiknya harus di dilakukan. Jangan terlena dengan situasi dan suasana. Keberadaan warung kopi harus dijadikan sebagai sebuah wadah untuk berinteraksi dan bersosialisasi untuk menjalin tali silratulrahim antara sesama manusia. Jangan sampai hanya datang, pesan kopi duduk diam setelah itu pulang, tanpa memperoleh sesuatu yang baru dan bermanfaat hanya karena lebih sibuk dan terfokus kepada bermacam fitur di media sosial.

Apa salahnya ketika duduk di warung kopi bersama kawan atau rekan kerja, ada baiknya HP atau hal yang menyangkut dengan sosial media dihentikan sejenak untuk bercengkrama dan tertawa ria bersama kawan-kawan semeja. Interaksi ini penting di warung kopi agar yang jauh jadi dekat, dan yang dekat tak menjauh.

(Rusdi Gallarang)