Opini: HUT RI Ke 73, Refleksi Amanah Kemerdekaan

oleh

Lensapos.com – Amanah kemerdekaan dapat diartikan sebagai sesuatu yang dipercayakan (dititipkan kepada orang lain) melibatkan dua pihak yaitu si-pemberi amanah dan si-penerimah amanah. Beban amanah kemerdekaan tertuang dalam pancasilah dan isi UUD 1945 menarik untuk direfleksi secara historis. Momen kemerdekaan, sudah menjadi tradisi untuk selalu disambut dengan kegiatan perlombaan yang spektakuler diadakan hampir di setiap wilayah dibarengi dengan kibaran merah- putih.

Merah-putih masih sering penulis saksikan dikibarkan di depan rumah warga yang beratap dari daun rumbia, berlantaikan tikar bersentuhan langsung dengan tanah di pelosok-pelosok Desa. Meski Desa tersebut termasuk wilayah tertinggal. Infrastruktur tidak memadai tapi spirit perjuangan untuk memperoleh bendera dan mengibarkan merah-putih patut diapresiasi oleh semua kalangan.

Penghuni rumah jelas masih dalam kategori ekonomi lemah, tapi dengan kebanggaan merah-putih di pasang tinggi untuk dikibarkan. Seakan itu sebagai pesan bagi setiap warga yang melintasi bahwa mereka juga adalah salah-satu bagian dari bangsa ini, anak-anaknya juga adalah sebagian dari generasi pelanjut penentu masa depan Indonesia yang harus dibina, diberikan pendidikan.

BACA JUGA:   Momentum Hari Buruh (May Day)

Mereka percaya bahwa akan ada suatu masa dibawa kibaran bendera mereka juga akan dibukakan pintu masa depan dan berkontribusi untuk Indonesia yang jauh lebih baik, sejahtera tanpa menjadikan moment kemerdekaan sebagai formalisme ritualistik belaka.

Infrastruktur di Desa dan kemampuan ekonomi bisa saja kurang memadai, aktifitas keseharian hanya cukup untuk makan. Makan bukan untuk kenyang tapi mereka makan untuk bertahan hidup. Ketinggalan berita yang di tayangkan di media sosial, dianggap kurang gaul (istilah anak muda jaman now) tapi kecintaan terhadap tanah air luar biasa mereka mencintai merah putih tanpa syarat.

Para penikmat kemerdekaan perlu merefleksi kembali sejarah perjuangan para founding father atau para perintis kemerdekaan di masa kolonial, bahwa Indonesia pernah mengalami krisis ekonomi semua serbah susah berselang kolonialisme angkat kaki dari bangsa ini.

BACA JUGA:   Opini: Reformasi Sistem Penegakan Hukum atau Mental Penegak Hukum Kita Yang Koruptif"

Memperingati HUT RI yang ke-73 tahun, dengan status masih termasuk Negara berkembang. Kemerdekaan Indonesia bukan hanya untuk mengusir kolonialisme, tapi hal fundamental ialah untuk melindungi, mencerdaskan dan memberikan keadilan tanpa ada diskriminasi suku, ras dan agama sesuai cita-cita para founding father yang tercantum dalam Pancasila dan isi Pembukaan UUD 1945.

Amanah kemerdekaan merupakan bagian dari beban tanggung jawab, salah satu unsur dari pandangan hidup manusia, atau suatu harapan yang ingin digapai oleh setiap individu melalui ikhtiar.

Namun sebuah kekecewaan jika amanah tersebut disetiap momen kemerdekaan hanya berakhir dengan kata sabar dan mohon maaf bagi mereka yang belum memperoleh keadilan, kesejahteraan, dan juga yang belum menikmati infrastruktur yang memadai di pelosok Desa.

Sungguh aneh, jika momen kemerdekaan dirayakan tanpa ada kesadaran historis. Kembalilah merefleksi amanah dan sejarah perjuangan sesuai yang diungkapkan oleh bapak Proklamator Republik Indonesia¬† Ir.Soekarno,¬† “jangan sekali-kali melupakan sejarah” karena jika tidak, maka itu hanya akan menjerumuskan individu kepada kegiatan seremonial belaka. Lebih parah lagi ketika individu hanya bangga memakai atribut kemerdekaan tapi apatis terhadap problem sosial dan enggan melakukan perubahan.

BACA JUGA:   Opini: Rocky Gerung Vs Tuhan Telah Mati

Olehnya itu, merayakan hari kemerdekaan semestinya ikut mengevaluasi kinerja dan merefleksi amanah dari para founding father. Biarkan para pengibar merah putih di pedesaan ikut tersenyum, dengan merasakan amanah kemerdekaan yang sesungguhnya.

Oleh; M. Rusdi
(
Dosen Ilmu Manajemen Pendidikan. FAI. STAI AL-Amanah Jeneponto Sul-Sel)
Email; rusdigallarang@yahoo.com.id