Opini: Pilpres 2019, Pilih Siapa dan Dapat Apa?

oleh
Muh Aswar Darwis lepasan Advance Training HMI Badko Sulselbar dan juga salah satu pendiri Nusantara Institute. (Foto/IST).

Lensapos.com – Melihat 1 tahun teraakhir ini, dinamika perpolitikan di Indonesia begitu ramai dan itu suguhan sedap untuk rakyat Indonesia.

Pada Pemilihan Umum Presiden 2014 lalu, salah satu alasan kenapa sebagian tidak memilih calon Presiden Prabowo Subianto, didasari atas keterlibatannya dalam berbagai kasus pelanggaran HAM di masa lalu.

Ada kesadaran yang luas bahwa agar negara dan rakyat bisa bangkit dari keterpurukannya, maka dibutuhkan pemimpin yang tak terkait atau terbebani dengan berbagai persoalan berat di masa lalu. Itu sebabnya, Jokowi menjadi alternatif yang ideal.

BACA JUGA:   Gaya Hidup dalam Perspektif "Valentine Day"

Ia tidak terlibat kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu, ia juga bukan bagian dari gurita oligarki yang bersifat parasit.

Akan tetapi, jika mengamati saat ini, dinamika perpolitikan di Indonesia jauh berbeda dengan persoalan 2014 lagi.

Heran saja, pada tahun 2019 akan digelar pesta demokrasi Pemilihan Presiden lagi. Namun jika menelisik lebih jauh pada pemilihan presiden 2019 ini hanya terdapat gengsi para elit di Indonesia. Sebagian masyarakat pun menjemput euforia itu dan meramu hingga masuk ke sendi-sendi kehidupan sehari -hari.

BACA JUGA:   Optimis Menangkan Partai Demokrat di Pemilu, Ahy: Hati Ketemu Hati

Bukan mengakomodir suara-suara akar rumput untuk diterjemahkan di ruang kebijakan dan mengimplementasikannya, namun lebih kepada meninggikan gengsi. Dinamika ini telah jauh diramalkan oleh seorang ilmuwan politik, ekonom politik, dan penulis Amerika Serikat yakni Francis Fukuyama.

Dalam bukunya “The End Of History – 1989“, Francis Fukuyama mengatakan kondisi demikian akan menghadirkan karakter kecacatan dan irasional yang mengakibatkan keruntuhan bentuk pemerintahan.

BACA JUGA:   Begini Gaya Jokowi Saat Lihat Motor Kesayangannya di IIMS 2018

Berharap kepada masyarakat agar tidak mudah tergiring oleh isu-isu yang membuat kita ada sekat.

Terkhusus masyarakat Sulawesi Selatan akan menghadirkan dinamika perpolitikan yang hanya menghadirkan gengsi pertarungan. Hal demikian tidak akan memberikan efek positif untuk masyarakat sulawesi selatan. Kalau hanya seperti ini, pendidikan politik yang disuguhi masyarakat lebih baik tahun 2019

Tak usah ada pemilihan presiden karena kita pilih siapa dan dapat apa, hanyalah bayang semu.