Opini: Terorisme dan Ketimpangan Sosial

oleh
Sutrisno mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar dan juga sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Gowa Raya. Tercatat ia berdomisili di Kabupaten Bantaeng. Lensapos.com (Foto/IST)

Lensapos.com – Secara etimologis, kata terorisme berasal dari kata bahasa Inggris to terror, diadopsi dari kata bahasa Latin terrere yang berarti gemetar atau menggetarkan. Bentuk noun-nya ialah terrorem yang berarti rasa takut yang berlebihan.

Kamus Bahasa Indonesia (2008) terbitan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional mendefinisikan teror sebagai usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan.

Sementara menurut Webster’s New School and Office Dictionary (1996) melihat teror sebagai membuat ketakutan atau kengerian dengan melakukan intimidasi atau ancaman untuk menakut-nakuti.

Namun, menurut James H. Wolfe (1987), tindakan terorisme tak selamanya bermotif politis. Dengan demikian, terorisme bisa kita katakan sebagai faham yang secara esensial bertujuan menciptakan rasa takut kepada orang lain melalui intimidasi ataupun kekerasan untuk kepentingan apapun.

BACA JUGA:   Utopia Kota

Terorisme sejatinya telah bertentangan dengan dengan nilai kemanusiaan kita, dalam konteks ini ketakutan yang di timbulkan oleh terorisme bukan hanya sebuah term yang mengacu pada keadaan psikologis saja.

“Takut ” menjurus pada pengekangan dimensi diri secara holistik yang menyebabkan orang-oranng akan takut untuk mengaktualisasikan diri secara penuh.

Saat ini masyarakat kita sedang dihebohkan dengan berita pengeboman 3 gereja di Surabaya, Jawa timur yang menewaskan 4 orang dan 33 orang mengalami luka-luka. Hal ini tentu saja membuat orang yang berada di sekitar tempat peristiwa dikepung rasa takut.

Peristiwa ini berpotensi menimbulkan ketegangan ditengah masyarakat beragama, sebagaimana yang kita ketahui beberapa peristiwa pengeboman yang terjadi selalu dikaitkan dengan kelompok-kelompok atau aliran aliran tertentu yang notabenenya merupakan pecahan dari berbagai organisasi islam dimasa lalu yang menyasar agama lain.

BACA JUGA:   Refleksi Pendidikan Indonesia: Benturan antara Cita dan Realitas

Hal ini membuat ummat Islam mendapat sterotipe sebagai agama yang radikal dimata masyarakat dunia.
Namun saya sendiri tidak yakin bahwa apa yang pelaku teror ini lakukan murni atas dasar agama, sebab dalam ajaran kitab suci Al-Qur’an tidak ada ayat yang menyerukan agar ummat Islam memaksakan orang lain untuk mengikuti keyakinan yang mereka anut dengan cara kekerasan.

Saya lebih melihat peristiwa ini sebagai bentuk kekecewaan dan ketidakpuasan terhadap sistem politik dan sosial yang ada di Indonesia saat ini sehingga memunculkan kelompok-kelompok yang menginginkan perubahan sistem politik secara total dan radikal dengan memanfaatkan isu agama yang telah ada sebagai medium untuk memberikan peringatan kepada pemerintah. Berbagai masalah yang melanda bangsa ini seperti korupsi, kemiskinan, penggusuran kaum tani dan pengangguran yang kian meningkat telah menimbulkan tekanan psikologis yang sangat mendalam bagi masyarakat.

BACA JUGA:   Kaji Bendungan Pammukkulu, Hasdar Onots : Penilai Harga Yang Kolot dan Tak Manusiawi

Oleh karena itu yang dibutuhkan untuk menekan atau meredam tindakan terorisme tidak harus selalu melibatkan TNI dan Polri melainkan juga melibatkan para elite politik yang bertugas mengeluarkan kebijakan yang bijak.

Pemerintah harus mampu melakukan perubahan dan menerapkan sistem politik yang lebih mengedepankan kepentingan masyarakat agar mampu melahirkan kestabilan tatanan sosial bangsa Indonesia.

Oleh: Sutrisno 

(Mahasiswa asal Universitas Muhammadiyah Makassar)