Opini: 27 Juni, Golput Adalah Pilihanku

oleh
Ilustrasi. Lensapos.com (Foto/IST).

Lensapos.com – 27 Juni nanti saya tetap konsisten untuk golput. Soal haram atau halalnya, saya berpikir jika hukum penciptaan sesuatu pada dasarnya adalah halal sisa kau gunakan untuk apa perkara itu. Lagi pula tukil-menukil ayat atau hadits yang dilakukan oleh penceramah itu sangat situasional.

Saya juga sependapat dengan tulisan seorang teman. Dia mengatakan tagline pemilih cerdas itu adalah “omong kosong jadul dalam sejarah demokrasi” dan sepertinya kita mesti meninjau kembali arti kata “cerdas” yang mereka gunakan sebagai alat propoganda tersebut.

BACA JUGA:   Opini: Budaya Literasi Melalui Program Gls Untuk Perkembangan Minat Baca

Sebab jika cerdas adalah kesempurnaan perkembangan akal budi, maka yang kulihat dalam pilkada ini adalah pemuasan hasrat berkuasa. Mereka yang berjuang getol adalah orang-orang yang paling berhasrat mengejar politik etis, para ASN-nya sibuk berburu untuk jabatan, yang dianggap tokoh masyarakat juga sibuk mengejar voters untuk mempermudah kelompok taninya.

BACA JUGA:   Potret Kampusku: Batu Nisan untuk Pergerakan

Para pemudanya jadi binatang politisi demi mengejar pengangkatan sebagai ASN dan mendapat persenan pengerjaan tanggul selokan. Tak usah bertanya keterlibatan pengusaha untuk apa.

Mereka lupa jika politik itu investasi peradaban bukan investasi jabatan. Kira-kira seperti itu kata Rocky Gerung.

Perjuangan politik bukan hanya dengan memenangkan suksesi-suksesi dalam pilkada. Hal itu, hanya salah satu alternatif dari ragam alternatif. Lantas jika alternatif tersebut adalah jalur paling busuk yang pernah kau lihat lebih baik memilih jalur yang lain agar kita tidak ikut-ikutan hilang kewarasan.

BACA JUGA:   Momentum Hari Buruh (May Day)

Akhirnya, saya harus berkata bahwa negara harus menerima sikap politik saya sebagai seorang golput, atau saya ingin mengatakan jika kalian adalah Pancasilais maka sikap politik golput harus kalian terima sebagai bagian dari kebhinekaan.

Oleh: Idil