Esai: China Pasca 40 Tahun Reformasi

oleh

Lensapos.com – Barangkali tanpa keberanian Deng Xiaoping meniupkan trompet reformasi dan keterbukaan, China bukanlah negara yang sekarang kita kenal dengan prestasinya di pelbagai hal, terutama di bidang ekonomi yang menempatkannya sebagai negara terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Dalam hal ini Deng Xiaoping sang reformis pantas rasanya untuk dipuji sebagai aktor di balik keberhasilan China.

China di bawah Mao Zedong

Pasca kemenangan Partai Komunis China atas kaum nasionalis, Mao Zedong tampil sebagai pemimpin tertinggi PKC dan presiden RRC. Proyek ambisius pun segera dikumandangkan demi mengangkat marwah komunis China di mata dunia. Terutama lawan politiknya dari negara-negara kapitalisme barat. Mao Zedong yang berorientasi pada perjuangan revolusioner proletar melawan kaum borjuis menjadi sosio-historis lahirnya gerakan Seratus Bunga Berkembang, Lompatan Jauh Ke Depan, dan Revolusi Kebudayaan.

China di bawah kepemimpinan Mao Zedong dapat dibagi menjadi dua dekade. Dekade pertama (1949-1957) adalah proses kebijakan industrialisasi berat, yakni peralihan dari sektor pertanian ke sektor industri. Kategori kedua ditandai dengan krisis ekonomi (1956-1962) dan pergolakan politik (1962-1969).
Pada masa awal kepimpinannya kebijakan yang diambil Mao Zedong yaitu dengan melakukan peralihan dari industri ke sektor pertanian demi meningkatkan produksi pangan. Kebijakan itu digaungkan ke seluruh daratan China setelah pemerintah mengeluarkan Hukum Penerbitan Tanah (landreform law). Kebijakan itu mengakibatkan tanah milik perorangan diambil alih menjadi milik negara untuk dibagikan kepada masyarakat. Akibatnya, ribuan orang yang bekerja di pabrik di kembalikan ke desa untuk memajukan pertanian.

BACA JUGA:   Bangkrutnya Wacana Keislaman di HMI

Gerakan “Seratus Bunga Berkembang” yang digaungkan Mao Zedong dimaksudkan untuk mewadahi para intelektual untuk memberikan sumbangan pikiran dalam menilai dan mengkritik kinerja pemerintah dari instansi yang paling rendah hingga tinggi. Kritik pun datang bertubi-tubi dari para intelektual China yang pada akhirnya memantik Mao membuat kebijakan baru, yaitu “Anti Kanan” dalam rangka mengkampanyekan gerakan “Lompatan Jauh Ke Depan” sebagai cita-cita ambisius Mao Zedong mengungguli negara kapitalisme dalam waktu singkat akibat “perang dingin” yang membuat China terisolasi.
Akan tetapi, kebijakan yang dibuat Mao Zedong dari tahun 1949-1958 menyebabkan tidak kurang 43 juta orang meninggal karena bencana kelaparan. Di desa-desa mayat-mayat bergelimpangan dan kematian mengintai setiap saat. Bahkan, angka kemiskinan mencapai 97%, barulah setelah reformasi angka kemiskinan di China turun menjadi 3% hari ini.
Revisionisme Deng Xiaoping.

Kematian Mao Zedong pada tahun 1976 menjadi titik balik karir politik Deng Xiaoping yang kemudian diangkat menjadi orang nomor satu di negeri komunis itu. Pemikiran ekonomi Deng Xiaoping bisa dikatakan antitesis dari pemikiran Mao Zedong yang condong pada sosialisme tua: Marxisme-Leninisme. Dalam konteks ini Deng Xiaoping dengan gigih mengevaluasi kebijakan yang dibuat Mao. Deng Xiaoping juga menghormati nilai kemanusiaan dengan menghargai intelektualitas dan keja keras seseorang. Itulah yang membangkitkan rakyat China sekaligus mematahkan doktrin “sama rata sama rasa”. Pemikiran revisionisme Deng Xiaoping mengingatkan kita pada pemikiran Adam Smith dan Max Waber tentang semangat kapitalisme.

BACA JUGA:   Opini: Reformasi Sistem Penegakan Hukum atau Mental Penegak Hukum Kita Yang Koruptif"

Pada tahun 1978 Deng Xiaoping berupaya memulihkan ekonomi China dengan menggaungkan Gaige Kaifang (Reformasi dan Keterbukaan). Reformasi China ditandai dengan mengembalikan tanah kepada pemiliknya. Deng Xiaoping memotori modernisme di China dengan cepat mengembangkan konsep zhonggou te se de shihui zhuyi atau sosialisme dengan karakteristik China. Dalam bahasa politis China dikenal “Ekonomi Pasar”.

Konsep ini pada akhirnya menjadi legitimasi China di kemudian hari untuk menggantikan sistem ekonomi komando terpusat ala Mao Zedong yang otoriter, di mana alat industri dinasionalisasi menjadi milik negara, dan industri berat digalakkan. Sosialisme Pasar menandai wajah China yang baru, yang membuka diri bagi investasi asing. Kebijakan yang haram di masa Mao Sedong. Justru konsep itu memberikan sumbangsih luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi China.

Pada tahun 1980-an, China menciptakan Zona Ekonomi Khusus (Special Economic Zones) di propinsi Guangdon dan Fujian, yakni dengan memberikan pelbagai kemudahan bagi investor, di antaranya adalah keringanan pajak. Reformasi ekonomi China dimulai di sektor pertanian dengan mengembalikan hak milik terutama hak tanah, juga meliberalisasi harga produk pertanian dan mengembangkan pasar domestik. Keberhasilan reformasi di pertanian mengakibatkan ribuan orang bermigrasi ke sektor pertanian yang mencatat 80% penduduk Cina bekerja di sektor pertanian. Seiring bergulirnya reformasi ekonomi, pelbagai kebijakan pun dibuat pemerintah Cina. Hal itu dilakukan guna mengatasi persoalan yang hilir-mudik.
Pasca 40 reformasi dan keterbukaan di China, bukan hanya bidang ekonomi yang patut diacungi jempol, tetapi juga pelbagai bidang. Sebut saja militer, teknologi, kesehatan, dan “liberalisasi” pendidikan dengan cara mengirim mahasiswa studi keluar negeri.

BACA JUGA:   Yudi Latif: Cermin Kebenaran

Deng Xiaoping percaya mereka akan kembali untuk membangun bangsanya. Kini ekonomi China mulai melebarkan sayapnya di mana produk China hampir menyentuh pelbagai sektor di belahan dunia. Angin perubahan yang ditiupkan Deng Xiaoping berhasil mengibarkan bendera China tegak berdiri sebagai salah satu negara dengan kekuatan ekonomi raksasa di dunia. Deng Xiaoping Juga berhasil merevisionis sosialisme rasa kapitalisme, upaya yang gagal dilakukan Gorbachev di Sovyet dengan glasnost dan perestroikanya.

Biodata Penulis

Ade Mulyono. Penganut mazhab humanis radikal. Tulisanya dimuat di Radar Surabaya, Bangka Pos, Padang Ekspres, Harian Analisa, Koran Merapi, Minggu Pagi, Pikiran Rakyat dan media daring. Novel perdananya Lautan Cinta Tak Bertepi (2018)