Opini: Budaya Literasi Melalui Program Gls Untuk Perkembangan Minat Baca

oleh

Lensapos.com – Rendahnya minat baca merupakan masalah dalam mencapai kemampuan berbahasa siswa, termasuk di dalamnya adalah keterampilan membaca yang memiliki banyak manfaat dalam perkembangan bahasa siswa. Keterampilan membaca merupakan salah satu dasar bagi seseorang untuk memperoleh pengetahuan. Membaca merupakan suatu proses memahami isi dari teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca, mempunyai peranan yang utama dalam membentuk makna. Melalui kegiatan membaca siswa mampu memperoleh banyak pengetahuan. Oleh sebab itu, guru sebaiknya memiliki perhatian khusus dalam kompetensi membaca ini karena selain manfaatnya yang besar bagi siswa, membaca merupakan kegiatan yang kompleks.

Dengan membaca seseorang dapat memperluas cakrawala berfikir yang kaitannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan (Dahlan, 2008:21) Membaca juga dapat dijadikan sebagai media informasi, kenyataannya saat ini beberapa masyarakat Indonesia masih minim dalam mengimplementasikan budaya literasi.

Menumbuhkan budaya literasi pada siswa memang tidaklah mudah, dibutuhkan keseriusan pihak tenaga pendidik untuk melakukannya. Inti literasi yaitu membaca, berpikir dan menulis sangat diperlukan siswa untuk menyelesaikan studi, melanjutkan studi, mempersiapkan diri memasuki dunia pekerjaan, dan belajar sepanjang hayat di tengah masyarakat. Sehingga apabila literasi dijadikan metode pengembangan kegiatan pembelajaran di sekolah berarti aktivitas pembelajaran yang dirancang guru bertumpu pada kegiatan membaca, berpikir dan menulis dan kegiatan yang biasa menyertainya, seperti berdiskusi, memecahkan masalah, mengembangkan proposal kegiatan, meneliti dan melaporkannya. Literasi seakan mutlak dimiliki oleh setiap individu yang hidup ditengah kencangnya arus global tak terkecuali masyarakat Indonesia.

Survei yang dilakukan oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) dalam Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia walaupun sebagai salah satu Negara didunia yang menempati urutan ke lima terbesar dengan jumlah penduduk terbanyak, namun faktanya berbanding terbalik dengan kemampuan dalam menciptakan ekosistem literat.

BACA JUGA:   Rayakan Hut Julia Perez, Keluarga Pengajian Hingga Siapkan Masakan Jengkol

Jumlah penduduk Indonesia hasil survei penduduk oleh Badan Pusat Statistik tahun 2012 (BPS) memaparkan bahwa penduduk Indonesia berumur 10 tahun keatas pada tahun 2009 yang gemar membaca surat kabar/ majalah yakni 18,94 % dan mengalami penurunan pada tahun 2012 sebanyak 1,28 % sehingga tersisa 17,66 %. Berbeda dengan penduduk yang gemar menonton yakni 90,27 % (2009) dan mengalami peningkatan ditahun 2012 yakni 91,68 % yang merupakan hasil dominan dari empat opsi yang di sediakan oleh BPS.

Hal tersebut dapat menunjukkan bahwa hampir mayoritas penduduk Indonesia 10 tahun keatas lebih gemar menonton dibandingkan membaca dan juga merupakan salah satu rendahnya minat baca penduduk indonesia. Hal tersebut menjadi tanggung jawab pemerintah dalam mewujudkan Indonesia menjadi negara berpengetahuan tinggi setara dengan negara maju lainnya, dan merupakan kesadaran yang harus diubah kedepannya.

Budaya literasi di Indonesia sejatinya harus berbanding lurus dengan jumlah penduduknya. Hasil penelitian Programme for Internasional Student Assessment (PISA) menyatakan, budaya literasi masyarakat Indonesia pada 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara tersebut.Sementar Vietnam justru menempati urutan ke-20 besar,pada penelitian yang sama,PISA juga menempatkan posisi membaca siswa Indonesia di urutan ke 57 dari 65 negara yang diteliti. PISA menyatakan, tidak ada satu siswa pun di Indonesia yang meraih nilai literasi ditingkat kelima, hanya 0,4% siswa yang memiliki kemampuan literasi tingkat empat. Selebihnya di bawah tingkat tiga, bahkan di bawah tingkat satu. Hal tersebut membuktikan bahwa kurangnya minat baca masyarakat Indonesia.

BACA JUGA:   Ini Harapan Besar Ketum Senat UIN Makassar Usai Sahkan Proker

Minat baca masyarakat Indonesia tercatat oleh UNESCO pada tahun 2012 yang menyatakan baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Ia menilai rendahnya budaya literasi Indonesia, salah satu penyebabnya karena pejabat dan birokrat pendidikan tidak paham tentang literasi itu sendiri. Akibatnya, literasi tidak menjadi bagian dari kurikulum termasuk dalam kurikulum 2013. Memang masalah yang sangat kompleks ketika minat baca dikalangan pejabat Indonesia saja sudah sangat kurang sebagaimana dicatat oleh penelitian UNESCO diatas.

Indonesia sebagai salah satu negara, telah berhasil mengurangi angka buta huruf.Data UNDP tahun 2014 mencatat bahwa tingkat kemelekhurufan masyarakat Indonesia mencapai 92,8% untuk kelompok dewasa, dan 98,8% untuk kategori remaja.Capaian ini sebenarnya menunjukkan bahwa Indonesia telah melewati tahapan krisis literasi dalam pengertian kemelekhurufan. Meskipun demikian, hasil penelitian tersebut tidak serta merta menjadikan masyarakat Indonesia berbangga diri, karena nyatanya tantangan yang saat ini dihadapi adalah rendahnya minat baca sehingga menjadi salah satu tugas pemerintah dalam meningkatkan budaya literasi masyarakat. Upaya pemerintah dalam meminimalisir rendahnya minat baca masyarakat Indonesia yakni dengan mengeluarkan suatu kebijakan seperti yang tertuang Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan Budi Pekerti,menggunakan 15 menit waktu sebelum pembelajaran dimulai untuk memebaca buku selain buku mata pelajaran (setiap hari). Hal tersebut dimaksudkan untuk menumbuhkan minat baca masyarakat Indonesia.

Minat baca pada tingkat sekolah dasar juga harus segera ditanamkan pada siswa, karena dengan menimbulkan dan menanamkan kebiasaan baca pada siswa, maka secara tidak langsung keterampilan membaca siswa akan semakin terasah. Keterampilan membaca yang dimiliki dapat mendorong siswa dalam membahami informasi secara analitis, kritis dan reflektif. Oleh karena itu, sekolah-sekolah tingkat satuan dasar yang ada di indonesia sudah mulai menerapkan budaya baca hampir secara keseluruhan. Penerapan minat baca yang diterapkan dalam penelitian ini adalah melalui jenjang pendidikan tingkat satuan pendidikan sekolah dasar, yang sangat mempengaruhi perkembangan anak ke jenjang selanjutnya yaitu pada masa remaja.

BACA JUGA:   Sosok Samsudiarti Sudirman di Mata Kader HMI Ahmad Dahlan

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang menjadi salah satu langkah pemerintah dalam menanamkan serta menumbuhkan minat baca. Gerakan Literasi Sekolah selain bertujuan untuk membangun karakter peserta didik juga bertujuan untuk menjadikan lingkungan sekolah menjadi lingkungan pembelajar sepanjang hayat dengan membudayakan membaca dan menulis (literasi). Kebijakan mengenai Gerakan Literasi Sekolah (GLS) telah banyak diimplementasikan pada jenjang pendidikan tingkat satuan pendidikan, baik pada Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menegah Pertama (SMP), serta Sekolah Menengah Atas (SMA) maupun Sekolah Menegah Kejuruan (SMK). Gerakan Literasi Sekolah (GLS) tidak hanya menjurus untuk membangkitkan minat baca pada siswa saja, namun lebih mengarah kepada menciptakan warga sekolah yang literat, Dalam penerapannya pun berlangsung secara bertahap.

Peran guru dalam menerapkan gerakan literasi sekolah (GLS) menjadi bagian integral didalamnya. Sebagai tenaga pendidik yang selalu berusaha untuk mengembangkan kompetensi dan profesionalismenya sudah seharusnya berperan aktif dalam program gerakan literasi sekolah ini. Tenaga pendidik, dalam hal ini adalah guru berperan sebagai pelopor budaya literasi di sekolah dan pemberi motivasi, terlibat aktif berarti senantiasa berpartisipasi dalam setiap kegiatan.

Oleh: Khairul Azwar 

 

(Rs/Lensapos.com)