Ada Yang Hilang Dari Diri Mahasiswa

oleh

Lensapos.com – “Mahasiswa” itulah sebutan bagi sekelompok orang yang terdaftar diperguruan tinggi baik swasta maupun Negeri yang sadar akan hak dan kewajibannya. Namun pada satu sisi muncul sebuah pertanyaan “apakah mahasiswa masih sadar akan hak dan tanggung jawabnya?”.

Saya masih ingat saat baru pertama kali menginjakkan kaki di salah satu Perguruan Tinggi di Makassar, saat itu salah satu senior masuk kedalam kelas saya dan menjelaskan bagaimana mahasiswa seharusnya, dengan suara lantang ia menjelaskan bahwa fungsi mahasiswa adalah “Agent of change, social of control, agent of analitics” saya menjadi terpukau mendengar kata-kata tersebut, saya sadar bahwa semua ini bukanlah sebuah kebetulan, sehingga saya menjadikan kejadian tadi sebagai suatu spirit agar lebih giat belajar agar bisa seperti beliau. Ini hanya sepenggal kisah nostalgia saja, karna kalau dijelaskan lebih detail bisa-bisa mebutuhkan waktu yang panjang untuk penulis dan pembaca, kurang lebih sepanjang jalan kenangan (garing).

Tiga tahun telah berlalu dan saya banyak menghabiskan waktu dengan berdiskusi dan bercumbu dengan buku. Hingga pada saat Tuhan membuat ruang dan waktu bersepakat lalu menggiring saya untuk membuat tulisan sederhana sebagai buah dari perjalanan selama tiga tahun di menjalani status sebagai seorang mahasiswa.

BACA JUGA:   Putusan KPU Makassar Buat DIAmi Gigit Jari

Berkaca dari keberhasilan gerakan mahasiswa dalam menjalankan tugasnya sebagai penyambung lidah rakyat yang terjadi di era 1908-1998 mulai dari mengagalkan pengesahan kebijakan yang dianggap merugikan masyarakat hingga keberhasilan gerakan mahasiswa dalam menumbangkan rezim Soeharto yang terkenal otoriter. Namun akan menjadi suatu kecelakaan apabila kita terlalu terjebak pada persoalan sejarah yang berujung pada pemujaan terhadap sejarah dan membanggakan sejarah secara berlebihan yang dapat berujung pada mandulnya semangat perjuangan mahasiswa saat ini.

Melihat fenomena mahasiswa saat ini yang lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kelas dengan fasilitas mewah yang membuatnya lupa akan akan tanggung jawabnya sebagai seorang mahasiswa. Tentu hal ini tidak terlepas dari hembusan napas sistem neoliberal yang merambah hampir semua kebijakan pemerintah, mulai dari kebijakan politik, ekonomi hingga pendidikan. Hingga J.Lacan mengasumsikan mahasiswa sekarang sebagai “New Spirit Of Capitalism”.

BACA JUGA:   Mahasiswa KKN UNM Ang. XXXVIII Lakukan Kegiatan Kota "Menyala" Takalar

Slavoj Zizek telah memperingatkan kita tentang satu gejala yang muncul dalam transformasi-transformasi kapitalisme: gejala untuk menikmati kapitalisme. Fenomena inilah yang mengiringi apa yang disebut “New Spirit Of Capitalism” yang menurut Zizek berkembang melalui organisasi-organisasi berbasis jaringan yang bersifat otonom. Dengan logika ini kapitalisme hadir dengan mengeksploitasi hasrat manusia untuk menikmati proses yang ia tawarkan.

Kapitalisme tidak lagi mengeksploitasi status simbolik atau utilitas yang dimiliki oleh sebuah produk melainkan pengalaman yang disediakan oleh produk tersebut. Dengan kata lain kapitalisme manikmati hasrat manusia yang muncul dari rasa nyaman ketika ia menikmati produk tersebut. Propaganda kapitalisme sekarang berktat pada beberapa diksi seperti “Nikmati”, “Nyamankan Dirimu!” dan lain sebagainya, tidak lagi memberikan pilihan-pilihan utilitas kepada orang-orang untuk memilih, melainka untuk menikmati parade yang ditampilkan oleh jejaring-jejaring kapitalisme.

Dalam konteks gerakan mahasiswa kecenderungan sama juga dapat kita lihat. Alih-alih melakukan kritik, gerakan mahasiswa justru dihadapkan pada kenikmatan dengan fasilitas mewah, dan fantasi bersetubuh dengan birokrasi. Hal ini yang membuat status mahasiswa menjadi kian absurd. Kapitalisme tidak menghambat seseorang untuk menjadi mahasiswa, tetapi menawarkan kenyamanan-kenyamanan yang membuat mahasiswa akhirnya menikmati statusnya sebagai mahasiswa yang sifatnya pseudo (semu).

BACA JUGA:   Koordinator BEM SI: Negara Semena-mena, Gelombang Mahasiswa Akan Bergejolak

Apa yang terjadi saat ini adalah implikasi dari sistem neoliberal yang menghilangkan kesadaran mahasiswa akan hak dan kewajibannya. Maka sudah seharusnya mahasiswa kembali kepada tugasnya sebagai seorang emansipator dalam stratifikasi kehidupan sosial masyarakat.

Gerakan mahasiswa sekarang perlu menemukan kesadarannya yang hilang dan kembali kepada aktivitas yang paling mendasar (pengkaderan, pengorganisiran aksi, dan literasi) sebagai suatu garis demarkasi mana yang mahasiswa dan pseudo mahasiswa. Mungkin melalui basis ini gerakan mahasiswa akan lebih bermakna bagi rakyat ketimbang hanya menikmati fasilitas kampus dan menikmati klimaksnya bersetubuh dengan birokrasi.

Oleh: Sutrisno

(Sekbid Humas dan Advokasi HMJ Agribisnis Unismuh Makassar)
(*)