Opini: Bencana Kemanusiaan, Kecelakaan Laut, Misteri?

oleh
Penumpang Ibu dan Anak dalam 1 pelampung dalam musibah tenggelamnya KM Lestari Maju di Kepulauan Selayar, Selasa (3/7/2018). Lensapos.com (Foto/IST)

Lensapos.com – Tidak ada sesuatupun yang berhak menjadi misteri di semesta ini kecuali Tuhan sendiri. Segala peristiwa dan kejadian yang menimpa manusia telah menjadi otoritas manusia, artinya kecelakaan laut merupakan kelalaian dan keteledoran manusia itu sendiri.

Peristiwa ini mengundang simpati dari kalangan manusia, dengan bentuk simpati yang cukup beragam. Mulai dari kehilangan harta benda, kerugian Negara, ketakutan dan trauma terhadap air laut, kehilangan sanak saudara-keluarga, serta kekecewaan satu dan lainya diakibatkan oleh musibah ini.

Tetapi hal yang cukup menyayat hati adalah menyaksikan orang-orang dengan sekuat tenaga menghadapi maut didepan mata akibat kehabisan tenaga, nafas, menghadapi gelombang laut serta situasi yang tidak di harapkan ini. Berenang dengan modal pelampung yang masih diragukan jaminan keselamatan untuk mereka.

Seorang ibu dan anak juga harus memanfaatkan situasi yang tidak diharapkan ini dengan alat yang tidak ada jaminan keselamatan baginya, dengan modal satu pelampung dililitkan dibadan berikut anak ikut dihimpitkan didalam dada dan perutnya berharap keselamatan kelak menjumpainya.

BACA JUGA:   Embrio Westernisasi di Masyarakat Pedesaan

Bukankah alat pelampung berwarna “orange” itu hanya untuk 1 orang ? Tidak ada niat saling menyalahkan dalam tulisan ini, tetapi sebagai bahan evaluasi bahwa musibah ini bukan sebuah misteri tetapi kelalaian dan keteledoran manusia.

Gelombang laut pasang bukan saja mengalahkan kapal yang akhirnya harus tenggelam, apalagi berhadapan dengan manusia yang tidak terlatih untuk mengambang di atas air laut pasang dengan gelombang dahsyat, belum lagi kepanikan psikologis akan berakhir pada kepasrahan dirinya kepada Tuhan ditengah laut.

Mohon maaf jika harus dikatakan situasi ini memberikan dorongan baru kepada manusia untuk menghadirkan Tuhan ditengah ketakutan. Ketakutan memberikan kekuatan baru untuk meenghadirkan Tuhan agar terbebas dari musibah tersebut. Hal inilah yang dimaksud dalam kajian akademis keagamaan sebagai “politheisme” yang menjadi akar masalah dari keber-agama-an sebagai sesuatu yang sangat dikhawatirkan. Lebih tepatnya ada Tuhan baru yang muncul dari gejolak ketakutan.

Poin tentang “Tuhan baru dalam ketakutan” tidak begitu penting. Yang paling penting saat ini adalah kita menginginkan keseriusan kerja manusia, sebab yang mengalami musibah pahit ini adalah manusia yang sama-sama juga seperti kita. Ini semua adalah otoritas manusia.

BACA JUGA:   Edukasi: Apa itu Literasi? Lihat Arti Literasi Berikut Ini

Betulkah kecelakaan serta musibah adalah misteri dalam kehidupan manusia ?

Bukankah kapal yang memuat manusia adalah buatan manusia, bukankah lautan adalah samudera semesta yang dititipkan untuk manusia mengerti dan manfaatkan ? Kita tidak bisa berharap ini semua selesai jika dikembalikan kepada Tuhan, itu bukan solusi dari manusia yang diberi amanah untuk bertanggungjawab atas kehidupan sesamanya di semesta ini.

Jadi ini bukan sebuah tragedi yang harus selesai dengan jawaban “ini merupakan bencana kemanusiaan” dan seolah itu kata simpatik atas musibah yang menimpa saudara-saudari, ibu, anak, bapak, kakek kita semua. Tidak harus berakhrir dengan kata “bencana kemanusiaan”.

Telah banyak peristiwa di bumi pertiwi ini yang membuat kita mengalami sakit berkepanjangan atas lidah manis yang mengucap “bencana kemanusiaan”. Perlu diluruskan bahwa kemanusiaan bukan jasad manusia tetapi sikap dan perilaku tawadhu untuk sepenuhnya hidup harmonis dan mengelola semesta dan hidup makmur bersama.

BACA JUGA:   Malaba: Dibawah Kepemimpinan Rano, LKBHMI PBHMI Semakin Progresif

Artinya kematian yang menghampiri sanak saudara-saudari, ayah, ibu, anak, nenek, kakek kita dilaut bisa berarti kesengajaan membunuh kemanusiaan tersisah yang masih layak hidup di bumi pertiwi ini. Maka kita harus sama-sama intropeksi diri dan meluruskan sudut pandang kita tentang “bencana kemanusiaan” tersebut.

Selamatkanlah hidup mereka maka dari itu akan dimengerti kemanusiaan itu, ada ibu dan anak yang ada pada potret serta keluarga manusia yang mengdapi gelombang pasang dengan napas di ujung rambut.

Kita sama-sama bertanggung jawab untuk ini, semoga bukan sebuah bencana tetapi awal kehidupan yang harus dijalani atas penyelamatan terbesar saat ini. Semoga tulisan untuk bukan untuk diperdebatkan tetapi sebagai bahan evaluasi bersam atas kerja kita untuk saling menjaga satu sama lain. Semoga kita semua mendapat petunjuk terbaik dari Tuhan. Amiin

Oleh: Akbar
(Kabid PA Badko HmI Sulselbar)