Opini: Puisi Sukmawati dan Revitalisasi Keberislaman di Indonesia

oleh

Lensapos.com – Anda jengkel pada Ibu Sukmawati,

Sedangkan segelintir orang jengkel pada Anda.

Orang-orang yang jengkel kepada Anda merasa bahwa puisi yang dibaca Ibu Sukmawati itu tidak ada masalah.

Bukan berarti dia membela Ibu Sukmawati.

Akan tetapi, dia menganggap Anda-Anda ini belum siap dengan perbedaan.

Anda merasa bahwa isi puisi Ibu Sukma menghina Islam. Ributlah semua orang.

BACA JUGA:   Puisi: Alam Raya Adalah Sekolah (210)

Mulai dari Anda : orang-orang Islam fundamentalis, moderat, liberal dan aliran apa saja kembali turun gunung bersilat lidah.

Membawa kebenarannya masing-masing.

Sedangkan Anda dari belakang menawarkan kebenaran yang ujung-ujungnya hanya menambah runyam keadaan.

Anda dihadapan Ibu Sukmawati—apa yang mesti Anda lakukan :

apakah Anda sibuk mencari-cari kesalahan Ibu Sukma lalu membawanya ke pengadilan, memenjarakannya.

BACA JUGA:   Puisi: Kalender Maret

Akibat, anda takut bahwa tanpa ada ganjaran maka akan selama-selamanya Islam tetap dilecehkan oleh orang. Di hina orang.

Ibu Sukma mesti di penjara–sebab itu pelajaran bagi mereka calon-calon penghina Islam di masa akan datang.

Atau Anda sedikit lebih lunak, meminta Ibu Sukma meminta maaf dihadapan khalayak atas kejadian yang menurut Anda—Islam Anda dilecehkan.

BACA JUGA:   Opini: Pilpres 2019, Pilih Siapa dan Dapat Apa?

Ataukah Anda menyuruh Ibu Sukma lebih baik diam daripada bicara soal ajaran Islam yang dia tidak tahu. Maka selesailah persoalan.

Lantas, sudah Islam-kah Anda dalam menghujat Ibu Sukma. Sedangkan orang bijak berkata :

Ku sebut diriku saja muslim aku takut apalagi menyebut diriku Islam.